Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Berita media massa menyebutkan bahwa jumlah masyarakat yang mendapatkan Cek Kesehatan Gratis(CKG) terus ditingkatkan oleh pemerintah. Ruang lingkup pemeriksaannya juga terus berkembang. Pada daerah/keadaan tertentu antara lain diberitakan tentang adanya pemeriksaan untuk deteksi tuberkulosis dengan pemeriksaan ronsen X Ray dada yang dilengkapi teknologi artificial intelegence (AI), dan ada lima hal yang dapat disampaikan tentang hal ini.
Pertama, tentu penemuan kasus TB harus ditingkatkan karena ini bukan hanya perlu untuk mengobati yang sakit tapi untuk memotong rantai penularan. Karena ini amat menyambut baik kalau skrining TB di masukkan dalam CKG, dan ini sudah saya sampaikan peda beberapa kesempatan ketika CKG di mulai tahun yang lalu. Tentu usulnya ini agar konsisten dilakukan, pada seluruh CKG di seluruh Indonesia. Saya tidak punya data tentang berapa persen CKG kita yang sudah melibatkan skrining TB dengan alat memadai.
Ke dua, khusus untuk X Ray dengan AI, maka hasilnya belumlah diagnosis pasti TB atau bukan. Kalau hasil positif maka perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan TCM untuk memastikan diagnosisnya. Jadi, X Ray dengan AI akan membantu proses skrining, sehingga lebih banyak masyarakat umum yang bisa terdeteksi terduga TB untuk proses diagnostik selanjutnya. Artinya, kegiatan skrining dengan X Ray AI harus dipastikan diteruskan dengan kegiatan diagnosis untuk mendapatkan kepastian selanjutnya.
Ke tiga, sekarang juga berkembang berbagai metode “near point of care – NPOC” sesuai rekomendasi WHO. Baiknya juga ada NPOC yang dimasukkan dalam program CKG, tentu dengan kriteria dan syarat tertentu untuk keadaan tertentu pula, sesuai dengan bukti ilmiah yang ada, dan baiknya juga sesuai dengan rekomendasi WHO.
Ke empat, harus ada jaminan bahwa kalau di temukan TB dari hasil skrining yang bermula dari CKG maka harus dijamin pasiennya mendapat pengobatan TB sampai tuntas. Penemuan Kasus harus berjalan bersama-sama dengan pengobatan sampai selesai, tuntas dan sembuh, dan untuk ini perlu ada jaminan sistem pengendalian dan pengawasan pengobatan yang baik.
Ke lima, keberhasilan CKG (termasuk untuk TB) akan sangat bergantung dari peran serta masyarakat. Jadi keterlibatan aktif masyarakat perlu jadi kegiatan amat penting. Dan akan baik kalau selama CKG juga diberikan penyuluhan kesehatan, karena kita tahu bahwa pemahaman masyarakat merupakan salah satu kunci bagi semua program kesehatan, dan memang harus “dimanfaatkan” masyarakat yang sudah datang / berkumpul untuk CGK untuk mendapat literasi kesehatan juga.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Dokter Spesialis Paru sejak 40 tahun yang lalu dan Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara dan Mantan DirJen Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan