Bali Interfood 2026 Dorong Industri Kuliner Lokal Naik Kelas
Banner Bawah

Bali Interfood 2026 Dorong Industri Kuliner Lokal Naik Kelas

Admin 2 - atnews

2026-09-02
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bali Interfood 2026 Dorong Industri Kuliner Lokal Naik Kelas
Bali Interfood 2026 Jadi Panggung UMKM Lokal (ist/atnews)
Badung (Atnews) – Bali Interfood 2026 tidak hanya menghadirkan deretan produk dan teknologi industri makanan dan minuman (F&B). 

Di balik kemeriahan pameran internasional tersebut, terdapat agenda yang tak kalah penting, yakni membuka ruang bagi pelaku UMKM dan tenaga profesional kuliner untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas akses pasar.

Pameran yang resmi dibuka di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Rabu (2/9/2026), tersebut memasuki penyelenggaraan ke-7 dan berlangsung hingga 4 September 2026.

Sebanyak 110 peserta dari delapan negara ambil bagian dalam penyelenggaraan tahun ini. Menariknya, 35 di antaranya merupakan pelaku UMKM.

Kehadiran UMKM menjadi bagian penting karena industri F&B Bali tidak hanya ditopang hotel dan restoran besar. Di balik pertumbuhan kuliner dan hospitality, terdapat ribuan pelaku usaha lokal yang bergerak dari sektor makanan, minuman, bakery, kopi, hingga produk pendukung pariwisata.

Bali Interfood 2026 membuka ruang agar produk-produk tersebut tidak berhenti berputar di pasar lokal, tetapi memiliki kesempatan untuk dikenal oleh buyer, distributor, pelaku HORECA, hingga jaringan bisnis yang lebih luas.

CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, mengatakan Bali memiliki posisi strategis dalam perkembangan industri F&B nasional.

Menurutnya, perkembangan pariwisata, hotel, restoran, kafe, dan bisnis kuliner di Bali secara otomatis menciptakan kebutuhan terhadap bahan baku, produk, peralatan, teknologi, serta berbagai solusi industri.

Namun, peluang tersebut juga membutuhkan kesiapan pelaku usaha lokal.

Karena itu, Bali Interfood tidak hanya mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi juga menyediakan ruang bagi pelaku industri untuk belajar, membangun jaringan, memperkenalkan produk, dan memahami perkembangan kebutuhan pasar.

“Bali bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga merupakan salah satu pusat pertumbuhan bisnis hospitality dan kuliner di Indonesia,” ujar Daud.

Salah satu kekuatan Bali Interfood 2026 adalah keberagaman program yang mempertemukan pelaku usaha dengan profesional di bidangnya.

Chef, barista, pastry professional, mixologist, buyer, purchasing, distributor hingga pelaku hospitality hadir dalam satu ekosistem.

Program kompetisi dan workshop menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus memperlihatkan bahwa daya saing industri kuliner tidak semata-mata ditentukan oleh produk, tetapi juga kreativitas dan kemampuan sumber daya manusianya.

Gelato World Cup Indonesian Selection menjadi salah satu agenda unggulan. Kompetisi tersebut berlangsung selama tiga hari dan dilengkapi berbagai workshop yang memperkenalkan teknik serta kreativitas profesional gelato.

Pengunjung juga dapat mengikuti berbagai program kuliner, seperti Cinnamon Roll bersama Chef Fajri Winarno, Dimsum Keju Lumer & Ghyong Chilli Oil bersama Chef Lucky R Katili, Bali Beans Manual Brew Class bersama Barista I Made Galih Kresnadana, hingga demo Mie Goreng Lada Hitam dan Kwetiau Goreng Olive Vegetable bersama Chef Ugay.

Ruang pengembangan kompetensi semakin diperkuat melalui Krista Training Center by IKABOGA yang menghadirkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Sertifikasi diberikan untuk sejumlah bidang, antara lain Chef de Partie, Demi Chef, Baker, Commis Pastry, serta RCC atau Perpanjangan Masa Berlaku Sertifikat.

Kehadiran program tersebut menjadi penanda bahwa industri F&B membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki pengalaman, tetapi juga kompetensi yang dapat diakui secara profesional.

Di sisi lain, pelaku UMKM juga memperoleh peluang untuk berinteraksi langsung dengan jaringan bisnis yang selama ini menjadi bagian penting dalam industri hospitality.

