Oleh Jro Gde Sudibya
Pemimpin baru pada umumnya berada di dalam "kotak" dengan sejumlah ciri umumnya: cendrung rutin (busines as usual), merupakan kelanjutan dari program pemimpin lama, gaya kepemimpinan yang mirip untuk bisa bermain aman (play it safe), kalaupun melakukan terobosan, terobosan minor untuk melakukan test ombak (testing the water) menyimak respons yang muncul.
Kapolri Suyudi keluar dari tradisi dan kaidah kepemimpinan normatif di atas, melakukan terobosan kepemimpinan dalam hitungan hari (of the box leadership) dengan sejumlah cirinya:
a. Melakukan penggantian, mutasi besar-besaran di lingkungan Polri pada seluruh jajarannya, terbentuk postur Polri baru dalam 30 hari pertama kepemimpinannya.
Menurut laporan media, terobosan kepemimpinan ini (breaktrought leadership) nyaris tanpa perlawanan internal.
Dalam hitungan jam, setelah menerima laporan penyadapan terhadap Presiden dan tokoh publik, melakukan pemeriksaan, penyelidikan dan penyidikan terhadap belasan jenderal aktif Polri, dan menetapkan 3 jenderal aktif sebagai tersangka dan kemudian ditahan, salah satunya mantan Kapolri yang digantikannya.
Dari perspektif studi kepemimpinan, dan dalam konteks dinamika sosial politik yang berlangsung cepat “out of the leader", umumnya bercirikan:
a) Pemimpin punya karakter kuat, berani melawan arus untuk menyelamatkan organisasi yang mungkin nyaris tenggelam.
b) Pemimpin cerdas nan cerdik, menyimak dengan cerdas kemana arah angin kekuasaan bergerak, untuk keselamatan dalam perspektif makro bangsa dan negara dan dalam perspektif mikro menyelamatkan organisasi dari berbagai perlawanan publik.
Dalam perspektif filosofi, “history in making”, sejarah sedang terbentuk di negeri ini, sejarah pula akan mencatat, dampak dan kontribusi dari pemimpin yang yang keluar "kotak" ini.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat kebijakan publik.