Dialog Budaya dan Seni Bali India, Festival “Bali In Bengaluru" di Karnanaka - India

Dialog Budaya dan Seni Bali India, Festival “Bali In Bengaluru" di Karnanaka - India

Admin - atnews

2026-11-05
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dialog Budaya dan Seni Bali India, Festival “Bali In Bengaluru" di Karnanaka - India
Festival  “Bali In Bengaluru" (ist/Atnews)
India (Atnews) - Param Foundation menyelenggarakan sebuah festival bertajuk “Bali In Bengaluru" di Kota Bengaluru, Karnanaka-India.

Festival yang mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Negara Bagian Karnataka ini membuka ruang dialog bagi sedikitnya dua kesenian India Selatan, yaitu tari Yakshagana dan Wayang Boneka India.

Untuk festival itu, Param Foundation mengundang rombongan kesenian Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS Singapadu), beranggotakan 25 orang, yang dipimpin langsung oleh pemiliknya, Prof. Dr. I Wayan Dibia.

Rombongan itu meninggalkan Bali pada 30 September dan kembali pada tanggal 20 Oktober 2026.

Festival ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan Param Foundation, sebuah organisasi non-profit, dengan maksud untuk menunjukkan kekuatan abadi seni budaya untuk melintasi batasan geografis serta menjalin hubungan antar umat manusia.

Dari sisi lain, kehadiran rombongan kesenian GEOKS Singapadu di Bengaluru, bisa dilihat sebagai ruang interaksi budaya untuk menunjukkan kembali adanya kontak dan interaksi Bali-India sejak dahulu kala.

Selama berada di Bengaluru, rombongan kesenian GEOKS Singapadu berhasil membangun dialog budaya dengan dua kesenian India dari Negara Bagian Karnataka.

Kedua kesenian yang dimaksud adalah tari Yakshagana India, dan Wayang Boneka India. Kedua kolaborasi itu yang pertama kali terjadi di Bengaluru.

Seorang Komposer Kondang dengan Reputasi Internasional Praveen D.Rao yang juga Seorang Pejabat Param Foundation, sejak awal sudah minta rombongan kesenian Bali menyiapkan diri untuk berkolaborasi dengan seniman setempat.

Kolaborasi tari Bali dengan Yaksagana pada dasarnya menggunakan pendekatan colliding (menabrakkan) dua elemen kesenian berbeda.

Dengan menjadikan juga menjadikan cerita Ramayana (Araniya Kandha, Sundara Kandha, dan Yudha Kanda) sebagai landasan, selama kurang lebih 45 menit terjadi “tabrakan” antara tari Bali dengan Yakshagana. 

Misalnya, pertapa siluman Rahwana untuk menculik Dewi Sita, tampil utuh dalam bentuk tari Yakshagana termasuk iringannya.

Ketika terjadi dialog Dewi Sita dengan pertapa, masing-masing menggunakan bahasa yang berbeda.  Hal serupa juga terjadi dengan perang antara Jatayu melawan Rahwana yang sedang menerbangkan Dewi Sita ke Alengka, menggunakan iringan gamelan Bali.

Terakhir, dalam perang antara Rama Laksmana melawan Rahwana, kembali terjadi “tabrakan” antara Rama dan Laksmana (dalam Kecak) Bali dengan Rahwana Yakshagana diiringi musik Yakshagana bersama gamelan Bali. 

Namun demikian, tabrakan dua elemen budaya berbeda ini menjadi menarik kerena berhasil membangun dialog budaya di atas pentas.

Sementara kolaborasi wayang “Bali India” menggunakan pendekatan dividing (berbagi) antara wayang kulit Bali dengan wayang boneka (string puppet) India. Garapan kolaborasi ini dijalankan dengan membagi babak dalam cerita Arjuna Tapa dan panggung pementasan yang dijejer menghadap ke penonton. Wayang kulit Bali yang dibawakan adalah wayang parwa (gaya Karangasem) menggunakan setting kecil, dengan iringan sepasang gender wayang, dengan lakon Arjuna Tapa dari Wana parwa (Mahabharata) dengan dalang Ida Wayan Pangsua Dharma S.Sn., M,Sn dari Besang/Abang.

Babak pembuka tampil wayang boneka India, lengkap dengan iringannya, di panggung kanan, untuk mengisahkan suasana di Shiwaloka dimana Dewa Shiwa hendak turun ke Gunung Indrakila guna menguji keteguhan iman Arjuna.

Di Babak selanjutnya, di panggung kiri, wayang kulit Bali (dengan iringin sepasang gender wayang) menggambarkan perjalanan Arjuna di Gunung Indrakila sampai dengan penganugrahan senjata panah Pasupati oleh Dewa Shiwa disajikan dalam bentuk wayang kulit Bali.

