Bangli (Atnews) - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementrian Agama, Prof. I Nengah Duija menghadiri Muspayang Bhakti Pepranian Karya Agung Madewasraya di Pura Kahyangan Jagat Tuluk Biyu Batur, Selasa (6/10/2026).
Karya itu kembali dilaksanakan setelah 20 tahun, pada 2006. Acara itu menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk memperkuat bhakti, menjaga keseimbangan alam, sekaligus merawat warisan sejarah agar tetap dipahami generasi mendatang.
Tradisi keagamaan yang memiliki nilai spiritual dan historis tersebut berlangsung di Pura Tuluk Biyu Batur, Kintamani, Bangli, dalam rangkaian Karya Agung Madewasraya dan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat Tahun Saka 1948, sejak 28 Agustus hingga 11 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua PHDI Provinsi Bali yang diwakili Prof. I Made Pageh, Pamucuk Pura Tuluk Biyu, Penglingsir Desa Adat Batur/Kintamani, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Bangli, serta unsur Forkopimda Provinsi Bali dan Kabupaten Bangli, Ketua Pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali Dr Putu Agung Prianta,B.Eng (Hons.), MA, Ketua Panitia I Wayan Gunawan.
Kehadiran Dirjen Bimas Hindu menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan tradisi keagamaan yang tidak hanya memiliki dimensi ritual, tetapi juga memuat pesan tentang hubungan manusia dengan alam serta pentingnya pelestarian sejarah.
Ditetapkan Pura Tuluk Biyu sebagai Pura Kahyangan Jagat tersebut ditandai dengan penandatanganan Prasasti Air Hwang Tuluk Biyu oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, pada Sabtu (26/9/2026).
Prosesi itu bertepatan dengan Puncak Karya Agung Madewasraya yang jatuh pada Purnama Kapat.
Penetapan status Kahyangan Jagat itu merujuk pada rekomendasi resmi Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat dan PHDI Provinsi Bali. Langkah tersebut didasarkan atas keberadaan bukti-bukti otentik peninggalan bersejarah yang tersimpan kuat di pura tersebut.
Pada kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Karya Agung Madewasraya.
Menurutnya, pelaksanaan karya tersebut merupakan bentuk bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa sekaligus momentum untuk membangun kesadaran manusia dalam menjaga keberlangsungan alam semesta.
“Apa pun rezeki yang diberikan Tuhan, itulah yang kita kelola dan persembahkan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita telah mendapatkan rezeki, jangan lagi meragukan keberadaan Beliau. Karya ini menjadi salah satu bentuk rasa syukur sekaligus upaya memohon perlindungan Tuhan dalam menjaga keberlangsungan alam semesta dari berbagai ancaman akibat kecerobohan manusia dalam menyeimbangkan alam,” ungkap I Nengah Duija.
Ia menilai pelaksanaan Madewasraya yang berlangsung setiap dua dekade memiliki nilai sejarah yang perlu diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya.
Karena itu, sejarah dan perjalanan karya tersebut perlu didokumentasikan secara sistematis, termasuk dituangkan dalam aksara Bali agar dapat dibaca, dipelajari, dan dipahami ketika pelaksanaan upacara kembali digelar.
“Lelintihan atau sejarah Karya Agung Madewasraya ini perlu disurat dalam aksara Bali. Ketika karya kembali dilaksanakan, sejarahnya dapat dibacakan sehingga generasi muda memahami perjalanan tradisi dan nilai yang diwariskan oleh para leluhur,” katanya.
Menurutnya, Pura Tuluk Biyu Batur memiliki kedudukan penting dalam khazanah keagamaan Hindu di Bali.
Pura yang memiliki keterkaitan dengan sejarah kerajaan pada masa lampau tersebut merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat. Jejak sejarah yang tercatat dalam sejumlah prasasti menjadi sumber penting untuk memahami perjalanan tradisi dan keberadaan pura.
Dirjen menekankan, pelestarian warisan keagamaan tidak cukup dilakukan dengan menjaga bangunan fisik pura.
Pengetahuan, sejarah, tradisi, serta nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu dirawat dan diwariskan. Dokumentasi sejarah menjadi penting agar generasi muda tidak hanya memahami prosesi ritual, tetapi juga mengetahui latar belakang, makna, dan perjalanan tradisi yang diwariskan leluhur.
Rangkaian Karya Agung Madewasraya dan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat Tahun Saka 1948 berlangsung sejak Jumat (28/8/2026) dan dijadwalkan berakhir pada Minggu (11/10/2026).
Berbagai rangkaian bhakti dan ritual keagamaan dilaksanakan sesuai dengan tata upacara yang telah ditetapkan.
Muspayang Bhakti Pepranian pada Selasa (6/10/2026) menjadi salah satu bagian dari rangkaian karya yang mempertemukan pengempon, prajuru adat, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan tradisi keagamaan.
Karya Agung Madewasraya menunjukkan bahwa tradisi keagamaan yang diwariskan lintas generasi tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan spiritual umat, tetapi juga menyimpan pengetahuan tentang sejarah, kebudayaan, dan hubungan manusia dengan alam.
Merawat seluruh nilai tersebut menjadi bagian penting dari upaya memastikan warisan leluhur tetap hidup dan relevan bagi generasi berikutnya.
Bukti sejarah yang dimaksud meliputi 21 lempeng prasasti tembaga dari berbagai era dan penguasa. Rinciannya terdiri atas 8 lempeng prasasti peninggalan Raja Warmadewa Udayana, 3 lempeng dari Raja Jaya Pangus, serta 10 lempeng prasasti peninggalan Raja Parameswara dan Raja Wengker.
Selain prasasti tembaga, Pura Tuluk Biyu juga menyimpan arca emas berbentuk Lingga-Yoni sebagai simbol manifestasi Siwa dan Parwati (Siwa-Uma). Dalam penataan filosofisnya, Lingga atau Siwa disimbolkan sebagai Gunung Abang, sedangkan Yoni atau Parwati mewakili Segara Danu Batur.
"Arca Siwa Uma itu adalah simbol kekuatan untuk memberi kesuburan, keselamatan, dan kemakmuran bagi jagat Bali, semoga acara Medewasraya ini mampu menjadi tumpuan umat dalam mencari perlindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawanya sebagai Siwa dan saktinya untuk keharmonisan semesta, Bali dan juga Nusantara," ujarnya.
Bahkan Prof. Duija Kisah Bhagawan Dharma Swami (atau Bhagawan Yadnya Dharma Swami) adalah tokoh pendeta suci dalam tradisi sastra klasik Nusantara (Kidung Tantri / Tantri Kamandaka). (Z/ART/002)