Denpasar (Atnews) - Berbagai langkah telah dilakukan Pemerintah Provinsi Bali dalam upaya mengendalikan keganasan serangan Covid-19, baik secara "sekala maupun Niskala".
Upaya sekala berbagai kebijakan serta langkah nyata termasuk diantaranya himbauan melarang keluar rumah, kecuali kepentingan yang sangat mendesak, social dan physical distancing serat menggunakan masker setiap saat; apalagi kalau keluar rumah.
Bukan berhenti sampai disitu. Pemprov Bali-pun dengan menggunakan institusi kekuatan Desa Adat, yang memang keampuhannya sudah tidak diragukan lagi. Seperti berbentuk himbauan bersama Pemprov Bali, Majelis Desa Adat-MDA. Provinsi Bali serta Parisada Hindu Dharma Indonesia-PHDI. Bali.
Sementara kekuatan secara Niskala juga terus diupayakan melalui kebijakan yang dikeluarkan oleh PHDI. Bali dan MDA. Bali dengan menggelar upacara sesuai keyakinan masyarakat Hindu (Bali) dengan merujuk sesuai isi berbagai lontar yang terkait dengan pemberantasan "Gering Agung" seperti halnya serangan Pandemi Virus Corona yang dikenal dengan ,"Covid-19". Lontar yang dijadikan rujukan diantaranya lontar "Widhi Sastra Rogo Sangara Bhumi" seperti disampaikan oleh Ida Pedanda Gede Putra Bajing, sebagai penasehat yayasan.
Terkait dengan Pandemi Cobid-19, Yayasan-yayasan yang bergerak di bidang Sosial Keagamaan-pun ikut memberikan kontribusi dalam upaya meredam ataupun mengendalikan virus yang sudah melanda ratusan negara di berbagai belahan dunia.
Seperti yang dilakukan Yayasan Saba Bhudaya Bali, dari hasil Paruman Paripurna Sabha Purohita Yayasan Sabha Budaya Bali, 13 Maret 2020 di Gedung DPRD. Bali yang juga memberikan sambutan Ketua Dewan, Adi Wiratama, salah satu hasil keputusan para Sulinggih/Dwijati itu berupa perlunya melaksanakan ritual upacara "Peneduh Bumi" yang dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Sasih Kedasa, (22/04) dengan sentral lokasi ritual upacara di Pura Agung Besakih.
Seperti disampaikan oleh Ketua Yayasan Sabha Budaya Bali, Dr. Drs. I Gusti Made Ngurah, M.Si, hasil paruman itu disampaikan kepada Pemprov Bali, PHDI dan MDA. Bali. Untuk pelaksanaan upacara di Setra Agung (Kuburan), masing-masing Desa Adat dan perumahan warga di Desa Adat/Pakraman, diserahkan kepada Majelis Desa Adat untuk diteruskan ke Desa Adat/ Krama, dan ini masuk dalam himbauan bersama PHDI dan MDA. Sedangkan upacara di Besakih dan Catur Segara ditangani (bakti ) Yayasan, ungkap mantan Kakanwil Depag Bali, Gusti Made Ngurah.
Realisasi pelaksanaan ritual upacara "Peneduh Bumi", berjalan tertib lancar dan hidmat, serta tetap memperhatikan himbauan pemerintah dengan melibatkan peserta yang terbatas dan jaga jarak satu sama lain. Upacara di Besakih yang dipuput Ida Pedanda Gede Putra Tembau, juga dihadiri Wakil Gubernur, Cokorda Oka Arta Ardana Sukawati, disamping juga Ida Dalem Semara Pura, Bendesa Agung/Ketua MDA. Bali, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet, serta pejabat penting lain, termasuk beberapa Sulinggih yang nodia/menyaksikan upacara tersebut.
Di Batu Klotok (simbolis pantai arah Selatan Bali/ pada "Nyatur" atau 4 arah mata angin), dipuput Ida Pedanda Gede Rai Pidada, Segara Seraya (Timur), Ida Pedanda Gede Nyoman Jelantik Dwaja, Penyusuhan( Puseh Penegil Dharma) untuk perwakilan (Utara), Ida Pedanda Oka Manuaba, dan Geger (Selatan), dipuput Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuana, di Segara Rupek (arah Barat) Dane Jro Balian Batur, Dane Jro Gede Duwuran, keabih Jro Mangku Pura Segara Rupek, di Pura Kentel Gumi, Ida Pandita Rsi Agung Sidhi Yoga (nodia), sedangkan yang muput di Pura Basukian adalah Jro Mangku Pura Basukian sendiri.
Hari ini (23/04) sesuai himbauan pemerintah, agar Krama Bali heneng, hening di rumah. Ini terkandung harapan agar Krama: degdeg (tidak terjadi huru-hara/kegoncangan sosial), dabdab (selaras-serasi dan saling dukung satu sama lain), prasida ngemit raga (menjaga diri) menuju keselamatan, kebahagiaan dan kedamaian lahir batin seluruh Umat, ujar Petajuh/ Wakil MDA. Provinsi Bali itu. (IBM/ART)