Karangasem (Atnews) – Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Kolonel Inf. (Purn.) I Nengah Dana, S.Ag., menegaskan umat Hindu agar mengedepankan rasa kasih sayang dan komunikasi yang harmonis.
PHDI juga agar menjadi teladan dalam mengelola dinamika perbedaan pendapat di internal umat Hindu.
Nengah Dana mengingatkan bahwa perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi konflik yang merusak persatuan.
"Mari kita menyadari bahwa perbedaan itu selalu ada, dan harus dikelola agar konflik ringan tidak berkembang menjadi konflik berat," kata Nengah Dana di Karangasem, Sabtu (24/10).
Hal itu disampaikan ketika acara ritual keagamaan Mejaya-jaya Pengurus PHDI Pusat 2026-2031 yang dirangkaikan dengan acara Simakrama di kawasan suci Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali.
Upacara Majaya-Jaya dan Masimakrama mengambil topik "Guyub Hindu Nusantara dalam Satu Rumah Besar PHDI". Hal tersebut menjadi momentum spiritual untuk mengawali pengabdian, sekaligus memperkuat komitmen pengurus dalam menjalankan tugas pembinaan umat Hindu di Indonesia.
Menurutnya, setiap orang memiliki jiwa bebas. "Namun kita harus saling menghargai dan menghormati. Kita hendaknya seperti induk sapi kepada anak-anaknya yang baru lahir: saling mengasihi, menyayangi, hidup rukun, saling membantu, mendukung, dan mendoakan," harapnya.
Upaya itu agar filosofi Tat Twam Asi maupun Vasudhaiva Kutumbakam tidak sebatas slogan semata.
Jika ada hal yang kurang dipahami dari hasil Mahasabha, mari dikomunikasikan dengan baik agar tujuan terbaik dapat capai bersama Moksartam Jagathita Ya Ci Iti Dharma.
Ajaran suci itu dalam agama Hindu yang berarti: "Bahwa tujuan dari Dharma (agama/kebenaran) adalah untuk mencapai kebahagiaan rohani dan kebebasan sejati (Moksa), serta kesejahteraan dan keharmonisan hidup di dunia (Jagadhita).
Pada kesempatan itu, Nengah Dana memberikan dharma wacana kepada seluruh Pengurus PHDI Pusat 2026-2031 dalam mengemban tugas selama lima tahun ke depan.
Rangkaian acara Mejaya-jaya dan Simakrama ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, kedamaian, serta kejayaan umat Hindu dan seluruh bangsa Indonesia di bawah naungan kepengurusan majelis yang baru.
Sementara itu,bKetua Pengurus Harian PHDI Pusat, Letjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han), menjelaskan bahwa prosesi Mejaya-jaya merupakan pijakan awal yang sangat krusial bagi jajaran pengurus baru dalam mengawali masa pengabdian untuk umat Hindu di seluruh Nusantara.
"Hari ini kami berada di Pura Besakih dalam rangka kegiatan Mejaya-jaya setelah dilantik sebagai pengurus PHDI masa bhakti 2026–2031. Tujuan Mejaya-jaya ini adalah penyucian dan pembersihan diri, sekaligus bentuk rasa syukur atas amanat dan mandat dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta umat Hindu se-Nusantara. Kami memohon doa restu dan anugerah agar seluruh pengurus dituntun, dijauhkan dari cobaan dan halangan, sehingga mampu mewujudkan PHDI sebagai rumah besar bagi umat Hindu Nusantara," ujar Letjen TNI I Nyoman Cantiasa.
Prosesi ini turut dihadiri jajaran pengurus PHDI tingkat Provinsi, Kabupaten/Kota, pimpinan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Hindu seperti KMHDI, Peradah, Puskor, dan Prajaniti, para rektor perguruan tinggi keagamaan Hindu, tokoh Puri, hingga pasametonan se-Bali.
Nyoman Cantiasa memaparkan dua agenda prioritas utama kepengurusan PHDI Pusat, yakni penuntasan langkah rekonsiliasi total untuk menyatukan seluruh elemen umat serta pelaksanaan transformasi kelembagaan penataan tata kelola majelis.
"Tugas pertama kami adalah rekonsiliasi. Kita sudah bertemu dengan kelompok yang selama ini ada, dan Asung Kertha Waranugraha pada Mahasabha XIII kita dapat bersatu serta masuk dalam kepengurusan. Kami juga melaksanakan transformasi kelembagaan untuk menata kembali tata kelola organisasi agar PHDI menjadi rumah besar yang menaungi kearifan lokal beraneka ragam di seluruh Nusantara," tegas Cantiasa.
Upacara Majaya-Jaya dan Masimakrama diikuti unsur Saba Pandita, Saba Walaka serta Pengurus Harian PHDI. Hadir pula, para Sesepuh, pengurus PHDI tingkat Provinsi Bali, Kabupaten/Kota se-Bali.
Turut hadir, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Binmas) Hindu Kementrian Agama, Prof. I Nengah Duija, Kepala Biro Pemkesra Kantor Gubernur Bali, I Made Supartha, Kapoksahli Kodam IX/ Udayana, Brigjen TNI I Ketut Gunarda, Karo SDM Polda Bali, Kombes I Dewa Made Adnyana, Penglingsir Puri Agung Klungkung, Ida Dalem Semara Putra, mantan Ketua Umum PHDI Pusat Mayor Jenderal TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya (WBT), Perwakilan Organisasi Masyarakat (Ormas) bernafaskan Hindu, Pimpinan/Rektor Perguruan Tinggi, Tokoh-tokoh Puri, Perwakilan Pasemetonan se-Bali serta Organisasi Generasi Muda Hindu, seperti KMHDI, Puskor, Peradah dan para undangan lainnya.
Hadir pula Anggota Sabha Walaka PHDI Pusat Dr. I Wayan Sudirta, SH.,MH yang juga Anggota Komisi III DPR RI, Ketua Paruman Walaka PHDI Bali Prof. Dr. IGN Sudiana, M.Si, yang juga Rektor IHN IGB Sugriwa, Sekretaris PHDI Bali Putu Wirata Dwikora.
Pada saat itu, Pengurus PHDI Pusat terpilih masa bakti 2026-2031 melalui Mahasabha XIII PHDI di Jakarta bersama Pengurus PSN Pusat Masa Bakti 2026-2031 yang baru terpilih dalam Mahasabha IV PSN Pusat di Denpasar mengikuti upacara Mejaya-Jaya dan Masimakrama.
Menariknya, 5 Sulinggih Sabha Pandita PHDI Pusat memimpin jalannya upacara Majaya-Jaya, yakni Ida Pandita Mpu Siwa Budha Daksa Darmita selaku Dharma Adyaksa PHDI Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Wangsa Pemayun, Ida Pedanda Gede Wayahan Wanasari, Ida Rsi Agung Wayahan Suta Dharma Jaya Giri, dan Ida Peranda Rshi Agung Pinatih Kesuma Yoga. (GAB/YOG)