Denpasar (Atnews) — Fenomena antrean panjang kendaraan yang meluas di berbagai SPBU wilayah Bali akibat kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) memicu kekhawatiran dari kalangan akademisi. Gangguan pasokan BBM dinilai bukan sekadar masalah kemacetan di jalan raya, melainkan berpotensi melumpuhkan aktivitas ekonomi lokal.
Akademisi Prof. Raka Suardana menilai kondisi kelangkaan BBM di sejumlah daerah berpotensi mengganggu stabilitas perekonomian rakyat secara signifikan. Menurutnya, hambatan pasokan BBM secara otomatis memicu kenaikan biaya transportasi dan mengganggu kelancaran distribusi barang antarwilayah.
"Dampak paling signifikan akan dirasakan oleh sektor pangan, terutama komoditas yang mudah rusak seperti sayuran, ikan, dan daging. Keterlambatan pengiriman akibat krisis energi ini dapat menurunkan kualitas barang sekaligus membengkakkan biaya logistik," kata Prof. Raka Suardana dalam keterangannya di Denpasar, Selasa (13/10).
Lebih lanjut, Prof. Raka memperingatkan bahwa keterlambatan rantai pasok tersebut berisiko mendorong kenaikan harga bahan pokok di tingkat konsumen. Kondisi ini dinilai berpotensi memperbesar disparitas harga antardaerah serta menekan daya beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang rentan.
Guna mencegah dampak sistemik yang lebih luas, ia mendesak pemerintah untuk segera memperkuat pengawasan stok di lapangan dan memastikan penyaluran BBM berjalan tepat sasaran. Menurutnya, armada transportasi logistik serta distribusi pangan harus mendapatkan prioritas utama dalam jaminan pasokan BBM.
Prof. Raka juga menyoroti pentingnya langkah kolaboratif cepat antara seluruh pemangku kepentingan. Ia menegaskan bahwa koordinasi yang solid antara pemerintah daerah, Pertamina, Bulog, dan para pelaku usaha menjadi kunci utama saat ini untuk menjaga kelancaran pasokan, menstabilkan harga barang pokok, serta mengendalikan laju inflasi daerah. (YOG/001)