Badung (Atnews) - Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas ditetapkannya Kidung Bhuwana Wināśa, karya kawi-wiku Ida Pedanda Ngurah, sebagai bagian dari Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MoWCAP) UNESCO.
Pengakuan tersebut ditetapkan dalam Pertemuan Umum Ke-11 MoWCAP yang berlangsung di Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Jakarta, pada Kamis, 5 November 2026.
Kidung Bhuwana Wināśa menjadi salah satu dari dua naskah Nusantara yang memperoleh pengakuan tersebut, bersama Bo’ Sangaji Kai, catatan sejarah Kerajaan Bima yang antara lain merekam erupsi Gunung Tambora tahun 1815.
Ari Dwipayana menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung, Grya Agung Mandara Pemaron, Grya Gede Belayu, serta seluruh pihak yang telah bekerja keras memperjuangkan pengakuan internasional terhadap warisan sastra Nusantara ini.
“Pengakuan UNESCO bukan sekadar penghargaan terhadap sebuah manuskrip kuno, melainkan pengakuan dunia terhadap ingatan sejarah, kedalaman intelektual, dan kejujuran para leluhur kita dalam merekam perjalanan peradaban,” ujar Ari Dwipayana.
Penerima Sastra Saraswati Sewana Nugraha pada 2024
Ari Dwipayana mengungkapkan bahwa Yayasan Puri Kauhan Ubud telah memberikan penghormatan khusus kepada kawi-wiku Ida Pedanda Ngurah melalui penganugerahan Sastra Saraswati Sewana Nugraha pada tahun 2024.
Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas kontribusi besar Ida Pedanda Ngurah dalam memperkaya khazanah susastra Bali, khususnya dalam merekam dinamika sejarah, mengembangkan pemikiran tentang kepemimpinan, serta mewariskan nilai-nilai luhur Nīti Rāja Śāsana, yakni ajaran mengenai etika, moralitas, dan tata laku seorang pemimpin.
“Pada tahun 2024, Yayasan Puri Kauhan Ubud telah mempersembahkan Sastra Saraswati Sewana Nugraha kepada Ida Pedanda Ngurah. Kami memandang beliau bukan hanya sebagai seorang kawi-wiku yang menghasilkan karya sastra bernilai tinggi, tetapi juga sebagai pemikir yang mewariskan tuntunan tentang kepemimpinan, kekuasaan, dan tanggung jawab moral seorang pemimpin,” ujar Ari Dwipayana.
Kejujuran Sastra dalam Merekam Kehancuran
Ari Dwipayana menilai keistimewaan Kidung Bhuwana Wināśa terletak pada keberanian pengarangnya merekam sejarah tanpa selalu membungkusnya dalam narasi kepahlawanan dan kejayaan.
Karya sastra ini justru menghadirkan kenyataan pahit, kelam, bahkan suram dari perjalanan kerajaan-kerajaan Bali dan Lombok. Tema sentralnya tercermin dalam tiga istilah penting, yakni "wināśa:, "sanghara", dan "uwug", yang secara keseluruhan merujuk pada kehancuran.
“Barangkali kepada kehancuran kita justru lebih banyak berguru dibandingkan kepada kejayaan. Sebab, kejayaan sering membuat manusia lupa diri, sedangkan kehancuran mengingatkan manusia pada keterbatasan, kesalahan, dan akibat dari pilihan-pilihan yang diambilnya,” ungkap Ari Dwipayana.
Menurut Ari, inilah salah satu nilai penting sastra tradisional Nusantara. Sastra bukan sekadar media hiburan atau pemujaan terhadap penguasa, melainkan juga sarana kritik, refleksi, dan pewarisan pengetahuan sejarah.
Dari Memori Kehancuran Menuju Perdamaian Dunia
Ari Dwipayana menegaskan bahwa pengakuan UNESCO terhadap Kidung Bhuwana Wināśa juga memiliki pesan kemanusiaan yang melampaui kepentingan sejarah lokal Bali.
Peperangan yang melibatkan kerajaan-kerajaan Bali, Lombok, dan kekuatan kolonial Belanda meninggalkan penderitaan yang mendalam. Dalam sejumlah peristiwa peperangan, perempuan dan anak-anak turut menjadi korban, bahkan terlibat dalam situasi pertempuran yang seharusnya tidak mereka alami.
Tragedi tersebut merupakan bagian dari sejarah kekerasan yang harus dikenang, bukan untuk mewariskan kebencian, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga perdamaian.
“Memori tentang perang dan kehancuran tidak boleh diwariskan sebagai dendam antargenerasi. Sebaliknya, memori itu harus ditransformasikan menjadi pengetahuan, kebijaksanaan, dan komitmen bersama untuk mencegah berulangnya tragedi kemanusiaan,” ujarnya.
Karena itu, Ari berharap Kidung Bhuwana Wināśa tidak berhenti sebagai manuskrip yang memperoleh pengakuan internasional, tetapi juga dihidupkan kembali melalui penelitian, transliterasi, penerjemahan, pendidikan sejarah, serta pengembangan karya seni dan kebudayaan.
Generasi muda Bali dan Indonesia perlu mendapatkan akses yang lebih luas untuk membaca, memahami, dan merefleksikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.
Jangan Sampai Kita Mengalami Amnesia Sejarah
Sebagai Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud, Ari Dwipayana menegaskan pentingnya menjaga tradisi sastra sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan peradaban.
Menurutnya, naskah-naskah warisan leluhur tidak boleh hanya diperlakukan sebagai benda pusaka yang disakralkan, tetapi perlu terus dibaca, dikaji, ditafsirkan, dan dikontekstualisasikan dengan persoalan zaman.
“Tanpa Kidung Bhuwana Wināśa karya kawi-wiku Ida Pedanda Ngurah, kita mungkin akan mengalami amnesia sejarah. Kita bisa saja terus membanggakan kejayaan masa lalu, tetapi melupakan kesalahan, perpecahan, dan kehancuran yang pernah dialami para leluhur,” katanya.
Ari menegaskan bahwa penghormatan terbaik terhadap warisan sastra bukan hanya dengan menyimpan dan melestarikan naskah fisiknya, melainkan juga dengan menghidupkan nilai dan pesan yang dikandungnya.
“Pengakuan UNESCO ini harus menjadi momentum untuk membangun kesadaran baru bahwa Bali bukan hanya perlu menjaga keindahan alam dan keluhuran budayanya, tetapi juga harus merawat ingatan sejarahnya. Sebab, bangsa yang kehilangan ingatan sejarah akan mudah mengulangi kesalahan yang sama".
“Dari Bhuwana Wināśa, dari dunia yang pernah mengalami kehancuran, kita belajar tentang pentingnya persatuan, kemanusiaan, dan perdamaian. Itulah warisan kebijaksanaan yang harus kita teruskan kepada generasi mendatang,” pungkas Ari Dwipayana (Z/002)