Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Pada 16 Oktober 2026 saya terbang dari Jakarta ke Hongkong melalui Kuala Lumpur. Karena lepas landasan dari Bandara Sukarno Hatta jam 4 pagi -tentu masih gelap- maka saya tidak perhatikan apakah udara luar bersih atau tidak.
Tetapi, sekitar 5.30 ketika mulai terang dan terbang di atas Sumatra maka terlihat jelas sekali bahwa udara berkabut asap. Ketika mendarat di Kuala Lumpur maka udara juga berkabut asap, saya dengar pramugari bicara dengan rekannya, "jerebu", bahasa Malaysia untuk "haze".
Saya cek kadar polutannya, dan di pagi ini Air Quality Index (AQI) Kuala Lumpur 177, Tidak Sehat. Ini ditambah lagi dengan kadar PM 2.5 yang sangat tinggi, 92,1 ug/m3.
Dari Kuala Lumpur pesawat saya berangkat ke Hongkong, dan sepanjang perjalanan langit bersih bersinar. Siang hari saya sampai di Hongkong, kadar AQI nya 73 dan kadar PM 2.5 adalah 20,7, amat berbeda dengan Kuala Lumpur.
Lebih lagi, waktu saya cek kadar polusi di Kuala Lumpur siang hari maka AQI nya naik jadi 207 (Sangat Tidak Sehat) dan PM 2,5 juga meningkat menjadi 131,5.
Seperti diketahui PM 2,5 adalah partikel kecil sekali yang bisa masuk jauh ke dalam alveolus paru dimana terjadi udara yang kita hisap akan masuk ke peredaran darah. Jadi, si partikel asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya akan berdampak pada paru dan saluran napas tetapi juga beredar ke seluruh tubuh, dengan berbagai masalahnya. Sekarang bahkan diperkenalkan partikel yang lebih kecil lagi ukurannya, yaitu "Ultra Fine Particle (UFP)" yang perlu kita waspadai.
Kita jelas perlu upaya maksimal agar karhutla benar-benar dapat dipadamkan. Kita juga tentu perlu waspada dengan berita bahwa "World Meteorological Organization (WMO)" pernah memperkirakan El Nino Godzila dapat saja berlanjut sampai Februari 2027, tentu dengan segala dampaknya kalau memang benar terjadi.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), sedang di Hongkong