Denpasar (Atnews) - Gubernur Bali Wayan Koster angkat bicara mengenai desakan publik soal Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri dicopot dari jabatannya, menyusul kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang masih melanda Bali.
Gubernur Koster menegaskan, pencopotan pimpinan Pertamina bukan merupakan kewenangannya. Ia memilih agar penanganan persoalan BBM difokuskan pada pemulihan pasokan dan kelancaran distribusi kepada masyarakat.
"Waduh, kalau itu jangan tanya saya. Jangan tanya saya, itu bukan kewenangan saya," kata Gubernur Bali Wayan Koster, saat ditanya mengenai desakan pencopotan Simon Aloysius Mantiri, di Intercontinental Hotel Jimbaran, Kabupaten Badung, Jumat (16/10/2026).
Ditengah kelangkaan BBM yang belum sepenuhnya teratasi, Koster mengakui kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat, termasuk sektor pariwisata. Meski demikian, Gubernur Koster menyebut potensi kerugian akibat persoalan tersebut belum dihitung.
"Belum dihitung. Tentu saja ada dampak, karena mengurangi aktivitas. Jadi, mari kita fokus mengatasi agar distribusi dan layanan BBM ini lancar dulu, itu yang kita fokuskan," kata Gubernur Koster.
Hingga Jumat (16/10/2026) malam, antrean kendaraan masih terpantau di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Bali. Masyarakat masih menantikan kepastian pasokan serta penjelasan transparan mengenai penyebab dan langkah penanganan kelangkaan BBM.
Desakan agar Simon Aloysius Mantiri dicopot dari jabatannya terus bermunculan seiring dampak kelangkaan BBM yang dirasakan masyarakat.
Sejumlah tokoh publik dan anggota DPRD Bali menilai perlu ada pertanggungjawaban atas persoalan pasokan dan distribusi bahan bakar di Pulau Dewata.
Tokoh publik Bali, Gede Ngurah Wididana atau yang dikenal sebagai Pak Oles, secara terbuka mengkritik penanganan kelangkaan BBM. Ia meminta pejabat yang bertanggung jawab menjalankan tugasnya untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
"Tolonglah yang merasa dirinya pejabat, yang sudah digaji untuk mengatur jalannya negara dan kehidupan masyarakat banyak mereka sudah bekerja mati-matian dan membayar pajak untuk gaji Anda. Ternyata Anda masih pura-pura bingung, padahal itu tanggung jawab Anda. Sementara rakyat menangis mengais rejeki untuk menggaji Anda," tegas Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr, yang dikenal sebagai Pak Oles.
Kritik senada disampaikan Ketua Yayasan Keris Bali sekaligus Ketua DPW Partai Perindo Bali, I Ketut Putra Ismaya Jaya alias Jro Bima. Iamendesak pimpinan Pertamina bertanggung jawab atas persoalan yang terjadi.
"Copot Dirut Utama Pertamina Patra Niaga Simon Aloysius Mantiri. Pertamina jangan lari dari tanggung jawab," tegas Jro Bima.
Dari kalangan legislatif, Wakil Ketua Komisi I DPRD Provinsi Bali I Dewa Nyoman Rai, anggota DPRD Bali dari Daerah Pemilihan Badung I Wayan Bawa, S.H., dari Fraksi PDI Perjuangan, serta Dr. Somvir turut melontarkan kritik keras atas penanganan kelangkaan BBM.
Wayan Bawa bahkan meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi pejabat yang dinilai tidak mampu menangani persoalan tersebut.
"Ini Presiden Prabowo, pecat saja Menteri ESDM dan Direktur Pertamina Bali jika memang tidak mampu mengatasi persoalan ini. Bali begitu terkenal di dunia, menjadi barometer Indonesia, tetapi sampai terjadi hal seperti ini. Ini sudah tidak benar,” tegas Wayan Bawa.
Persoalan BBM di Bali juga memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku industri pariwisata. Gangguan pasokan dinilai berpotensi menghambat layanan transportasi wisata, penjemputan tamu, hingga perjalanan menuju berbagai destinasi.
Tokoh pariwisata Bali, Jhon K Purna meminta pemerintah dan pihak yang memiliki kewenangan segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut.
Menurutnya, gangguan yang terjadi di Bali dapat berdampak terhadap citra pariwisata Indonesia di mata dunia.
"Siapapun mereka yang punya kebijakan masalah ini, bantu deh, tolong Bali. Karena Bali ini, begitu ada isu di Bali, wilayahnya bukan nasional saja, ini kan ke internasional," kata Jhon Purna, saat ditemui dalam Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali, Jumat (16/10/2026).
Jhon Purna menjelaskan, wisatawan yang telah merencanakan perjalanan sejak beberapa bulan sebelumnya berisiko mengalami gangguan apabila sopir atau agen perjalanan tidak memperoleh BBM untuk menjalankan layanan penjemputan dan tur.
"Begitu sampai di Bali, sopirnya atau agennya sudah membatalkan. Alasannya apa? Kita tidak punya BBM. Kan malu," kata Jhon Purna.
