Denpasar (Atnews) – Keterbatasan pasokan dan antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM) di sejumlah SPBU wilayah Bali mulai memberikan dampak nyata terhadap aktivitas perekonomian masyarakat serta sektor pariwisata.
Pengamat Ekonomi Bali, Trisno Nugroho, menilai bahwa krisis pasokan energi ini berpotensi memicu penurunan produktivitas dan membengkaknya biaya operasional dunia usaha jika tidak segera ditangani secara terukur dan cepat.
Menurut Trisno, berkurangnya waktu produktif masyarakat akibat tingginya waktu tunggu di SPBU menjadi beban riil, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan harian dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Meskipun proyeksi dampak makroekonomi terhadap pertumbuhan ekonomi Bali tergolong relatif terbatas pada kisaran 0,014 hingga 0,019 persen untuk gangguan tiga hingga tujuh hari, tekanan ekonomi pada tingkat rumah tangga dan sektor informal dirasakan jauh lebih berat.
"Keterbatasan BBM sudah menimbulkan beban nyata bagi masyarakat dan dunia usaha. BBM merupakan kebutuhan penting untuk bekerja, berdagang, mengantar barang, dan menjalankan pelayanan.
Ketika masyarakat harus menghabiskan waktu untuk mengantre, waktu produktif berkurang, biaya perjalanan bertambah, dan kegiatan usaha berpotensi tertunda," ujar Trisno Nugroho.
Sektor pariwisata yang mengandalkan kelancaran mobilitas serta kepastian pelayanan turut merasakan imbas langsung dari kendala distribusi ini. Gangguan terjadi pada operasional angkutan wisatawan, penjemputan tamu hotel, hingga kelancaran pengiriman kebutuhan pendukung seperti pasokan bahan makanan dan layanan penunjang lainnya.
Ketidakpastian waktu tempuh akibat antrean kendaraan yang meluber ke jalan raya berpotensi menggerus kepuasan wisatawan serta menurunkan margin usaha para pelaku industri jasa pariwisata.
"Pariwisata Bali sangat bergantung pada kelancaran mobilitas dan ketepatan pelayanan. Keterbatasan BBM dapat mengganggu ketepatan jadwal tersebut dan mengurangi kenyamanan perjalanan. Pengalaman perjalanan dibentuk oleh keindahan destinasi, kualitas pelayanan, dan kepastian kegiatan sehari-hari," jelasnya.
Guna meminimalkan dampak ekonomi dan menjaga citra pariwisata Bali, Trisno mengapresiasi langkah responsif pemerintah daerah dan Pertamina dalam menambah pasokan serta mengoperasikan SPBU selama 24 jam secara bertahap.
Namun, ia menyarankan agar pemulihan pelayanan difokuskan pada keterbukaan data ketersediaan BBM secara real-time, koordinasi rantai pasok logistik dari kapal hingga dermaga, serta pemetaan prioritas untuk sektor-sektor vital seperti angkutan umum dan distribusi pangan.
"Ukuran keberhasilan yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah BBM tersedia ketika dibutuhkan dan waktu antre semakin pendek. Untuk menjaga citra pariwisata, komunikasi perlu menyampaikan kondisi secara proporsional, langkah yang sedang dilaksanakan, dan perkembangan pemulihannya," pungkas Trisno. (YOG/001)