Warisan Leluhur Medewasraya Pura Tuluk Biyu Batur, Transformasikan untuk Menjawab Krisis hingga Tantangan Zaman
Warisan Leluhur Medewasraya Pura Tuluk Biyu Batur, Transformasikan untuk Menjawab Krisis hingga Tantangan Zaman
Admin 2 -
atnews
2026-10-07
Bagikan :
Karya Agung Medewasraya (ist/atnews)
Bangli (Atnews) - Dane Jero Kelodan Pura Tuluk Biyu Batur didampingi Dane Jero Kaleran merasakan penuh berkah mampu menyelenggarakan yadnya berderajat utama yaitu Karya Agung Medewasraya.
"Kita berkumpul bukan hanya dalam balutan tradisi, melainkan dalam sebuah penyerahan jiwa secara kolektif. Yang sangat spesial di sasih kapat tahun ini Pura Tuluk Biyu batur, menyelenggarakan yadnya berderajat utama yaitu Karya Agung Medewasraya di tengah keheningan dan keharmonisan Parhyangan Pura Tuluk Biyu Batur," kata Dane Jero Kelodan.
Hal itu disampaikan ketika acara Muspayang Bhakti Pepranian Karya Agung Madewasraya di Pura Kahyangan Jagat Tuluk Biyu Batur, Selasa (6/10/2026).
Acara itu dihadiri Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu Kementrian Agama, Prof. I Nengah Duija.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua PHDI Provinsi Bali yang diwakili Prof. I Made Pageh, Pamucuk Pura Tuluk Biyu, Penglingsir Desa Adat Batur/Kintamani, perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Bangli, serta unsur Forkopimda Provinsi Bali dan Kabupaten Bangli, Ketua Pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali Dr Putu Agung Prianta,B.Eng (Hons.), MA, Ketua Panitia I Wayan Gunawan.
Menurutnya, secara etimologis Sanskrit dan Jawa Kuna, Madewasraya terpatri dari dua suku kata sakral: Dewa berarti percikan sianr suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Asraya berarti perlindungan atau penyerahan diri spiritual mutlak.
Jadi Medewasraya adalah penyerahan diri mutlak/meminta perlindungan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang dalam hal ini Ida Bhatara-Bhatari Sakti yang berstana di Puncak Gunung Tuluk Biyu/ Gunung Abang.
Sebagaimana termaktub dalam Prasasti Pura Abang A (Lempengan VI.B): 'Yan hana sang madewasraya i Sanghyang Ukir Tuluk Biyu...' — apabila marabahaya dan goncangan melanda persada, patutlah umat bersujud dan memohon perlindungan langsung di Puncak Luhur Gunung Tuluk Biyu/ gunung Abang.
Pura Tuluk Biyu Batur bukanlah sekadar situs ritual, melainkan pilar peradaban megalitik dan spiritual salah satu yang tertua di Bali. Warisan luhur ini terekam abadi dalam kumpulan Tambra Prasasti lintas abad: Prasasti Air Hawang I (933 Caka / 1011 M): Mengabadikan kepemimpinan Paduka Sri Dharmmodayana Warmadewa. Menggunakan bahasa dan huruf jawa kuna dengan beberapa kata Bali kuna, yang menyebutkan daerah, karaman I wingkang ranu air hawang.
Prasasti kelompok II (1103 Caka /1181 M): Mencatat era Paduka Sri Maharaja Haji Jaya pangus bersama Permaisuri Paduka Sri Mahadewi Sri Sasangkaja-Ketana, menggunakan bahasa dan huruf jawa kuna menyebut nama Er Abang mempertegas kesinambungan perlindungan kosmologis kawasan ini. Dan menyebut juga nama Bhatara Bhatari Tuluk Biyu.
Prasasti kelompok III (1306 Caka / 1384 M). Menyebutkan nama raja dengan abhiseka Paduka Sri Maharaja Rajasaparameswara Sri Sakalananda, Paduka Parameswara Sri Wijayarajasa Namadewabhiseka, menggunakan huruf dan bahasa Jawa kuna. Yang juga mempertegas kesinambungan perlindungan kosmologis kawasan ini.
Disamping 3 kelompok prasasti yang kami sungsung, kami juga menerima bisama sebagai berikut:
Pada era dahulu Bali menghadapi krisis multidimensional—peperangan,wabah penyakit (gring sasab mrana), kegagalan panen, serta ketidakseimbangan ekologis. Melalui yoga semadhi Hyang Siwa Pasupati, terpancar bantuan spiritual berupa Tirta Banyu Geger yang diturunkan beliau di puncak Gunung Abang untuk melebur segala malapetaka.
Kajian kritis epigrafi dunia menguatkan keabsahan naskah ini. Dr. Sukarto Karto Atmojo menegaskan nilai jejak megalitiknya; J.G. de Casparis memandang prasasti sebagai dokumen hukum kenegaraan yang mutlak dan jujur dan merupakan sumber historis primer dalam hal mengkaji sebuah peristiwa sejarah secara kongkrit ; Boechari juga memvalidasinya sebagai bukti historis penanggulangan krisis makrokosmos; serta B.J. Bekker mengartikannya sebagai piagam pranata kebudayaan yang mengunci ikatan sosio-religius penyungsung secara abadi.
Saat ini pada abad ke-21, lanskap krisis yang tidak berbeda jauh dengan seribu tahun lalu. Erupsi rangkaian gunung berapi, gejolak geopolitik global, serta ancaman krisis iklim yang berujung pada krisis pangan menuntut manusia modern untuk melakukan penataan ulang atas hubungan pihaknya dengan alam dan Sang Pencipta.
Gunung Tuluk Biyu/Gunung Abang dan Danau Batur adalah hulu kehidupan Bali—sumber air, keberlanjutan, dan kedamaian. Dan dalam konteks siwaistik merupakan pewujudan dari lingga dan yoni, gunung abang sebagai lingganya dan danau batur sebagai yoninya
Melalui rangkaian ritual Tawur Agung Lebuh Gentuh dan Bhakti Pakelem di Puncak Gunung Abang dan Danau Batur, yang merupakan serangkaian karya angung medewa sraya, pihaknya mengetuk pintu langit dan ibu pertiwi demi memohon keseimbangan makrokosmos (Bhuana Agung) dan mikrokosmos (Bhuana Alit), mewujudkan cita-cita universal: Gemah Ripah Loh Jinawi, Tata Tentrem Kertha Raharja.
Disamping itu, dalam rangkaian upacara Madewasraya ini, sebuah sejarah baru telah terukir.
Berdasarkan Surat PHDI Bali No. 59/Um.PHDI Bali/VI/2025 dan yang diabadikan pada Lingga Batu oleh PHDI Provinsi Bali dan Gubernur Bali, status Pura Tuluk Biyu Batur secara resmi telah dikukuhkan dan ditegaskan kembali sebagai PURA KAHYANGAN JAGAT.
"Umat sedharma, para tokoh, dan seluruh pemedek yang saya sucikan. Pada kesempatan yang mulia ini, sebagai Pemucuk Pura Tuluk Biyu Batur, saya merasa perlu untuk kembali mengingatkan kita semua tentang hakikat luhur dari warisan leluhur kita," ungkapnya.
Melalui pelaksanaan Upacara Madéwāśraya ini, ada beberapa pesan penting dan amanat suci dari Prasasti Tuluk Biyu yang harus kita resapi dan laksanakan bersama antara lain :
1) Pemulihan Keharmonisan Alam dan Manusia: Upacara Madéwāśraya bukan semata-mata tradisi ritual yang duwarisi secara turun-temurun, melainkan memiliki pesan yang sangat mendalam tentang hubungan kita dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Sebagaimana direkam dalam Prasasti Air Hawang, leluhurnya menyadari bahwa segala persoalan hidup—baik itu konflik sosial, kerusakan alam, ancaman pangan, hingga wabah—adalah bentuk ketidakharmonisan yang harus pulihkan bersama. Kedamaian hidup kita sebagai manusia tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kedamaian alam di sekitar.