Melalui Business Matching Room, pelaku usaha dapat bertemu dengan purchasing dan procurement dari sektor hotel, restoran, kafe dan bakery.

Sejumlah agenda seperti Ngopi Darat with Purchasing & Supplier Ho.Re.Ca.Ba Bali, Coffee Morning with APKRINDO & APRINDO Bali, Afternoon Tea with IKABOGA & PHRI Bali, serta Meetup with Bali Restaurant Café Associations dirancang untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan pemasok.

Bagi UMKM, forum semacam ini menjadi lebih dari sekadar kesempatan menawarkan produk. Di sinilah pelaku usaha dapat mengetahui standar kebutuhan industri, memahami selera pasar, membangun koneksi, sekaligus mengukur kemampuan produknya untuk masuk ke pasar yang lebih besar.

Ekosistem tersebut semakin lengkap dengan hadirnya Bali Hotel & Tourism, Bali Coffee Expo, Bali Wine & Spirit, serta Bakery Indonesia Expo 2026 secara bersamaan.

Berbagai sektor yang memiliki keterkaitan dengan industri hospitality berada dalam satu ruang. Mulai bahan baku, makanan dan minuman, kopi, bakery dan pastry, peralatan pengolahan, jasa boga, teknologi, hingga solusi pengemasan.

Tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan bisnis, Bali Interfood 2026 juga membawa isu keberlanjutan melalui panel “Rethinking Food Waste: How Hospitality Can Do It Better”.

Isu tersebut menjadi semakin relevan karena pertumbuhan industri hospitality juga membawa konsekuensi terhadap pengelolaan limbah makanan. Industri dituntut tidak hanya produktif dan menguntungkan, tetapi juga semakin bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Sementara itu, IPBI Competition Area menghadirkan Fruit Carving Competition, Table Setting Into the Sea Competition, dan Flower Table Decoration Workshop yang kembali menempatkan kreativitas sebagai bagian penting dari industri hospitality.

Dari keseluruhan rangkaian tersebut, Bali Interfood 2026 memperlihatkan satu pesan penting: penguatan industri F&B tidak cukup hanya dengan menghadirkan produk baru.

Dibutuhkan pelaku usaha yang mampu membaca pasar, tenaga profesional yang kompeten, jaringan bisnis yang kuat, serta kesadaran terhadap keberlanjutan.

Bali dengan kekuatan pariwisatanya memiliki ekosistem yang memungkinkan sektor F&B terus berkembang. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut juga memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal dan tenaga profesional Bali untuk ikut mengambil peran.

Dengan melibatkan 35 UMKM, pelaku industri dari delapan negara, serta berbagai program kompetensi dan business matching, Bali Interfood 2026 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan potensi lokal dengan peluang global.

Pameran ini pun bukan sekadar tentang siapa yang memiliki produk paling menarik. Lebih jauh, Bali Interfood 2026 menjadi panggung untuk mempertemukan produk, manusia, keterampilan dan peluang dalam satu ekosistem industri.

Selama tiga hari, penyelenggara menargetkan 15.000 pengunjung. Tiket masuk sebesar Rp100.000 berlaku untuk akses selama tiga hari penyelenggaraan. (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Penyaluran Dana Desa Akan Membaik

Terpopuler

Pemkab Buleleng, Salurkan Rp 516 juta untuk Ngaben Massal Sepanjang 2026

Pemkab Buleleng, Salurkan Rp 516 juta untuk Ngaben Massal Sepanjang 2026

Pemkab Wakatobi Jajaki Kerja Sama dengan Universitas Udayana dalam Pengembangan Kepariwisataan

Pemkab Wakatobi Jajaki Kerja Sama dengan Universitas Udayana dalam Pengembangan Kepariwisataan

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

India-Indonesia Roundtable Menyoroti Potensi Bali sebagai Hub bagi Produk India dan Perdagangan Pertanian

India-Indonesia Roundtable Menyoroti Potensi Bali sebagai Hub bagi Produk India dan Perdagangan Pertanian

Kemenpar Bidik Rp58,45 Miliar dari Pasar India Lewat ITB India 2026

Kemenpar Bidik Rp58,45 Miliar dari Pasar India Lewat ITB India 2026

Digelar Tiap Lima Tahun, Karya Yadnya Massal Desa Adat Mengwitani Perkuat Gotong Royong Krama

Digelar Tiap Lima Tahun, Karya Yadnya Massal Desa Adat Mengwitani Perkuat Gotong Royong Krama