Karangasem (Atnews) – Penerbitan buku "Puja Sebagai Inti Sadhana, Peribadatan Hindu Menurut Ajaran Bhagawadgita" karya Guru Besar Universitas Udayana, Prof. Dr. Ir. I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa, M.T., mengupas tuntas sejarah, makna, serta peran vital Puja Tri Sandya sebagai tonggak utama peribadatan umat Hindu.
Buku itu dibagikan kepada tokoh-tokoh umat Hindu yang hadir dalam acara Mejaya-jaya Pengurus PHDI Pusat 2026-2031 yang dirangkaikan dengan acara Simakrama di kawasan suci Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali, Sabtu (24/10).
Upacara Majaya-Jaya dan Masimakrama mengambil topik "Guyub Hindu Nusantara dalam Satu Rumah Besar PHDI". Hal tersebut menjadi momentum spiritual untuk mengawali pengabdian, sekaligus memperkuat komitmen pengurus dalam menjalankan tugas pembinaan umat Hindu di Indonesia.
Buku itu hadir sebagai panduan komprehensif untuk meletakkan kembali pemahaman mendasar mengenai disiplin peribadatan (sadhana) umat Hindu agar selaras dengan tuntunan kitab suci.
Garapan buku itu juga dipersembhakan kepada orang tuanya Prof. Dr I Gusti Ngurah Bagus dikenal sebagai Bapak Kajian Kebudayaan Bali (1933-2003) dan Dra Made Sulatri dkenal Apoteker Pertama di Bali (1936-2022).
Kehadiran Puja Tri Sandya dinilai menjadi instrumen paling penting dalam mewujudkan keseragaman dan pembakuan tata cara beribadah bagi seluruh umat Hindu di Nusantara tanpa membedakan latar belakang etnis maupun daerah.
Dalam kajian historis yang dituangkan Prof. Nitya, sebelum era 1950-an atau sebelum formalisasi agama Hindu oleh Pemerintah Republik Indonesia, umat Hindu bersembahyang secara tradisi melalui cara mebakti seperti Panca Sembah atau doa bebas (prarthana/nyonteng) pada hari-hari tertentu. Formulasi doa yang baku, terstruktur, dan seragam belum dikenal secara luas oleh masyarakat.
Perkembangan signifikan terjadi pada tahun 1950 ketika cendekiawan asal India, Narendra Dev Pandit Shastri, datang ke Bali dan mulai memperkenalkan Gayatri Mantram serta merumuskan bentuk awal Tri Sandhya Mantram berdasarkan Upanishad versi lontar. Proses perumusan tersebut turut melibatkan budayawan Bali, I Gusti Bagus Sugriwa, guna menyelaraskan susunan teks agar selaras dengan tradisi dan kearifan lokal.
Selanjutnya pada tahun 1967, penyempurnaan dan pembakuan enam bait mantram Puja Tri Sandya secara resmi dilakukan melalui Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di bawah pengawalan para tokoh intelektual dan akademisi seperti Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus, dan I Ketut Bangbang Gede Rawi.
Sistematika enam bait Puja Tri Sandya dirancang dengan kedalaman makna spiritual. Tiga bait pertama—yang bersumber dari Rgveda, Narayana Upanisad, dan Siwa Stawa—berisi pujian serta penegasan keyakinan (sradha) atas keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Sedangkan bait keempat hingga keenam—yang bersumber dari kitab Weda Parikrama—berisi pengakuan keterbatasan diri, permohonan perlindungan, serta permohonan ampunan atas dosa perbuatan, perkataan, dan pikiran.
Prof. Nitya menegaskan bahwa keberadaan Puja Tri Sandya telah membuktikan bahwa sistem ibadah Hindu dapat dijalankan secara terstruktur, sistematis, dan masif. Kendati demikian, ia memberikan masukan strategis mengenai pentingnya mewujudkan keseragaman seruan Puja Tri Sandya di seluruh wilayah Nusantara.
Langkah pengumandangan seruan berkala melalui pengeras suara di banjar-banjar atau tempat ibadah perlu disempurnakan dengan penanda awal berupa denting genta/bajra atau pelafalan sloka pembuka, diikuti bait Puja Tri Sandya, serta diakhiri dengan mantram penutup.
"Puja Tri Sandya menjadi ibadat yang terpenting dan utama bagi umat Hindu, terutama yang ada di Nusantara. Dengan hadirnya puja ini, keseragaman metode beribadat secara terstruktur, sistematis, dan masif dapat diwujudkan.
Apapun asal etnisnya, asalkan beragama Hindu, cara beribadatnya sama. Keseragaman seruan atau penanda waktu puja akan memberikan dampak positif yang kuat, membangun kebanggaan, memperkuat spiritualitas kolektif, serta mempererat persaudaraan umat," ungkap Prof. I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa.
Inovasi penataan seruan Puja Tri Sandya secara seragam tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat kedisiplinan spiritual umat sehari-hari, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai inovasi sosial untuk memperkuat fungsi banjar dan tempat ibadah sebagai pusat pembinaan tradisi, moral, dan keagamaan Hindu. (GAB/YOG/001)