Di Babak akhir, wayang boneka India menutup pertunjukan dengan menggambarkan keampuhan senjata Pasupati dalam Perang Bharatayudha, yang digunakan Arjuna untuk membunuh Jayadrata.
​
Kedua kolaborasi ini disambut baik oleh para pengamat dan pencinta seni di Bengaluru. Di akhir pentas, mereka memberikan sambutan gemuruh, dan banyak yang bertanya tentang penyatuan tari Bali dengan Yakshagana. Tak sedikit penonton yang menyampaikan rasa gembiranya melihat “dialog yang padu” antara kesenian Bali dengan India yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Sedangkan, Kecak Ramayana, yang dibawakan oleh 23 orang, menjadi materi utama dari rombongan kesenian GEOKS Singapadu ini.

Materi lainnya yang dibawa meliputi gamelan Bali menggunakan setting gamelan mini (dengan 12 orang penabuh), tari-tarian lepas (klasik dan kreasi baru), wayang kulit, dan Kecak sebagai materi utama.  Sebagai pembuka ditampilkan sebuah komposisi baru yang memadukan gamelan dan tembang (seperti gegitaan di tahun 1970-an), yang diberi judul Awignamastu (karya I Wayan Dibia, 2024).

Tiga tarian yang ditampilkan kemudian adalah teri pembukaan berjudul Pranamya (ciptaan I Wayan Dibia, 2024), Tari Taruna Jaya (karya I Gede Manik), dan Jauk Legodbawa (ciptaan I Wayan Dibia, 2017).  Sebagai pemuncak adalah Kecak garapan baru (garapan I Wayan Dibia 2024) dengan lakon Hanuman Duta. 

Di samping pementasan-pementasan, rombongan ini juga mengadakan berbagai workshop dan ceremah seni. Workshop-workshop yang diadakan, baik untuk perorangan maupun sanggar-sanggar seni, dengan materi Kecak, tari dan gamelan Bali, diberikan oleh Prof. Dibia.

Workshop dan demontrasi pembuatan topeng (oleh Dr Cokorda Alit Artawan S.Sn., M.Sn),  dan workshop wayang kulit diberikan oleh Ida Wayan Pangsua Dharma S.Sn., M.Sn.

Pertunjukan kesenian Bali oleh GEOKS-Singapadu, pada umumnya disambut penuh antosias oleh penonton. Contohnya, pada pentas pembukaan di halaman terbuka Orion Mall di Bengaluru, dengan menampilkan Kecak Hanuman Duta, penonton bertepuk tangan setiap pergantian adegan.

Mereka terpesona dengan orkestrasi suara kecak dengan pola ritme berlapis-lapis. Shailaja Tripathi, dari The Hindu.com menyambut hangat sajian kesenian Bali di Bengaluru.

Dalam artikelnya ia menyebutkan bahwa pertunjukan Kecak Bali telah memberikan suara yang berbeda kepada Ramayana yang sudah sangat dikenal secara luas di India.

Shailaja menutup artikelnya dengan mengatakan bahwa pertunjukan ini menjadi pengingat bahwa seni sering kali berhasil di tempat di mana sekat-sekat budaya yang justru sering kali berbuah kegagalan.(z/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Imlek 2019 Wujudkan Keharmonisan

Terpopuler

Longsor Penginapan Eco Park Pelaga, Peringatan Keras Tata Kelola dan Pengawasan Akomodasi Wisata

Longsor Penginapan Eco Park Pelaga, Peringatan Keras Tata Kelola dan Pengawasan Akomodasi Wisata

Wamenaker Ajak Generasi Muda Perkuat Kompetensi Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Wamenaker Ajak Generasi Muda Perkuat Kompetensi Hadapi Perubahan Dunia Kerja

Hari Ulang Tahun ke-8 Atnews

Hari Ulang Tahun ke-8 Atnews

Ancaman Serius Keamanan Negara: I Wayan Sudirta Minta Motif Penyadapan Presiden Dibongkar ke Akar-akarnya

Ancaman Serius Keamanan Negara: I Wayan Sudirta Minta Motif Penyadapan Presiden Dibongkar ke Akar-akarnya

Perkuat Ekosistem Keuangan Syariah, OJK Luncurkan Cetak Biru Strategis Nasional

Perkuat Ekosistem Keuangan Syariah, OJK Luncurkan Cetak Biru Strategis Nasional

Kemenpar Perkuat Sinergi Komunikasi Publik, Dorong Pariwisata Indonesia Lebih Berkualitas

Kemenpar Perkuat Sinergi Komunikasi Publik, Dorong Pariwisata Indonesia Lebih Berkualitas