Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Pada 31 Agustus 2026 ini saya menghadiri “The APAC Diagnostics Leadership Summit” yang diselenggarakan dibawah payung “Asia Pacific Economic Cooperation (APEC)” yang didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kita tahu bahwa kegiatan diagnosis suatu penyakit dan masalah kesehatan merupakan komponen amat penting dalam ketahanan sistem kesehatan, karena merupakan modalitas utama untuk melakukan deteksi dini, memberi petunjuk cara pengobatan yang tepat serta mendukung kegiatan surveilans.
Pada kenyataan, diberbagai negara APEC ternyata ada berbagai perbedaan atas kemampuan diagnosis ini, yang meliputi kematangan program, cakupannya, infrastruktur dan koordinasi yang ada.
Tentu saja upaya memperkuat sistem diagnostik merupakan hal yang penting. Dalam hal ini, Indonesia dalam kerangka “APEC Health Working Group” mendukung proyek pembiayaan mandiri (“self-funded project”) berjudul "Strengthening Diagnostics Systems in APEC: Evaluating Implementation and Infrastructure Challenges".
Sebagai hasilnya maka pada “APAC Diagnostics Leadership Summit“ 31 Agustus ini diluncurkan dua dokumen penting.
Pertama adalah “the APEC Diagnostics Landscape Assessment” yang menyajikan data situasi kini dari sistem diagnosis penyakot dan masalah kesehatan di negara-negara anggota APEC.
Dalam dokumen ini diidentifikasi kesenjangan utama yang ada dalam kaitan infrastruktur, akses, peraturan, kapasitas dan koordinasi yang ada.
Yang di luncurkan ke dua adalah ‘the APEC Diagnostics Policy Blueprint”, yang mentranslasikan temuan data situasi itu menjadi rekomendasi untukmmemeprkuat sistem diagnosis di jangka pendek, menengah dan jangka panjang.
Rekomendasinya antara lain mencakup koordinasi kebijakan yang lebih kuat, memperbaiki aturan yang ada, memperkuat aspek finansial serta mengintegrasikan diagnosis ke strategi kesehatan secara lebih baik.
Patut dicatat juga bahwa “Blueprint” ini sejalan dengan resolusi WHO yaitu “76th World Health Assembly resolution on strengthening diagnostics capacity (WHA76.5)” serta komitmen kesehatan APEC tentang kesiapan pandemi dan ketahanan kesehatan.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes dan Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara