Badung (Atnews) – Pemerintah Kabupaten Badung berkomitmen menyelesaikan persoalan krisis air bersih yang melanda wilayah selatan Pulau Dewata. Lewat keputusan rapat pleno DPRD Kabupaten Badung pada Oktober 2026, usulan penyertaan modal daerah kepada Perumda Air Minum Tirta Mangutama (PDAM Badung) disepakati melonjak dari usulan awal Rp 73 miliar menjadi Rp 150 miliar.
Langkah penyuntikan modal skala besar ini mendapatkan dukungan penuh dari berbagai pihak. Kondisi Badung Selatan yang selama ini mengalami pertumbuhan pariwisata sangat pesat namun kerap terkendala krisis pasokan air bersih dinilai ironis, ibarat ayam mati di lumbung padi.
Anggota DPRD Badung I Wayan Puspa Negara, menegaskan bahwa alokasi modal daerah tersebut difokuskan untuk mengejar target suplai air bersih hingga 2.000 liter per detik guna memenuhi kebutuhan riil masyarakat dan industri pariwisata di kawasan selatan. Penambahan dana dari rencana awal sengaja didorong agar cakupan layanan air minum mampu menjangkau titik-titik krisis secara menyeluruh.
"Saya mendukung penuh penyertaan modal sebesar Rp 150 miliar ini. Sejauh ini Badung Selatan ibarat ayam mati di lumbung padi—pertumbuhan pariwisatanya tinggi, tetapi kebutuhan dasar air bersih belum terpenuhi secara optimal. Dengan adanya penyertaan modal ini, saya mendorong PDAM Tirta Mangutama bekerja fokus dan serius untuk menjamin masyarakat Badung, khususnya di wilayah selatan, terbebas dari krisis air bersih pada tahun 2027," tegas Puspa Negara di Badung (26/10/2026)
Sesuai arahan pengalokasian anggaran, fokus distribusi air diprioritaskan untuk memperkuat pasokan ke daerah-daerah yang kerap mengalami kendala aliran tersendat, khususnya wilayah Ungasan, Pecatu, hingga Jimbaran. Infrastruktur penyaluran serta kelancaran distribusi air baku yang bersumber dari Tukad Mati akan ditingkatkan guna menyokong area-area kritis tersebut.
Selain memperkuat jaringan pipa konvensional, penyertaan modal ini diarahkan untuk mendorong inovasi pengolahan sumber air baku jangka panjang. PDAM Tirta Mangutama didorong melakukan kajian teknis pemanfaatan teknologi desalinasi atau pengolahan air laut menjadi air bersih siap konsumsi—sebagaimana telah berhasil diterapkan di Gili Trawangan—guna menjaga keberlanjutan sumber daya air di tengah masifnya pembangunan akomodasi wisata.
Investasi jangka panjang ini diharapkan tidak hanya mengoptimalkan efisiensi dan keandalan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) secara menyeluruh, tetapi juga mendongkrak kinerja perusahaan yang pada akhirnya berkontribusi signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Badung. (YOG/001)