Suasta Kembali Kunjungi Tiongkok, Pembangunan Melaju Pesat di Asia
Banner Bawah

Suasta Kembali Kunjungi Tiongkok, Pembangunan Melaju Pesat di Asia

Admin 2 - atnews

2026-09-28
Bagikan :
Dokumentasi dari - Suasta Kembali Kunjungi Tiongkok, Pembangunan Melaju Pesat di Asia
Pengelana Global Putu Suasta (ist/atnews)
Chongqing (Atnews) - Pengelana Global Putu Suasta kembali mengunjungi Tiongkok (China) yang melaju pesat di Benua Asia.

Baginya, Tiongkok bukanlah negeri asing. Kunjungan kali ini adalah yang ketujuh kalinya. Namun, seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, rasa heran itu tetap muncul.

“Tiongkok terus bergerak cepat dengan pembangunan yang mencengangkan,” kata Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University saat mengunjungi Chongqing, China, Minggu (20/9).

Menurutnya, banyak orang masih membayangkan Tiongkok hanya sebagai museum peradaban tua. 

Padahal warisannya memang fenomenal dan melegenda. Sebut saja Tembok Besar, Kota Terlarang dan Istana Musim Panas di Beijing, Pasukan Terakota di Xi’an, Kuil Langit, Leshan Giant Buddha, hingga Kota Air Suzhou. Semua peninggalan itu masih berdiri kokoh hingga kini.

“Yang luar biasa adalah cara mereka merawatnya. Peninggalan itu dijaga dengan disiplin tinggi. Masyarakatnya sangat menjaga kebersihan dan keteraturan. Hampir tidak ada coretan, tidak ada sampah. Ada kebanggaan yang luar biasa pada sejarah,” catat Putu.

Namun, lanjut Putu, dunia hari ini tidak lagi hanya disuguhkan pada romantisme masa lalu itu. Tiongkok tiada henti mengejutkan dengan karya-karya modernnya. Ia menyebut beberapa di antaranya:

Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Macau yang membelah lautan sepanjang 55 kilometer, Terowongan Bawah Laut Jiaozhou, jaringan Kereta Cepat Fuxing yang kini menjadi yang terpanjang di dunia, hingga Bandara Internasional Daxing yang futuristik.

“Pembangunan ini seolah ingin menunjukkan, Tiongkok tidak hendak berhenti di masa lalu, tapi sedang membangun kota untuk masa depan,” katanya.

Salah satu bukti paling nyata dari lompatan itu, menurut Putu, adalah kota tempatnya berpijak saat ini Chongqing. Kota yang pada tahun 1997 masih menjadi bagian dari Provinsi Sichuan, kini telah ditingkatkan menjadi Kotamadya raksasa yang langsung di bawah Pemerintah Pusat.

Chongqing kini menjadi pusat industri dan perdagangan terbesar di Tiongkok Barat, dengan populasi lebih dari 30 juta jiwa dan laju pembangunan tercepat.

“Di sini kita bisa lihat bagaimana yang lama dan yang baru berdampingan dengan sangat harmonis. Ada Kota Tua Ciqikou yang kuno, bersebelahan dengan gedung-gedung asimetris super modern seperti Raffles City. Dan tentu saja yang paling ikonik, kereta monorel yang menembus gedung di Stasiun Liziba. Itu hanya ada di Chongqing,” ungkapnya.


Putu juga menceritakan pengalaman uniknya menikmati pertemuan dua sungai raksasa di pusat kota, Sungai Yangtze dan Sungai Jialing di kawasan Chaotianmen. Di siang hari ia melihat pertemuan dua warna air yang berbeda, di sore hari ia naik Kereta Gantung Sungai Yangtze, dan di malam hari ia larut dalam Pelayaran Dua Sungai.

“Malam hari di sini seperti di film fiksi ilmiah. Gua Hongya menyala, jembatan-jembatan diterangi, gedung pencakar langit menjulang dari lereng. Bahkan sungai pun tak bisa bertemu tanpa efek khusus,” ujarnya sambil tertawa.

“Pembangunan di Tiongkok memang terus berlangsung cepat dan mencengangkan. Saya sudah tujuh kali ke sini, tapi tetap kagok dan terheran-heran melihat perubahannya. Selalu ada yang baru,” tutup Putu.

Seperti pepatah Tiongkok, "mereka yang punya ikatan kuat akan tetap bertemu meski terpisah ribuan mil." Itulah gambaran hubungan kemitraan antara Indonesia dan Tiongkok. Dua negara yang terus saling menguatkan dalam mentransformasikan persahabatan menjadi kesejahteraan bersama.

Di akhir catatannya, pengelana asal Bali itu berpesan, pepatah lama “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok” masih sangat berlaku. “Pepatah itu klasik, tapi semakin lama semakin benar. Tiongkok mengajarkan kita bagaimana merawat masa lalu sambil berlari kencang ke masa depan. Dan itu perlu terus kita sadari,” pungkasnya.

Pesan Putu itu terasa semakin relevan jika membaca pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Kamis (17/9/26) di Beijing.

Memenuhi undangan Dewan Ekonomi dan Sosial Tiongkok (CESC) untuk memberikan keynote speech pada China Economic and Social Forum 2026 di Hangzhou.

Luhut sampaikan bahwa saat ini kebijakan proteksionis global melonjak 3,4 kali lipat sejak 2019, membuat ketidakpastian dunia berada di titik tertinggi dalam hampir dua dekade. Negara-negara membangun tembok satu sama lain, justru saat kita paling butuh kerja sama.

