Denpasar (Atnews) - Musibah tanah longsor yang menimbun bangunan penginapan di Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, memantik reaksi keras dan evaluasi mendalam berbagai pihak serta pengamat kebudayaan.
Peristiwa yang dipicu hujan deras sejak Minggu (1/11/2026) malam tersebut mengakibatkan dua orang pengunjung tertimbun material longsoran tebing.
Untuk itu, Pengamat ekonomi Pariwisata dan Kebudayaan, Jro Gde Sudibya, menilai peristiwa tragis ini menjadi wake up call atau peringatan keras bagi penataan serta pengawasan akomodasi wisata berbasis perdesaan di Badung Utara.
Menurutnya, bencana di Pelaga seharusnya tidak terjadi apabila setiap pembangunan fasilitas wisata alam mematuhi kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang kredibel serta diawasi secara profesional di lapangan.
"Peristiwa longsor di Eco Park Pelaga patut disesalkan dan semestinya tidak terjadi jika proyek ini disertai Amdal yang kredibel dengan pengawasan lapangan yang profesional.
Musibah ini semestinya menjadi pelajaran berharga bagi Pemda untuk melakukan langkah koreksi dan pengawasan bertanggung jawab atas keberadaan seluruh vila perdesaan di Badung Utara," kata Jro Gde Sudibya di Denpasar, Senin (2/10).
Lebih lanjut, Jro Gde Sudibya menekankan pentingnya menjaga kesucian kawasan hulu Badung Utara yang membentang dari Bukit Bon hingga Bukit Mangu sebagai benteng ekologis dan spiritual Bali.
Pengembangan pariwisata perdesaan sepatutnya memegang teguh prinsip keberlanjutan lingkungan dan filosofi paras-paros demi kesejahteraan bersama tanpa mengorbankan keselamatan jiwa.
"Kita sedang berjuang bersama mewujudkan pariwisata perdesaan yang bersahabat dengan lingkungan dan berkeadilan. Menemukan kembali tradisi sosialistik religius, berangkat dari keyakinan Niskala mengembangkan ekonomi berkeadilan dan paras-paros untuk kesejahteraan bersama," ujarnya.
Dikatakan juga, "Panca Baya" di Desa Pelaga pada saat "puja wali" ring Pura Puncak Mangu, longsor di Pura Kehen menjelang puja wali raina Pagerwesi, sejumlah longsor yang terjadi ring raina Soma Ribek pemujaan Tuhan Wisnu yang membawakan "Panca Baya" semestinya membuat krama Bali terlebih-lebih para pemimpinnya pada semua lapisan untuk mawas diri dan melakukan koreksi diri dan koreksi bersama.
"Care sesonggan Baline, apang sing gangsar tindak kuang daya, 'kedroponan' dalam melangkah," pungkasnya. (GAB/YOG/002)