Denpasar (Atnews) – Gagasan pembentukan Program Studi (Prodi) Wisata Agro di Bali kini menjadi perhatian akademisi dan praktisi pendidikan tinggi. Menanggapi wacana yang diusung I Nyoman Baskara terkait perlunya wadah pendidikan yang menjembatani sektor pertanian, pariwisata, dan kaum milenial, Founder & President BIMA Nexus Australia, Prof. Dr. Rudolf Wirawan, Ph.D., M.Sc., menawarkan sudut pandang ilmiah melalui gagasan pendidikan regeneratif berbasis pendekatan BIMA (Bridging Intelligence, Mindfulness, Awareness).
Prof. Rudolf Wirawan menegaskan bahwa pendirian program studi akademis tidak boleh diawali dengan pola rancangan kurikulum dari atas (top-down), melainkan harus berakar dari proses mendengarkan pengalaman, kebutuhan, dan aspirasi riil para petani, pengelola Subak, masyarakat adat, serta generasi muda lokal.
Kerangka BIMA yang mengusung prinsip "Nature is our University. Reality is our Professor" menempatkan tiga dimensi utama—People, Communities, Nature—secara harmonis dengan prinsip teo-filosofis Tri Hita Karana dan kearifan lokal Bali.
Guna mewujudkan model pendidikan yang kontekstual, Prof. Rudolf mengusulkan pembentukan Bali Agro-Tourism Regenerative Living Laboratory sebagai ruang uji coba pembelajaran partisipatif sebelum sebuah program studi permanen didirikan secara resmi.
Laboratorium kehidupan ini menghubungkan perguruan tinggi, petani, lembaga Subak, pelaku pariwisata, dan pemerintah untuk menguji penataan wisata edukasi pertanian, konservasi tata air, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna seperti IoT dalam pemantauan kualitas tanah dan iklim.
"Pendirian sebuah program studi tidak dengan sendirinya menjamin kesejahteraan petani ataupun keberlanjutan lingkungan. Pertanyaan akademik yang paling mendasar adalah: siapa yang menentukan kebutuhan pendidikan, pengetahuan siapa yang diakui, dan kepada siapa manfaatnya kembali? Titik awal pengembangan Prodi Wisata Agro seharusnya bukan gedung atau kurikulum dari atas, melainkan realitas kehidupan petani dan alam Bali melalui disiplin listen, listen, listen," tegas Prof. Rudolf Wirawan.
Lebih lanjut, Research Fellow Universitas Padjadjaran ini menekankan pentingnya perlindungan terhadap posisi petani dan kelembagaan adat. Petani harus didudukkan sebagai mitra pencipta pengetahuan sekaligus penerima manfaat ekonomi utama, bukan sekadar objek atau atraksi wisata komersial. Pengembangan pariwisata agro dilarang keras mengorbankan fungsi produksi pangan, mengganggu tata air Subak, ataupun merusak tatanan sosial budaya desa.
Dalam peta jalan yang dirumuskan, evaluasi keberhasilan pendidikan regeneratif ini tidak cukup diukur dari jumlah kelulusan atau angka serapan kerja semata. Melalui instrumen BIMA Competency Passport, indikator kontribusi diukur berdasarkan FOOTPRINT atau bukti terverifikasi atas dampak sosial-ekologis, seperti kesejahteraan rumah tangga tani, efisiensi penggunaan air, partisipasi generasi muda, hingga tingkat kesehatan ekosistem tanah.
Keputusan pembukaan prodi resmi diharapkan mengikuti bukti keberhasilan uji coba di lapangan guna memastikan dampaknya bagi kemandirian dan keajegan Bali. (YOG/001)