Jakarta (Atnews) – Lemahnya komunikasi publik dinilai masih menjadi salah satu titik krusial dalam tata kelola pemerintahan saat ini. Ketidakselarasan dalam penyampaian pesan terhadap suatu isu sering kali memicu kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat, bahkan berpotensi berdampak fatal dalam konteks hubungan diplomasi antarnegara pada Minggu, (25/10)
Pemerhati dan Praktisi Komunikasi Publik, Tantowi Yahya, mengungkapkan bahwa perbedaan pandangan yang saling bertolak belakang antarpejabat pemerintah kerap terlihat saat merespons sebuah persoalan strategis.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya (@tantowiyahyaofficial), ia mencontohkan respons pemerintah saat menanggapi protes Singapura terkait isu krisis asap lintas batas.
Dalam persoalan tersebut, tiga pejabat pemerintah memberikan respons dengan sudut pandang yang sangat bertolak belakang. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri mendorong penyelesaian secara tertutup lewat jalur diplomatik dan forum ASEAN.
Namun di sisi lain, Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) justru mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya mengirim asap tetapi juga pasokan oksigen dari hutan Nusantara.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melontarkan ancaman emosional untuk menghentikan pasokan gas ke negara yang memprotes Indonesia.
Tantowi menilai dinamika komunikasi yang tidak searah tersebut berakar dari tiga penyebab utama, yakni ketiadaan narasi tunggal (no single narrative), minimnya koordinasi antar-pemegang mandat komunikasi (lack of coordination), serta persoalan kredibilitas figur penyampai pesan (lack of credibility).
"Komunikasi publik menjadi satu titik lemah pemerintah hari ini. Terhadap satu isu, suara yang mengatasnamakan pemerintah bisa berbeda-beda dan tidak sedikit yang kontradiktif satu sama lain. Membingungkan dan bisa berakibat fatal dalam konteks hubungan antarnegara. Dalam komunikasi publik berlaku adagium 'the singer not the song', di mana lagu yang biasa saja bisa terdengar indah ketika dinyanyikan oleh penyanyi yang tepat dan disukai khalayak," ungkap Tantowi Yahya.
Lebih lanjut, mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru ini menegaskan bahwa Indonesia akan terus menghadapi beragam tantangan kompleks di masa mendatang. Oleh karena itu, kemampuan untuk membuat publik mengerti, memahami, serta mendukung kebijakan pemerintah membutuhkan strategi komunikasi tingkat tinggi yang terorkestrasi dengan matang dan tertata rapi dari pusat hingga daerah. (YOG/001)