Jhon Purna juga menyoroti dugaan penurunan kunjungan wisatawan ke destinasi Jatiluwih, Kabupaten Tabanan.
Dalam keterangannya, Jhon Purna menyebut penurunan kunjungan mencapai 30 persen, kemudian meningkat menjadi 50 persen pada hari berikutnya.
Namun, angka tersebut masih berdasarkan keterangan narasumber dan belum disertai data pembanding independen.
Menurut Jhon Purna, dampak kelangkaan BBM berpotensi meluas ke berbagai lini usaha pariwisata, mulai dari transportasi wisata, restoran, spa, hingga objek wisata, khususnya destinasi yang berada jauh dari pusat keramaian.
Ditengah antrean kendaraan yang masih terjadi dan kekhawatiran pelaku usaha terhadap dampak ekonomi, pemulihan pasokan BBM menjadi perhatian utama masyarakat Bali.
Pemerintah dan Pertamina kini dihadapkan pada tuntutan untuk memastikan distribusi berjalan lancar, pelayanan SPBU kembali normal, serta memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat mengenai perkembangan penanganan kelangkaan BBM di Bali.
Sementara, PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus terus mengoptimalkan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan layanan BBM di Bali. Salah satunya melalui peningkatan kapasitas Pertamina Delivery Service (PDS), yakni layanan penjualan Pertalite secara literan di sejumlah SPBU dengan kepadatan antrean tinggi di Kota Denpasar. Langkah ini dilakukan bersamaan dengan penguatan pasokan dan optimalisasi operasional penyaluran untuk membantu masyarakat mendapatkan BBM dengan lebih mudah.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa kondisi antrean di sejumlah SPBU mulai berangsur landai. Pertamina Patra Niaga terus memantau situasi dan menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan kebutuhan masyarakat serta perkembangan kondisi di lapangan.
“Perbaikan kondisi antrean menjadi perkembangan positif bagi kami. Untuk mendukung pemulihan layanan, kami memaksimalkan Pertamina Delivery Service sebagai salah satu alternatif pelayanan bagi pengendara sepeda motor, terutama di titik-titik yang membutuhkan penanganan lebih lanjut. Lokasi dan kapasitas layanan terus kami evaluasi agar dapat menjangkau masyarakat sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Ahad.
Melalui layanan PDS, Pertamina Patra Niaga menyalurkan sekitar 5.000 liter Pertalite per hari di sejumlah SPBU di Kota Denpasar. Mulai Jumat (16/10), kapasitas layanan ditingkatkan untuk membantu menjangkau lebih banyak masyarakat sekaligus mengurangi kepadatan antrean pada titik-titik tertentu.
Layanan ini menyasar pengendara sepeda motor dengan batas pembelian maksimal tiga liter per orang dan pembayaran secara tunai. Sejumlah titik layanan PDS berada di SPBU Teras Ayung, Nangka Utara, Nangka Utara, Kesiman, Trenggana, Hayam Wuruk, Antasura, Renon, dan Imam Bonjol. Penentuan titik layanan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan kondisi antrean dan kebutuhan masyarakat.
Selain mengoptimalkan layanan di SPBU, Pertamina Patra Niaga juga memperkuat pasokan melalui jalur laut. Pada Jumat (16/10), MT Pangkalan Brandan bersandar di Integrated Terminal (IT) Manggis dengan membawa 16 juta liter Pertalite, sementara MT Asian Rigel bersandar di Fuel Terminal (FT) Sanggaran dengan membawa 4 juta liter Pertalite. Total muatan kedua kapal tersebut mencapai 20 juta liter Pertalite untuk mendukung penguatan pasokan di Bali.
Penguatan pasokan tersebut didukung operasional IT Manggis dan FT Sanggaran selama 24 jam serta kesiapan 108 armada mobil tangki dan 465 awak mobil tangki untuk penyaluran. Pertamina Patra Niaga juga terus memantau ketersediaan stok dan mempercepat penyaluran dari terminal menuju SPBU sesuai kebutuhan, dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan.
Di sisi pelayanan, sebanyak 66 SPBU di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung disiapkan beroperasi selama 24 jam, terdiri atas 42 SPBU di Denpasar dan 24 SPBU di Badung. Koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat kepolisian, serta pemangku kepentingan terkait juga terus diperkuat untuk mendukung kelancaran operasional dan menjaga situasi tetap kondusif.
“Kami terus mengupayakan pemulihan layanan melalui penguatan pasokan dan optimalisasi berbagai jalur pelayanan. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat dan mengapresiasi dukungan seluruh pihak. Kami berharap masyarakat tetap tenang, membeli BBM sesuai kebutuhan, serta mengikuti informasi dari kanal resmi Pertamina agar upaya pemulihan dapat berjalan dengan baik,” tutup Ahad.
Masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai layanan SPBU di Bali melalui akun Instagram resmi @patraniaga.jatimbalinus dan @pertaminabali. Untuk menyampaikan kendala atau memperoleh informasi lebih lanjut mengenai layanan energi Pertamina, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Contact Center 135. (GAB/WIG/001)