Sudakara ArtSpace Persembahkan
A Portrait of Human Art Pameran dan Workshop, Hadirkan Maestro Fotografi Darwis Triadi
Sudakara ArtSpace Persembahkan
A Portrait of Human Art Pameran dan Workshop, Hadirkan Maestro Fotografi Darwis Triadi
Admin -
atnews
2026-09-03
Bagikan :
Maestro Fotografi Darwis Triadi (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) – Sudakara ArtSpace menggelar A Portrait of Human Art Pameran dan Workshop Fotografi yang menghadirkan Maestro Fotografi Darwis Triadi.
A Portrait of Human Art akan dibuka Darwis Triadi di Sudakara ArtSpace, Sudamala Resort Sanur Kamis, 3 September 2026, pukul 15.00 WITA.
Didukung oleh Darwis Triadi Photography, Bintang Sempurna, 75 Gallery, OP Online Print, House of Yoreh, Bank Mandiri.
Pameran itu akan berlangsung hingga 3 Oktober 2026 dan terbuka untuk umum. Sehari setelahnya, pada Jumat, 4 September 2026, mulai pukul 15.00 WITA, Darwis Triadi akan kembali hadir untuk memimpin workshop fotografi eksklusif.
Acara itu didukung oleh frameholic.id, Vanguard, Duta Sukses Indonesia, Lomography, House of Yoreh, Bank Mandiri.
Pada kesempatan itu hadir Darwis Triadi memberikan karya fotografi spesial kepada Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan Achmad Purwantono. Hadir pula Commercial Director Sudamala Resorts I Wayan Suwastana.
Darwis Triadi memulai karier fotografi secara otodidak sejak 1979 dan kini telah menjadi maestro fotografi di Indonesia.
Perjalanan panjang selama 47 tahun telah memiliki beragam karya membanggakan. Karyanya tersebut yang memiliki kekuatan yang terasa begitu dalam dalam sebuah foto yang benar-benar mampu menangkap subjeknya. Bukan sekadar wajah, tetapi juga karakter di baliknya, perjalanan hidup yang tergambar di dalamnya, serta kisah yang mungkin tidak akan pernah bisa sepenuhnya diungkapkan dengan kata-kata.
Selama puluhan tahun, Darwis Triadi telah menguasai seni tersebut. Dan pada September ini, ia membawanya ke Sudakara ArtSpace di Sudamala Resort Sanur.
Ia mengajak masyarakat untuk menikmati perayaan visual tentang sosok manusia, keunikan, emosi, serta keindahan yang hadir dalam kesederhanaan maupun dalam berbagai sisi luar biasa.
Workshop itu menjadi kesempatan istimewa bagi para pencinta fotografi, fotografer pemula, maupun para profesional kreatif untuk belajar langsung dari salah satu maestro fotografi paling dihormati di Indonesia.
Para peserta akan diajak mendalami visual storytelling, artistic direction, serta proses kreatif yang telah membentuk perjalanan dan karya-karya Darwis Triadi selama puluhan tahun.
“Seni bukan hanya sesuatu untuk dinikmati, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menginspirasi, menghubungkan, dan mengajak kita melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda,” kata Commercial Director Sudamala Resorts I Wayan Suwastana.
“Kami merasa terhormat dapat menyambut Darwis Triadi di Sudakara ArtSpace dan menghadirkan visi serta karya beliau kepada komunitas kami," ujarnya.
Sudakara ArtSpace memberikan ruang budaya yang didedikasikan untuk merayakan seni Indonesia, warisan budaya, dan ekspresi kreatif kontemporer.
Ruang itu secara rutin menyelenggarakan pameran, pertunjukan, serta program berbasis komunitas, menciptakan platform dinamis bagi seniman mapan maupun pendatang baru.
Berlandaskan filosofi pelestarian dan pengembangan budaya lokal, Sudakara ArtSpace menghadirkan pengalaman imersif di mana seni, cerita, dan kriya saling beririsan.
Hal didukung penuh Sudamala Resorts yang berdiri pada tahun 2011. Sudamala Resorts merupakan grup perhotelan Indonesia peraih penghargaan yang dikenal melalui perpaduan harmonis antara arsitektur tradisional, seni dan budaya lokal, serta pelayanan yang hangat.
Berawal dari Sanur, Bali, brand ini telah berkembang ke kawasan timur Indonesia dengan properti butik di Senggigi (Lombok), Pulau Seraya Kecil, dan Labuan Bajo (Flores). Setiap dari lima propertinya dirancang untuk mencerminkan karakter unik lingkungan sekitarnya. Dua resort juga dilengkapi dengan Aqura Dive Centers yang memberikan akses ke ekosistem laut terbaik di dunia. Properti keenam di Ubud, Bali, dijadwalkan akan dibuka pada tahun 2026, dengan beberapa pengembangan lainnya yang sedang berlangsung.
Sementara itu, Darwis Triadi merespon perkembangan artificial intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia fotografi.
Meskipun teknologi berkembang rasa atau energi serta fungsi manusia tidak bisa digantikan. Kehadiran manusia dalam dunia fotografi sulit digantikan. Maka dari itu, karya fotografi mesti mendapatkan penghargaan yang setara seperti karya seni lainnya.
“Memotret, membuat potret itu tidak akan bisa dikalahkan dengan teknologi, baik AI, karena tidak ada energi,” ungkapnya.
Mengingat, proses pemotretan bukan sekadar menekan tombol kamera, tetapi menciptakan komunikasi dan rasa.
“Yang paling penting adalah ternyata hubungan antara manusia dan manusia di luar sebagai pekerjaan kita itu menarik. Sangat menarik,” katanya.
Hal menarik pula, pihaknya mempelajari satu teknik Rembrandt lighting. Bahkan Darwis datang hingga ke Belanda dan Amsterdam untuk melihat serta mempelajari karya Rembrandt secara langsung.
“Fotografi itu cahaya. Tanpa cahaya kita tidak bisa motret,” katanya. Kehadiran cahaya dimaknai bukan sekadar persoalan teknis. Tetapi cahaya sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan dan energi manusia.
“Saya bilang matahari itu sumber cahaya, sumber kehidupan, sumber energi. Saya belajar bagaimana mengelola cahaya, bagaimana mengelola energi, bagaimana mengelola cara hidup kita,” ungkapnya.
Ia pun merasa berkesan ketika mengambil gambar Presiden RI ke-7 Joko Widodo. Beragam karya bisa diambil, karena dinilai kepala negara yang menarik menjadi Art Fotografi, sedangkan lainnya terlalu formal.
Sedangkan, Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan Achmad Purwantono. Rivan mengagumi karya - karya Darwis Triadi di dunia fotografi. Termasuk hasil foto dirinya yang spesial bahkan sampai mirip Soekarno atau Jendral Sudirman.
“Seorang maestro tidak dilihat kapan belajarnya, tetapi dari konsistensinya. Dari dulu sampai sekarang, karakteristik hasil fotografinya berbeda dan itu patut kita jaga. Ini betul-betul maestro, legenda yang belum tergantikan,” ujar Rivan.
Menurut Rivan, kekuatan foto tersebut tidak hanya berasal dari teknik lighting. Ada proses komunikasi dan energi yang dibangun Darwis bersama subjek hingga menghasilkan karakter yang berbeda. Hal itu telah dirasakan langsung dengan hasil yang mengagetkan. (GAB/001)