Dampak Kesehatan Paru Karhutla Sudah Lebih Seperempat Abad
Banner Bawah

Dampak Kesehatan Paru Karhutla Sudah Lebih Seperempat Abad

Admin 2 - atnews

2026-10-15
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dampak Kesehatan Paru Karhutla Sudah Lebih Seperempat Abad
Dampak Karhutla untuk kesehatan (ist/atnews)
Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih terjadi sampai hari ini, dengan banyak sekali dampak kesehatannya, apalagi ini sudah berjalan lebih dari 3 bulan. Ini bukan masalah baru untuk kita. Pada tahun 2000 -dua puluh enam tahun yang lalu- saya sudah mempublikasikan penelitian di Jurnal Ilmiah Internasional “Respirology”, yang judulnya “Impact of haze from forest fire to respiratory health: Indonesian experience”. 

Penelitian saya itu berdasar pada situasi kebakaran hutan yang luas di tahun 1997 -1998, yang meliputi data 6 propinsi di Sumatra dan 4 propinsi Kalimantan, dan hasilya sudah saya presentasikan juga di Kongres Asia Pacific Society of Respirology (APSR) di Yokohama Jepang. 

Yang saya analisa dalam penelitian ini adalah angka jumlah kematian serta kejadian penyakit asma, bronkitis dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Juga dilaporkan data tentang jumlah pasien rawat jalan, rawat inap dan juga hilangnya hari kerja.

Selain itu ditampilkan juga data tentang keluhan para dokter di lapangan yang terpapar asap kebakaran hutan 10 – 12 jam, yang terdiri dari keluhan batuk, iritasi tenggorok, sakit kepala, iritasi mata dan keringat dingin.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara bermakna ditemukan dampak asap kebakaran hutan pada peningkatan gangguan pernapasan, fungsi paru, berbagai keluhan paru serta dampak terkait lainnya. 

Dalam jurnal ilmiah ini disebutkan juga bahwa kebakaran hutan yang besar sebenarnya sudah terjadi dinegara kita sejak tahun sekitar 1982, lalu disusul dengan kejadian besar lagi di tahun 1994 dan lalu 1997 yang datanya dilaporkan pada penelitian ilmiah ini.

Dalam tulisan ilmiah ini saya bahas juga tentang kegiatan/ program apa yang perlu dilakukan, yang dibagi tiga fase, yaitu sebelum terjadi kebakaran hutan (“pre-disaster”), ketika terjadi kebakaran hutan (“disaster”) dan sesudah kebakaran hutan (“post-disaster”). Tentu baiknya program dan kegiatan ini dapat juga dilakukan di masa sekarang ini. 

Publikasi ilmiah saya di tahun 2000 ini menunjukkan bahwa walaupun sudah seperempat abad berlalu tapi sampai sekarang kita masih menghadapi masalah kesehatan akibat asap kebakaran hutan ini. Kita belum dapat belajar dari pengalaman yang ada.

*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia

Baca Artikel Menarik Lainnya : PLN Bali Serahkan 3000 Botol Tempat Tirta di Pura Besakih

Terpopuler

Jaga Estetika Kota, Kabel Fiber Optik Semrawut di Singaraja Ditertibkan, Pemkab Buleleng Libatkan APJATEL dan ISP

Jaga Estetika Kota, Kabel Fiber Optik Semrawut di Singaraja Ditertibkan, Pemkab Buleleng Libatkan APJATEL dan ISP

Mahasabha Parisada XIII, Transformasi dan Adaptasi Hindu Dharma

Mahasabha Parisada XIII, Transformasi dan Adaptasi Hindu Dharma

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Terima Presiden FIFA, Prabowo Tegaskan Sepak Bola Berperan Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

Terima Presiden FIFA, Prabowo Tegaskan Sepak Bola Berperan Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

Lima hal X Ray – AI TB pada CKG

Lima hal X Ray – AI TB pada CKG

Kemnaker Targetkan 70 Persen Lulusan Vokasi Bekerja

Kemnaker Targetkan 70 Persen Lulusan Vokasi Bekerja