Karangasem (Atnews) - Rencana peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Jembrana mendapat sorotan Ketua Umum PKN, Gede Pasek Suardika. Bukan karena menolak pengembangan energi terbarukan, Pasek justru mempertanyakan ketimpangan pengelolaan proyek PLTS di Bali, ketika proyek baru di wilayah barat tengah dipersiapkan, sementara PLTS yang telah dibangun lebih dari satu dekade lalu di wilayah timur Bali, tepatnya di Kubu, Kabupaten Karangasem, justru terbengkalai.
Sorotan tersebut muncul di tengah langkah Pemerintah Provinsi Bali yang gencar mendorong Bali Mandiri Energi melalui percepatan pengembangan PLTS. Pemanfaatan energi surya didorong di berbagai sektor, mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah hingga berbagai fasilitas lainnya.
Pemerintah Provinsi Bali juga mendorong peningkatan penggunaan PLTS melalui kebijakan dan Surat Edaran Gubernur. Dari pemerintah pusat, Kementerian ESDM memberikan dukungan terhadap pengembangan PLTS di Bali dengan kapasitas hingga 1.500 megawatt (MW).
Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster pada Senin (24/8) melakukan peninjauan persiapan peresmian PLTS di Kabupaten Jembrana. Peresmian tersebut dijadwalkan dilakukan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Selasa (25/8).
Momentum pengembangan PLTS di Jembrana inilah yang kemudian menjadi perhatian Pasek Suardika. Pasek menilai pembangunan PLTS baru sebenarnya merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun, menurutnya, pemerintah tidak boleh melupakan proyek energi terbarukan yang sudah lebih dahulu dibangun dan kini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Ia mencontohkan PLTS di Banjar/Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Karangasem, yang dibangun pada 2013. Saat ini, fasilitas tersebut dilaporkan dalam kondisi tidak terawat dan area sekitarnya ditumbuhi tanaman liar.
PLTS tersebut kini tercatat sebagai aset yang berada dalam pengelolaan BPKAD Kabupaten Karangasem. Menurut Pasek, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai pola perencanaan, pengelolaan dan keberlanjutan proyek energi terbarukan di Bali.
"Di Timur ada, di Barat juga ada," menjadi gambaran yang disampaikan Pasek mengenai keberadaan dua proyek PLTS di Bali yang seharusnya sama-sama dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia mempertanyakan mengapa PLTS yang telah dibangun di wilayah timur Bali tidak dimaksimalkan kembali, sementara proyek serupa kembali dibangun di wilayah barat. Pasek menegaskan, persoalannya bukan terletak pada pembangunan PLTS baru.
Pengembangan energi bersih justru dinilai penting untuk membantu memenuhi kebutuhan listrik Bali sekaligus memperkuat kemandirian energi daerah. Yang menjadi persoalan, menurutnya, adalah bagaimana memastikan proyek yang telah menghabiskan anggaran dan sumber daya tersebut benar-benar berfungsi, dirawat dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
"Berebut proyek gampang, tetapi memfungsikan agar bermanfaat dan awet adalah masalah yang berbeda," demikian kritik Pasek.
Pernyataan tersebut sekaligus mengarah pada pentingnya evaluasi terhadap proyek-proyek energi terbarukan yang telah dibangun sebelumnya. Bagi Pasek, pembangunan infrastruktur tidak seharusnya berhenti pada tahap proyek selesai atau seremoni peresmian.
Yang lebih penting adalah memastikan fasilitas tersebut tetap hidup, produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pasek juga mempertanyakan apakah momentum pembangunan PLTS di Jembrana akan sekaligus dimanfaatkan untuk mengevaluasi dan menghidupkan kembali PLTS di Kubu. Menurutnya, apabila kedua fasilitas tersebut dapat beroperasi secara optimal, Bali justru akan mendapatkan keuntungan ganda.
Wilayah timur dan barat sama-sama memiliki sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan listrik daerah. Ia pun mendorong agar pemerintah memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik mengenai alasan PLTS Kubu tidak lagi berfungsi optimal.
"Setidaknya dijelaskan kepada publik kenapa di Timur mangkrak dan di Barat dibuat lagi," menjadi pertanyaan penting yang menurut Pasek perlu dijawab pemerintah.
Sorotan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa agenda Bali Mandiri Energi membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan proyek baru. Diperlukan pula tata kelola, pemeliharaan, evaluasi dan kepastian keberlanjutan agar investasi energi terbarukan benar-benar menghasilkan manfaat.
Sebab, bagi masyarakat, ukuran keberhasilan proyek bukan semata-mata berapa banyak PLTS yang dibangun atau berapa besar kapasitasnya, tetapi apakah pembangkit tersebut benar-benar menyala, dirawat dan memberikan manfaat setelah seremoni peresmian selesai.
Kini, perhatian publik tidak hanya tertuju pada megahnya proyek PLTS baru di Jembrana, tetapi juga pada nasib PLTS Kubu di Karangasem yang lebih dahulu dibangun namun justru terbengkalai.
Pertanyaan Pasek pun menjadi relevan: jangan sampai Bali sibuk membangun PLTS baru, sementara PLTS lama dibiarkan menjadi aset yang terlupakan. (YOG-001)