Badung (Atnews) - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Udayana (Unud) kegiatan Program Udayana Mengabdi di Kantor Kelurahan Kuta, Badung, Sabtu (29/8).
Acara dihadiri Ketua PKM FT Unud Prof Dr Ir I Gusti Ngurah Nitya Santhiarsa,MT. bersama mahasiswa. Sedangkan Lurah Kuta Gusti Ayu Putu Erawati, S.E, MAP., mengapresiasi langkah bijak para mahasiswa FT Unud, memperkenalkan prototype teknologi pengolahan sampah organik, sebagai upaya membantu pemerintah dalam menanggulangi timbunan sampah di Provinsi Bali.
Program Udayana Mengabdi tahun 2026, dengan tema "Sosialisasi Kelola Sampah Berabasis Rumah Sumber Skala Rumah Tangga di Desa Kuta Badung untuk Mendukung Kawasan Wisata Bersih Berkelanjutan".
Kuta dipilih sebagai salah satu destinasi unggulan Bali. Daerah itu sudah dikenal dunia, bahkan Bali dikenal karena keindahan Pantai Kuta.
"Kelurahan Kuta adalah kawasan wisata yang terkenal di dunia, dimana keindahan pantainya menjadi daya tarik utama, dan tentunya lingkungan sekitarnya yang terjaga kebersihannya semakin menambah daya tarik tersebut," kata Prof. Santhiarsa.
Untuk itu, salah satu syarat untuk menjadi daerah tujuan wisata unggul adalah kebersihan lingkungan, bersih disini berarti minim terjadi pencemaran lingkungan baik akibat sampah, limbah maupun polusi udara.
Kebersihan lingkungan ini ada karena beberapa faktor, diantaranya, tingkat kesadaran dan disiplin warga setempat dalam menangani sampah, limbah dan polusi udara cukup tinggi, program edukasi dan sosialisasi tata kelola sampah dan limbah rutin dilakukan dan berkelanjutan, adanya peraturan dan sanksi dari Pemerintah yang tegas untuk menegakkan ketaatan warga, tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dalam pengelolaan sampah dan limbah, kehadiran teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, serta tersedianya anggaran yang cukup untuk semua operasional penanganan sampah, limbah dan polusi udara.
Pada kesempatan ini, yang dibahas hanya tentang pengelolaan sampah organik saja, sebagai dasar kajian bagaimana peran dasar pihak-pihak terkait dalam menjaga kebersihan lingkungan yang jelas ikut menunjang keberlangsungan kepariwisataan di Kelurahan Kuta.
Masalah sampah harus segera diatasi, meski hal itu sulit dan tentu memerlukan tahapan yang membutuhkan berbagai pendekatan, seperti pendekatan sosial, pendekatan keilmuan teknologi maupun pendekatan sistemik (harus berjalan sinergis).
Pendekatan Sosial seperti edukasi disiplin buang dan pilah sampah, sosialisasi pola hidup bersih, kampanye 3R (reuse, reduce dan recycle) dan lainnya.
Pendekatan IPTEK seperti penyediaan kotak sampah terpilah organik anorganik, tong komposter, tungku karbonizer dan lainnya.
Sedangkan, pendekatan sistemik, sistem kelola TPS3R, Perda dan Denda, Bank sampah.
Maka dari itu, pihak Kampus Unud melalui Program Udayana Mengabdi tahun 2026 memilih program itu untuk mendukung kesigapan Desa Kuta mengatasi amsalah sampah berbasis sumber.
Sosialisasi Penanganan Sampah Organik serta Pengenalan Teknologi Pengelolaan sampah Organik, dengan mesin atau perangkat Komposter sederhana dan Tungku Insinerator sederhana.
Kedua mesin sederhana itu, incinerator portable dan komposter portable, diperkenalkan kepada masyarakat luas, baik dengan ceramah dan demo langsung maupun dengan dokumentasi publikasi melalui media online, media sosial maupun media elektronik lainnya.
