Oleh Jro Gde Sudibya
Fundamentalisme agama yang memicu terorisme, bentuk dari kejahatan hitam (Black Crimes) merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus terus diwaspadai dan juga terus dilawan.
Sebagai daerah tujuan wisata dunia, sikap ramah, hangat, bersahabat terhadap para wisatawan mesti terus dipupuk, tanpa kehilangan kewaspadaan terhadap risiko dari begitu banyak hadirnya para pendatang.
Citra (brand) Bali begitu kuat, 10 bulan pasca Bom Bali Satu, 12 Oktober 2002, 10 bulan kemudian, Agustus 2003, wisatawan Australia datang dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan sebelum Bom Bali Satu. Equity Brand yang harus dijaga dan dirawat, tidak lagi sekadar "take it for granted", mengelola industri pariwisata seadanya dan kemudian mengharapkan wisatawan akan terus berdatangan.
Pasca 50 tahun industri pariwisata, sudah sepantasnya kita berefleksi untuk menghitung ulang kemanfaatan industri ini dengan totalitas biaya yang telah dikorbankan. Biaya lingkungan,kesenjangan ekonomi dan degradasi kultural.
Ketergantungan ekonomi kita berlebih terhadap industri pariwisata dalam artian luas, industri: hotel, restoran, perdagangan, jasa wisata, industri kerajinan, perbankan, transportasi dan jasa konstruksi, membuat perekonomian Bali menjadi tidak stabil dan rentan risiko, sehingga diversifikasi ekonomi Bali ke depan menjadi semakin penting.
Berbagai isu penting tentang: pembangunan Bali Berkelanjutan, "quality tourism", pariwisata berkeadilan, pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan, tidak cukup sekadar wacana di tingkat elite, tetapi menjadi program aksi dengan tolok ukur kinerja yang jelas, dibarengi dengan kesadaran umum publik tentang penting dan urgennya isu ini sebagai program aksi bersama.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi pariwisata dan kecenderungan masa depan.