2) Kesucian Pura Berawal dari Kelestarian Lingkungan (Ekoteologi): pihaknya harus menyadari bahwa menjaga alam adalah bagian tidak terpisahkan dari tanggung jawab keagamaan. Tirtha Banyu Gēgēr, Gunung Abang, dan Pura Tuluk Biyu ini adalah satu kesatuan spiritual dan ekologis yang tidak boleh dipisahkan.
Kesucian Pura ini harus berjalan beriringan dengan kebersihan dan kelestarian lingkungan di sekitarnya. Yadnya dan bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa harus dibuktikan dengan perilaku nyata: jangan merusak hutan, jangan mencemari sumber air, dan jangan mengeksploitasi alam secara berlebihan.
3) Memperkuat Semangat 'Keguyuban' dan Solidaritas: Pesan suci dari Madéwāśraya juga adalah tentang kerukunan. Keselamatan bersama tidak mungkin bisa kita capai jika masih ada ego, perselisihan, dan keterpecahan antar sesama.
Tradisi ini menuntut kebersamaan antara pemimpin, sulinggih, tokoh adat, masyarakat, petani, dan seluruh unsur umat. Yadnya itu mengajarkan pihaknya bahwa bakti bukan hanya urusan vertikal ke hadapan Tuhan, tetapi juga soal gotong royong dan kepedulian terhadap sesama.
4) Pura Sebagai Pusat Pendidikan dan Pembinaan Generasi: Ke depannya, Pura Tuluk Biyu Batur tidak hanya dijadikan tempat persembahyangan dan upacara saja. Pura ini harus akan dijadikan pusat pendidikan, pembinaan karakter, penguatan solidaritas, dan pelestarian nilai agar dampaknya dirasakan oleh masyarakat lintas generasi.
"Kepada umat sekalian, terutamanya generasi muda, saya berpesan agar kita jangan sampai hanya menjadi pelaksana tradisi tanpa memahami maknanya. Pelajari tattwa, sejarah, dan nilai dari prasasti serta kearifan lokal kita.
Warisan leluhur ini akan tetap hidup jika nilai-nilainya mampu kita transformasikan untuk menjawab tantangan dan persoalan kehidupan kita pada hari ini," ungkapnya.
"The legacy of Tuluk Biyu Batur is a profound reminder that we are not merely inhabitants of this earth, but its sacred custodians. As we navigate the complex ecological and global crises of our modern time, we must realize that our reverence for the Divine is utterly inseparable from our reverence for nature. Let us transcend boundaries, transforming our ancient spiritual wisdom into a modern global action, to restore the harmony of our earth for the generations to come." (Makna: Warisan Tuluk Biyu Batur adalah pengingat mendalam bahwa kita bukan sekadar penghuni bumi ini, melainkan penjaga sucinya.
Saat kita menavigasi krisis ekologi dan global yang kompleks di zaman modern ini, kita harus menyadari bahwa penghormatan kita kepada Tuhan sama sekali tidak dapat dipisahkan dari penghormatan kita terhadap alam. Mari kita melampaui batas, mengubah kebijaksanaan spiritual kuno kita menjadi aksi global modern, untuk memulihkan keharmonisan bumi kita bagi generasi yang akan datang.)
Ia pun ucapkan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam disampaikan kepada Tim Peneliti, Tim Penureksa Sejarah, Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Bangli, seluruh Bupati/Walikota se-Bali, Panitia Penyelenggara, pasyan ida bhatara serta seluruh krama pengayah dan penyungsung yang telah memberikan sumbangsih, punia, dan tenaga dari tanggal 16 September 2026 sampai dengan hari ini pelaksanaan Karya agung medewasraya dan Pujawali Ngusaba Purnamaning Sasih Kapat.
"Marilah kita jadikan momentum Karya Agung Medewasraya ini sebagai sarana Mulat Sarira (introspeksi diri) dan Indriya Ngeret (pengendaliandiri). Semoga sinar suci Ida Sang hyang Widhi Wasa, Ida Bhatara Sakti Tuluk Biyu, melimpahkan kerahayuan, keteguhan iman, dan kedamaian abadi bagi Bali, Indonesia, dan seluruh dunia," pungkasnya. (GAB/002)