Menyikapi hal ini, prinsip Indonesia tetap sama; tidak berpihak pada satu blok kekuatan manapun, namun tetap aktif bekerja sama dengan semua negara, sesuai dengan tradisi Bung Hatta dalam "Mendayung Antara Dua Karang". Modal kita cukup kuat: ekonomi tumbuh 5,1%, inflasi terkendali, rasio utang jauh lebih sehat dari banyak negara maju.

Ia sampaikan pula agenda pembangunan Presiden Prabowo saat ini yang berfokus pada pertumbuhan yang nyata dirasakan oleh rakyat lewat perluasan akses pangan bergizi, kesehatan, pendidikan, dan energi terjangkau yang sejalan dengan transformasi ekonomi untuk penciptaan lapangan kerja berkualitas.

Di forum ini pihaknya juga melakukan pertemuan bilateral dengan Mr. Wang Dongfeng, Sekjen Komite Nasional CPPCC. 

"Kami membahas kemitraan Indonesia-Tiongkok yang sudah cukup dewasa untuk naik level, dari investasi menjadi pengembangan teknologi bersama yang dicontohkan lewat produksi BYD dan perluasan Geely; di mana teknologi Tiongkok dikerjakan tenaga kerja dalam negeri.

Agar bisa melangkah lebih jauh, membangun rantai pasok industri bersama, saya mengusulkan kerjasama penyusunan peta jalan antara Dewan Ekonomi Nasional dan CESC," ungkapnya.

Ia sampaikan pula riset TSTH bersama Zhejiang University, menyatukan teknologi genomik Tiongkok, integrasi AI, dan kekayaan hayati Indonesia untuk meneliti tanaman obat dan bioteknologi masa depan, serta kerja sama penanggulangan bencana lewat sistem peringatan dini, satelit, dan infrastruktur tahan bencana.

Luhut juga mengungkapkan, kunjungan ke Tiongkok selama beberapa hari kemarin, pihaknya lakukan untuk menghadiri undangan sebagai pembicara dalam forum strategis yang digagas oleh lembaga setingkat Dewan Ekonomi Nasional di sana, yakni Dewan Ekonomi dan Sosial Tiongkok (CPPCC).

Kehadirannta tentu juga atas seizin Presiden Prabowo Subianto untuk memantapkan ekosistem industri nasional sekaligus menegaskan bahwa Indonesia adalah mitra investasi yang kredibel bagi Negeri Tirai Bambu.

"Saya juga bertemu dengan Professsor Xu KaiHua dari GEM Group yang telah berhasil mendidik 341 anak muda Indonesia hingga meraih gelar doktor (PhD) di bidang metalurgi. Jika 10 tahun lalu banyak yang bertanya mengapa kita terlalu bergantung pada tenaga kerja asing, hari ini saya katakan bahwa anak-anak muda Indonesia sudah mampu menguasai teknologi HPAL secara mandiri.

Inilah buah manis dari transfer teknologi yang dahulu kami rintis. Dan sekarang mereka mulai memperkuat ekosistem baterai lithium hingga industri kendaraan listrik tanah air," ungkapnya.

Ia juga melakukan pertemuan bilateral bersama Menlu Tiongkok Wang Yi dan Chairman NDRC Zheng Shanjie. Mereka menyampaikan komitmen penuh untuk mendukung keberlanjutan beberapa kerjasama strategis kedua negara.

Yang paling berkesan bagi saya adalah apresiasi yang keduanya sampaikan saat kami memaparkan arahan Presiden mengenai efisiensi tata kelola pemerintahan berbasis digital melalui Government Technology (GovTech) yang kini progress-nya sudah mencapai 80 persen, serta rencana pembentukan International Financial Center di Bali untuk memperkuat iklim keuangan nasional.

Bicara soal diplomasi, pihaknya sepakat bahwa kedaulatan negara adalah harga yang tidak bisa ditawar. 

Namun perlu dipastikan juga kedaulatan harus punya dampak pada kesejahteraan masyarakat. Bahwa penguasaan teknologi dan pembiayaan memang membutuhkan kolaborasi global, tetapi dalam setiap kemitraan strategis yang di bangun, kendali penuh atas arah kepentingan nasional harus dipastikan tetap berada di genggaman bangsa Indonesia. (GAB/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Koster: Laporkan Jika Ada Oknum Minta Uang Mengatasnamakan Pimpinan

Terpopuler

Sosialisasi Literasi Psikologis Media, Rasniathi Dorong Pelajar SMPN 2 Mengwi Cerdas dan Bijak Bermedsos

Sosialisasi Literasi Psikologis Media, Rasniathi Dorong Pelajar SMPN 2 Mengwi Cerdas dan Bijak Bermedsos

Pemkab Buleleng, Salurkan Rp 516 juta untuk Ngaben Massal Sepanjang 2026

Pemkab Buleleng, Salurkan Rp 516 juta untuk Ngaben Massal Sepanjang 2026

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

Ratusan Truk Terjebak di Ketapang, KADIN Minta Penanganan Serius, Logistik Bali Terancam Lumpuh

Ratusan Truk Terjebak di Ketapang, KADIN Minta Penanganan Serius, Logistik Bali Terancam Lumpuh

Bawa Aspirasi Sopir ke Rakor Menteri, Bupati Kembang Dorong Perluasan Pelabuhan Gilimanuk

Bawa Aspirasi Sopir ke Rakor Menteri, Bupati Kembang Dorong Perluasan Pelabuhan Gilimanuk

Pemkab Wakatobi Jajaki Kerja Sama dengan Universitas Udayana dalam Pengembangan Kepariwisataan

Pemkab Wakatobi Jajaki Kerja Sama dengan Universitas Udayana dalam Pengembangan Kepariwisataan