Denpasar (Atnews) - Baliologi kembali menjadi perhatian publik. Baliologi berarti studi tentang kebudayaan Bali dalam semua aspek tata kehidupannya.
Gagasan yang dirintis Prof. I Gusti Ngurah Bagus telah menjadi pondasi penting dalam menjaga jati diri Bali ditengah perubahan zaman.
Prof. Bagus dikenal sebagai "The Father of Balinese Studies", sebutan yang diberikan oleh sejarawan Universitas Leiden, Prof. Henk Schulte Nordholt.
Hal itu sebagai pondasi strategis dalam menjaga identitas kebudayaan Bali sekaligus instrumen evaluasi kebijakan publik, terutama dalam pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan.
Mengingat, Bali dinilai tidak boleh sekadar menjadi destinasi yang menjual keindahan dan tradisi, tetapi harus tetap berdiri kokoh sebagai peradaban dengan nilai, spiritualitas, dan identitasnya sendiri.
Akademisi dan Pakar Hukum Konstitusi Prof. Dr. Dewa Gede Palguna, S.H., M.Hum., menegaskan Baliologi harus menjadi jalan untuk menemukan kembali spirit Bali sekaligus memastikan masyarakat tetap menjadi subjek utama dalam kehidupan kebudayaan dan pariwisata.
Pandangan tersebut disampaikan Akademisi dan Pakar Hukum Konstitusi Prof. Dr. Dewa Gede Palguna, S.H., M.Hum., disela-sela kegiatan penguatan kerja sama Bali-Australia yang melibatkan Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali, Universitas Udayana (Unud) dan Western Sydney University (WSU) di Ruang Bangsa, Universitas Udayana, Jimbaran, Selasa (3/11/2026).
Menurut Prof. Dewa Palguna, Baliologi tidak boleh berhenti sebagai kajian akademis yang hanya membahas Bali dari perspektif ilmiah. Lebih dari itu, Baliologi harus menjadi instrumen bagi masyarakat Bali untuk memahami kembali akar budaya, nilai spiritual, dan identitas yang menjadi pondasi kehidupan masyarakat.
"Baliologi adalah upaya menemukan kembali spirit Bali. Masyarakat Bali sendiri perlu memahami identitas dan nilai-nilai yang menjadi fondasi kebudayaannya," ujarnya.
Prof. Dewa Palguna menyoroti perkembangan pariwisata yang begitu pesat dan berpotensi menggeser posisi masyarakat Bali. Dalam praktik pariwisata budaya, masyarakat lokal berisiko tidak lagi menjadi pemilik dan penjaga kebudayaan, melainkan sekadar pelayan kebutuhan wisatawan.
Prof. Dewa Palguna mengkritik pola pariwisata yang menjadikan wisatawan sebagai penentu utama bagaimana kebudayaan Bali disajikan. Jika terus berlangsung, budaya berpotensi kehilangan makna autentiknya karena lebih banyak mengikuti selera pasar dan kepentingan komersial.
"Dalam pariwisata budaya, wisatawan semestinya diajak memahami dan menghormati kebudayaan Bali, bukan semata-mata menjadi pihak yang menentukan segala sesuatu berdasarkan keinginannya," tegasnya.
Prof. Dewa Palguna menekankan pariwisata budaya yang sehat harus dibangun melalui hubungan timbal balik. Wisatawan mendapatkan pengalaman budaya yang autentik, sedangkan masyarakat Bali tetap menjadi pemilik, pelaku, sekaligus penjaga kebudayaan.
Dengan pendekatan tersebut, pariwisata tidak hanya menjadi mesin penghasil pendapatan, tetapi juga berperan dalam memperkuat keberlanjutan kebudayaan Bali.
"Jangan sampai Bali kehilangan identitasnya karena terlalu mengejar kepentingan ekonomi jangka pendek," tegasnya lagi.
Selain menjaga identitas budaya, Prof. Dewa Palguna memandang Baliologi memiliki peran penting dalam memperkuat kualitas kebijakan publik. Hasil penelitian dan kajian akademis, menurutnya, harus mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Prof. Dewa Palguna berharap Baliologi dapat menjadi salah satu landasan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), pengembangan pendidikan, hingga perumusan kebijakan pariwisata yang berorientasi pada keberlanjutan budaya.
"Baliologi perlu didorong menjadi dasar kebijakan publik. Hasil penelitiannya harus bermanfaat bagi masyarakat, bukan hanya menjadi arsip akademik," ujarnya.
Prof. Dewa Palguna juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, seniman, tokoh agama, dan pelaku pariwisata dalam membangun kebijakan yang berpijak pada nilai serta kebutuhan masyarakat Bali.
Sinergi lintas sektor tersebut dinilai menjadi kunci agar pembangunan Bali tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlangsungan identitas, nilai, dan warisan kebudayaan.
Melalui penguatan Baliologi, Bali diharapkan mampu membangun arah pembangunan yang lebih berakar pada kebudayaan, sekaligus memastikan pariwisata tetap menjadi instrumen kesejahteraan tanpa mengorbankan jati diri masyarakatnya. (Z/002)