Kegiatan sosialisasi itu dikatakan berjalan dengan baik jika ada sambutan, perhatian dan dukungan dari warga setempat, bukan dari jumlah warga yang hadir langsung, namun lebih pada begaimana komentar, saran dan masukan lain dari masyarakat luas ketika berita kegiatan ini disiarkan secara berkelanjutan melalui beragam media.
Dijelaskan pula, teknologi pembakaran sampah organik. Teknologi insinerator minim asap, alat pembakar sampah tertutup yang dirancang untuk mengurangi volume sampah secara signifikan tanpa menghasilkan asap pekat atau polusi udara seperti pembakaran terbuka.
Adapun Proses Pembakaran Sampah dari insinerators Sebagai berikut:
1) Proses pertama yakni pembakaran dengan memasukkan sampah kedalam tungku insinerator. Kadar air dalam sampah perlu diperhatikan, sampah dengan kadar air tinggi dapat menyebabkan turunnya suhu nyala dalam insinerator.
Dengan suhu pembakaran yang tinggi juga dapat memicu adanya reaksi kimia eksotermik dimana sampah yang dihasilkan dari material organik sampah bereaksi menjadi oksigen yang nantinya menghasilkan panas dalam jumlah besar.
Dengan memperhatikan hal tersebut nantinya pembakaran akan lebih efektif dan memastikan asap yang dihasilkan dapat seminim mungkin.
2) Proses oksidasi yakni mengarahkan gas hasil pembakaran ke pembakaran sekunder yang dimana memiliki suhu tinggi. Dalam proses ini mengubah senyawa organik dan berbagai gas yang berbahaya yang ada dalam pembakaran tahap awal menjadi gas yang lebih sederhana.
Tahapan proses oksidasi ini untuk memastikan proses pembakaran sampah berlangsung secara sempurna dan mencegah adanya dioksin sebagai polutan persisten yang berbahaya bagi lingkungan.
3) Pelepasan gas dan residu abu yang merupakan tahap akhir setelah melalui pembakaran sempurna dan oksidasi. Gas tersebut lalu melewati tahap penyaringan untuk menghilangkan partikel berbahaya sebelum dikeluarkan melalui cerobong atau tempat pembuangan asap sehingga tidak mencemari lingkungan.
Sisa limbah hasil pemakaran insineratorini berupa abu dasar (bottom ash) dan abu terbang (fly ash) yang nantinya dapat dimanfaatkan lebih lanjut sehingga tidak mencemari lingkungan.
Sementara itu, teknologi pengomposan sampah sampah menggunakan EM4 (Effective Microorganisms 4), metode mempercepat pembusukan sampah organik menjadi pupuk kompos dengan bantuan bakteri fermentasi alami.
Kantong komposter (Compost bag) sebagai wadah fleksibel berbentuk tas atau kantong khusus dari bahan kuat (seperti PE atau kain woven tebal) yang dilengkapi pegangan dan sirkulasi udara untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk.
Bahan utama yang digunakan dalam proses ini adalah limbah dapur rumah tangga yang terdiri dari sisa sayur, buah, kulit sayur, dan sisa makanan organik yang dikumpulkan langsung dari kegiatan memasak di rumah tangga.
Limbah tersebut kemudian dicacah menjadi potongan kecil sekitar 2-3 cm menggunakan pisau dapur agar proses dekomposisi dapat berjalan lebih cepat dan merata.
Sebagai aktivator mikroorganisme, larutan Effective Microorganisms 4 (EM4) digunakan dengan dosis berbeda sesuai perlakuan, yang diperoleh dari toko pertanian lokal, pemberian EM4 sebesar 1% volume dari berat limbah hingga pemberian EM4 sebesar 3% volume dari berat limbah.
"Air bersih dari sumber air di rumah tangga juga digunakan untuk menjaga kelembaban bahan kompos agar tetap optimal selama proses pengomposan," pungkasnya. (Z/ART/002)