Oleh Trisno Nugroho
Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan gejolak geopolitik, perekonomian Bali kembali menunjukkan ketangguhannya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Bali pada Triwulan III 2026 tumbuh 5,85 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan Triwulan II sebesar 5,78 persen dan melampaui pertumbuhan nasional sebesar 5,47 persen.
Capaian ini patut diapresiasi. Namun, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa besar pertumbuhan ekonomi Bali telah meningkatkan pendapatan petani, membuka kesempatan bagi UMKM, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan menyejahterakan masyarakat hingga ke desa-desa?
Pariwisata Tumbuh, Manfaatnya Harus Semakin Luas
Pariwisata tetap menjadi penggerak utama ekonomi Bali. Sektor akomodasi dan makan-minum menyumbang 22,87 persen terhadap PDRB dan tumbuh 6,23 persen.
Kunjungan wisatawan mancanegara meningkat 0,94 persen dan perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 4,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan akomodasi dan makan-minum melambat dari 10,94 persen pada Triwulan III 2025, sementara transportasi dan pergudangan hanya tumbuh 1,20 persen.
Perkembangan ini mengingatkan bahwa masa depan pariwisata Bali tidak cukup hanya mengandalkan jumlah kunjungan wisatawan. Yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas wisatawan, lama tinggal, pengeluaran, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.
Di sisi lain, konstruksi tumbuh 8,91 persen, industri pengolahan 8,07 persen, perdagangan 7,35 persen, serta jasa keuangan 9,00 persen.
Konsumsi rumah tangga juga tetap kuat dengan pertumbuhan 5,43 persen, sementara investasi riil tumbuh 8,74 persen. Penguatan tersebut merupakan perkembangan positif.
Namun, investasi perlu semakin diarahkan pada kegiatan produktif, penciptaan pekerjaan, penguatan usaha lokal, dan perbaikan infrastruktur serta lingkungan Bali.
Pertanian: Menopang Banyak Keluarga, tetapi Pertumbuhannya Masih Terbatas Salah satu perhatian penting dari perkembangan ekonomi Bali adalah kondisi sektor pertanian.
Pada Triwulan III 2026, pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 12,19 persen terhadap PDRB Bali, tetapi hanya tumbuh 2,55 persen, jauh di bawah pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,85 persen.
Padahal, berdasarkan data ketenagakerjaan BPS Agustus 2026, sektor pertanian menyerap sekitar 17,22 persen dari seluruh penduduk bekerja di Bali.
Artinya, pertanian merupakan sumber penghidupan bagi bagian yang cukup besar dari masyarakat Bali, meskipun kontribusinya terhadap nilai tambah ekonomi relatif lebih kecil. Perkembangan produksi pangan juga perlu dicermati.
Berdasarkan angka sementara BPS, produksi padi Bali sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 591,72 ribu ton gabah kering giling, meningkat hanya 0,66 persen dibandingkan 2025.
Sementara itu, luas panen padi justru diperkirakan turun dari 96.444 hektare menjadi 95.734 hektare, atau berkurang sekitar 710 hektare.
Data ini memberikan pesan penting. Produksi padi masih dapat meningkat, tetapi luas panen yang cenderung menyusut perlu diwaspadai agar tidak melemahkan ketahanan pangan Bali dalam jangka panjang. Dari sisi kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) Bali pada September 2026 tercatat sebesar 103,64.
Angka ini menunjukkan indeks harga yang diterima petani masih sedikit lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang mereka bayarkan.
Namun, NTP belum menggambarkan secara langsung besarnya pendapatan bersih maupun tingkat kesejahteraan setiap keluarga petani.
Karena itu, meningkatkan kesejahteraan petani tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi, tetapi juga harus memperbaiki pendapatan, efisiensi biaya, kepastian pasar, dan perlindungan lahan pertanian. Pertanian Bali memiliki nilai yang jauh melampaui kontribusinya terhadap PDRB.
Sawah dan subak merupakan penopang ketahanan pangan, penjaga lingkungan, warisan budaya, sekaligus bagian penting dari daya tarik pariwisata Bali.
Menghubungkan Pariwisata dengan Petani dan UMKM
Bali memiliki peluang besar untuk menjadikan pariwisata sebagai pasar yang lebih kuat bagi hasil pertanian dan produk lokal. Hotel, restoran, dan industri pariwisata perlu semakin banyak menggunakan beras, sayuran, buah-buahan, kopi, hasil perikanan, serta produk olahan dan kerajinan masyarakat Bali.
Kemitraan tersebut harus dibangun secara nyata melalui kontrak pembelian jangka panjang, standar kualitas produk, harga yang wajar bagi petani, penguatan koperasi dan kelembagaan subak, serta dukungan logistik dan pembiayaan.
Pemerintah daerah juga perlu memperkuat perlindungan sawah produktif, jaringan irigasi, insentif bagi petani, dan regenerasi petani muda.
Tanpa prospek pendapatan yang layak, semakin sulit mengharapkan generasi muda mempertahankan pertanian dan subak.
Pariwisata harus menjadi lokomotif yang menarik gerbong petani, nelayan, UMKM, seniman, perajin, dan ekonomi desa.
Dengan demikian, kemajuan pariwisata tidak hanya dinikmati kawasan wisata utama, tetapi juga mengalir ke Bali Utara, Timur, Barat, dan seluruh wilayah perdesaan.
Pertumbuhan Harus Semakin Dirasakan Masyarakat
Dari sisi kesejahteraan, terdapat perkembangan yang menggembirakan. Tingkat Pengangguran Terbuka Bali pada Agustus 2026 turun menjadi 1,42 persen, sedangkan proporsi pekerja formal meningkat menjadi 51,31 persen.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bali juga meningkat menjadi 80,03 dan berhasil memasuki kategori pembangunan manusia sangat tinggi.
Meski demikian, jumlah penduduk bekerja sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Kesenjangan pembangunan manusia antarwilayah juga masih terlihat, dengan IPM Denpasar sebesar 86,33 dan Karangasem 72,41.
Kondisi ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu semakin diarahkan untuk menciptakan pekerjaan berkualitas, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperluas pemerataan pembangunan.
Menjaga Pertumbuhan, Merawat Masa Depan Bali
Pertumbuhan ekonomi Bali sebesar 5,85 persen merupakan modal optimisme menuju 2027. Namun, tantangan ketahanan pangan, kemacetan, sampah, air bersih, alih fungsi lahan, dan pemerataan ekonomi harus terus mendapat perhatian.
Ke depan, pembangunan Bali perlu lebih berfokus pada pariwisata berkualitas, investasi produktif, peningkatan kesejahteraan petani, penguatan UMKM, penciptaan pekerjaan berkualitas, dan pemerataan manfaat pembangunan.
Arah tersebut sejalan dengan Transformasi Ekonomi Kerthi Bali dan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan kesejahteraan masyarakat, kelestarian alam, dan kekuatan budaya sebagai fondasi pembangunan.
Bali yang maju bukan hanya Bali yang jumlah wisatawannya terus meningkat dan ekonominya tumbuh tinggi, tetapi Bali yang petaninya semakin sejahtera, UMKM semakin berkembang, generasi mudanya memiliki pekerjaan berkualitas, dan desa-desanya semakin produktif.
Inilah pertumbuhan yang perlu terus diperjuangkan: Bali yang tangguh menghadapi perubahan dunia, semakin merata dalam memberikan kesejahteraan, serta tetap menjaga sawah, subak, alam, dan budaya sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang (tnu).
*) Trisno Nugroho - Pengamat Ekonomi dan Pariwisata