Denpasar (Atnews) - Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat Bali menyambut baik dipilihnya Provinsi Bali sebagai tuan rumah penyelenggaraan Bali–Timor-Leste Business Forum bertajuk “Connecting Opportunities, Building Prosperity” yang berlangsung selama dua hari, pada 2–3 Oktober 2026.
Pembukaan acara Bali-Timor Leste Business Forum 2026 resmi dibuka di Tsinghua South East Asia Center, Denpasar, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali (KKB), Jumat (2/10/2026).
Forum tersebut dihadiri Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) RI Natalius Pigai, Anggota DPD RI I Gusti Arya Wedakarna, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali I Gusti Ngurah Wiranata yang mewakili Gubernur Bali Wayan Koster serta Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali I Made Ariandi. Sementara dari Timor-Leste hadir Menteri Pertanian Timor-Leste Marcos da Cruz.
Forum yang mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, dan delegasi kedua negara tersebut mendorong penguatan kerja sama perdagangan dan investasi Bali dengan Timor-Leste.
Acara itu sebagai bagian dari Bali Internasional Business & Invesment Forum (BIBIF) 2026. Forum tersebut sebagai wadah strategis mempertemukan pemerintah, investor, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, asosiasi bisnis, organisasi internasional, serta pemangku kepentingan antara Indonesia - Timor - Leste.
Pada kesempatan itu pula, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan juga bertemu dengan rombongan Bali-Timor Leste Business Forum 2026.
Hubungan antara Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor-Leste selama ini terjalin sangat baik. Secara geografis, Timor-Leste sangat dekat dengan Indonesia dan kedua negara memiliki hubungan historis. Sesuai amanat konstitusi, kita harus membangun kerja sama dengan berbagai negara untuk menatap masa depan yang lebih kuat.
"Kami sangat bahagia bisa duduk bersama dalam suasana hangat malam ini. Kami berharap setelah pertemuan ini, Bali dan Timor-Leste dapat bekerja sama mengembangkan berbagai sektor potensial, khususnya pariwisata, pertanian, peternakan, dan perdagangan.
Sinergi dan kolaborasi yang kuat diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," Gubernur Bali Wayan Koster di Jaya Sabha, Denpasar, Sabtu (3/10).
Menurutnya, Bali memang kecil, tetapi dianugerahi kekayaan yang luar biasa, seperti salak Bali, jeruk Bali, manggis Bali, mangga Bali, beras Bali, ayam Bali, babi Bali, hingga sapi Bali yang telah dikenal luas.
Khusus sapi Bali, sampai saat ini keberadaannya terus pihaknya jaga dengan baik. Sapi dari luar Bali tidak diizinkan masuk. Pemerintah Pusat juga mendukung upaya perlindungan sapi Bali agar kemurnian dan keasliannya tetap terjaga.
Terkait sektor pariwisata, hingga 30 September 2026 tercatat sebanyak 4,6 juta wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Bali, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 ribu wisman berasal dari Timor-Leste.
Dengan terselenggaranya Bali–Timor-Leste Business Forum, ke depan saya berharap Bali dan Timor-Leste dapat maju bersama, saling mendukung, dan saling menopang dalam mewujudkan kemajuan. Kami siap melanjutkan dan memperkuat hubungan baik yang telah terjalin selama ini.
Samentara itu, Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Republik Demokratik Timor-Leste, Marcos da Cruz mengatakan, Wakil Perdana Menteri sebelumnya direncanakan hadir di Jaya Sabha, tetapi batal karena harus melanjutkan tugas negara.
Karena itu, Wakil Perdana Menteri menitipkan pesan kepada Gubernur Bali Wayan Koster berupa ucapan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia, khususnya Gubernur Bali, atas sambutan hangat serta dukungan terhadap penyelenggaraan Bali–Timor-Leste Business Forum.
Ada tiga hal penting yang dibahas dalam Bali–Timor-Leste Business Forum, yaitu Blue Economy, Green Economy, dan Gold Economy.
Dalam pengembangan Green Economy, Timor-Leste memiliki lahan pertanian yang subur dan luas dengan berbagai komoditas, seperti padi, jagung, kopi, dan buah-buahan.
Namun, sektor pertanian di Timor-Leste masih menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan, terutama terkait kualitas sumber daya manusia (SDM).
Melalui pertemuan ini, kami ingin mempelajari bagaimana memulai dan mengelola sektor pertanian dengan baik agar mampu memberikan hasil yang maksimal.
Mengenai Blue Economy, Timor-Leste memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan. Berdasarkan hasil studi, potensi stok ikan mencapai sekitar 700 ribu ton per tahun.
Namun, potensi tersebut belum dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung perekonomian. Kami berharap besarnya sumber daya laut tersebut juga diiringi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Terkait Gold Economy, pihaknya datang bersama sejumlah pengusaha ke Bali untuk berdiskusi, melihat, dan mendengar secara langsung mengenai pengembangan bisnis.
"Harapannya, kami dapat belajar menjalankan bisnis dengan baik, sebagaimana telah banyak dicontohkan oleh masyarakat dan pelaku usaha di Bali," ujarnya.
Sekali lagi, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Gubernur Bali. Pertemuan ini memberikan manfaat besar bagi Timor-Leste karena melalui forum ini kita dapat saling belajar.
Dengan suasana Bali yang aman dan damai, pihaknya berharap kerjasama dan hubungan antara Timor-Leste dan Bali semakin kuat dan terus berkembang. Berbagai praktik baik yang kami temukan di Bali diharapkan dapat diterapkan di Timor-Leste dengan menyesuaikan peluang dan potensi yang ada.
Kedatangan Menteri Pertanian, Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Republik Demokratik Timor-Leste ke Jaya Sabha turut didampingi Wakil Presiden Veteran (Conselho dos Combatentes da Libertação Nacional de Timor-Leste), Mario Nicolao dos Reis; Koordinator Jenderal Bidang Ekonomi, Jorge; serta Presiden Câmara de Comércio e Indústria Timor-Leste, Jorge Manuel de Araujo Serrano. (Z/002)