Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Setidaknya ada lima masalah kesehatan dunia, yang juga kita hadapi di Indonesia. Saya menyampaikan hal ini pada Orasi Ilmiah pada Wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Fatmawati pada 26 Oktober 2026. Yang pertama adalah penyakit menular, khususnya dalam bentuk “emerging and reemerging”.
Tiga aspek utama hal ini. Ke satu adalah berbagai ragam penyakit yang memang sudah ada, termasuk juga yang baru muncul (“emerging”) atau yang dulu pernah muncul lalu mereda dan kemudian timbul lagi (“reemerging”).
Ke dua adalah berbagai penyakit zoonosis, yang menular dari hewan ke manusia. Ke tiga adalah bagaimana kita perlu menyikapi wabah atau pandemi mendatang.
Masalah kesehatan global ke dua -dan juga negara kita- adalah berbagai dampak perubahan cuaca (“climate change”). Tentu dampak yang paling dirasakan kini adalah kebakaran hutan yang sudah terjadi beberapa bulan ini. “Climate Change” juga berhubungan dengan pola hidup nyamuk dan vektor penyakit lain, dan juga penyakit seperti Dengue dan lain-lain.
Ke tiga, saya bahas tentang penyakit tidak menular (PTM). Pada dasarnya ada empat kelompok penyakit ini, yaitu penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit paru kronik dan diabetes, tentu ditambah jenis PTM lain seperti penyakit ginjal kronik, neurodegeneratif, reumatoid artritis dan lain-lain.
Sementara ini, secara umum ada empat pula faktor penyebabnya, yaitu kurang aktifitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol dan pola makan tidak sehat. Pengendaliannya antara lain dengan pola hidup CERDIK, Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok dan hindari polusi udara, Rajin aktifitas fisik dan olahraga, Diit yang bergizi dan seimbang, Istirahat yang cukup dan Kelola stress.
Hal kesehatan ke empat adalah perkembangan kecerdasan buatan (“artificial intelegence – AI”) dan kesehatan. Dunia kesehatan perlu memanfaatkan dan mengelola perkembangan “Artificial Intelegence – AI” ini demi penanganan kesehatan warga dan masyarakat.
Lalu, masalah kesehatan ke lima adalah Resistensi Antimikroba (“Antimicrobial Resistance – AMR”), yaitu kemungkinan resistensi baik terhadap antibiotika, anti virus, anti jamur dan anti parasit. Yang paling dikawatirkan tentunya adalah kalau berbagai penyakit menular jadi tidak dapat diobati dan disembuhkan karena sudah terjadi resistensi ini. Para pakar bahkan menyebutkan AMR sebagai pandemi senyap, atau “silent pandemic”.
Saya tutup orasi ilmiah dengan menjelaskan peran pentingnya konsep “One Health” atau Satu Kesehatan, yaitu kegiatan pengendalian bersama Kesehatan Manusia, Kesehatan Hewan dan Kesehatan Lingkungan.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Pembina Yayasan Kesehatan Fatma Sejahtera – STIKES Fatmawati