Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas YARSI (ist/atnews)
Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Pada 10 Oktober 2026 Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas YARSI menyelenggarakan acara Pekik Maba, atau Pekan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru. Acara ini ditujukan pada 133 orang mahasiswa baru semester ganjil 2026, yang meliputi 42 dari Program Studi (Prodi) Magister Kenotariatan, 18 dari Magister Manajemen, 23 dari Magister Administrasi Rumah Sakit, 25 dari Magister Biomedik dan 15 orang dari Prodi Doktor Biomedik.
Selain itu, kegiatan ini juga untuk mahasiswa baru semester genap 2025-2026 sejumlah 36 orang, jadi total 149 mahasiswa pascasarjana. Acara dihadiri oleh pimpinan Universitas (Wakil Rektor 3 dan Sekertaris Universitas), pada Kepala dan Sekertaris Program Studi, teman-teman Dosen, Tenaga Kependidikan (Tendik) , perwakilan Himpunan Mahasiswa (Hima) dan para alumni, dan tentu yang utama adalah para mahasiswa baru, sebagaimana dalam foto ini.
Seperti diketahui, mahasiswa -sarjana dan pascasarjana- mengikuti pendidikan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal masa depannya, dan juga tentu gelar dan ijazah. Perjalanan pendidikan tentu tidak mudah, dan untuk mahasiswa baru pascasarjana maka bukan tidak mungkin tantangannya lebih besar lagi.
Sebagian mereka sudah berkeluarga, atau sibuk bekerja, dan tentunya mereka sudah jadi sarjana jadi perlu tekad lebih kuat lagi untuk melanjutkan pendidikan.
Pada kesempatan Pekik Maba SPS YARSI saya sampaikan lima motivasi bagi para mahasiswa baru pascasarjana. Tiga yang pertama adalah tentang manfaat menempuh pendidikan pascasarjana, selain mendapat gelar dan ijazah. Dua motivasi berikutnya adalah tentang mengatasi tantangan yang ada.
Motivasi pertama adalah “Anyone who stops learning is old, whether at twenty or eighty years old. Anyone who keeps learning stays young”. Artinya, dengan terus belajar maka kita dapat tetap menjaga semangat dan spirit muda. Jadi berapapun umur kita maka hars tetap belajar, termasuk mengikuti program pascasarjana.
Ke dua, saya kutip dari Albert Eistein yang menyebutkan “Hidup itu seperti bersepeda. Kalau kamu ingin menjaga keseimbanganmu, maka kamu harus terus bergerak maju." Jadi, memang kita harus terus bergerak maju, termasuk melakukan pendidikan pascasarjana. Motivasi ke tiga, “Tidak ada seorang pun yang bisa kembali ke masa lalu dan memulai awal yang baru lagi. Tapi semua orang bisa memulai hari ini dan membuat akhir yang baru”.
Kembali ini menunjukkan bahwa mulailah sesuatu yang baik hari ini, untuk mendapat akhir yang baik. Yang lalu tentu tidak dapat kembali lagi.
Untuk mahasiswa pascasarjana yang merasa sulit untuk belajar maka saya sampaikan motivasi ke empat dari Imam Syafi’i, "Barangsiapa tidak mau merasakan pahitnya belajar, ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya." Ini penting untuk menjadi motivasi utama untuk terus belajar.
Yang kelima, sengaja saya pilihkan untuk mahasiswa pascasarjana yang mengeluh tidak ada waktu karena sibuk dengan pekerjaan, keluarga dan hal kehidupan lain. Motivasi ke lima ini amat jelas, “Don’t say you don’t have enough time. You have exactly the same number of hours per day, that were given to all Nobel Price Winners and Global Leaders”.
Semoga lima motivasi ini dapat memicu dan menyemangati para mahasiswa baru pascasarjana, dan bagi mereka-mereka yang masih “pikir-pikir” untuk melanjutkan pendidikan ke pascasarjana.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI Menjalani pendidikan berbagai jenjang di Universitas Indonesia, Research Institute of Tuberculosis Tokyo Jepang dan London School of Hygiene Tropical Medicine Inggris.