Oleh Krisna Andika
Outing Class TK Aisyiyah Dalung Tanamkan Nilai '45 Sejak Dini di Monumen Perjuangan
Di tengah dinamika situasi nasional, termasuk aksi demonstrasi di Jakarta, halaman Monumen Perjuangan Bangsal, Korps/Resimen Ugracena Bali di Dalung, Badung, justru dipenuhi keceriaan. Selasa, 27 Agustus 2026 pagi, puluhan siswa TK Aisyiyah Dalung bersama bunda guru dan orang tua membentangkan Bendera Merah Putih sepanjang 100 meter.
Bendera raksasa itu dipegang bersama-sama. Ada yang berjinjit, ada yang digandeng orang tuanya. Merah putih berkibar pelan ditiup angin, sementara sorak “Merdeka!” menggema di antara nisan dan prasasti perjuangan.
Kegiatan outing class ini dikoordinasikan oleh Satgas I Gusti Ngurah Yuwanda Ryan dan Koord Agung Wilis Ikawangi Sitam. Lokasi monumen sengaja dipilih agar anak-anak memahami bahwa kemerdekaan bukan dongeng di buku, melainkan warisan nyata yang harus dijaga.
“Kami ingin anak-anak belajar langsung. Melihat, menyentuh, dan merasakan. Bahwa di Dalung ini ada sejarah yang harus mereka kenali dan banggakan,” kata Kepala Sekolah TK Aisyiyah Dalung, Nadya Rusydah Mahiroh.
Ia menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar perayaan 17 Agustus. “Ini langkah kecil menanamkan cinta tanah air. Agar sejak dini mereka tumbuh menjadi anak Indonesia yang berani, tangguh, dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Semarak terlihat sejak awal. Anak-anak datang dengan pita merah putih di kepala, kaos bertuliskan "Aku Cinta Indonesia". Orang tua ikut membantu merentangkan bendera dari ujung ke ujung halaman monumen.
Momen penyerahan simbol juga mewarnai acara. Ketua DHC Angkatan '45 Gianyar, IGN Dharmawangsa menyerahkan Majalah API 45 dan Buletin Gelora MPB kepada sekolah. Pengurus PERIP Bali, Woro Tidar memberikan bingkisan. Sementara Koordinator IKAMENWA SEROJA Timor Timur Wilayah Bali, Kusumawati Sumantra, menyematkan penghargaan kepada anak-anak yang paling semangat.
*Krisna Gunarta*, pengelola Monumen Perjuangan Bangsal yang juga Ketua Korps Menwa Indonesia Provinsi Bali, menyambut baik kegiatan ini. “Tempat ini hidup kalau diisi anak-anak. Dari merekalah semangat '45 akan diteruskan,” katanya.
Kegiatan juga dimeriahkan dengan berbagai lomba.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk para pahlawan. Sebelum pulang, anak-anak diberi pesan: hormati guru, sayangi teman, dan jangan lupa Indonesia.
Di tengah terik, wajah-wajah kecil itu pulang membawa lebih dari sekadar foto. Mereka pulang membawa rasa bangga. Bahwa menjadi Indonesia, dimulai dari belajar mencintai negeri sendiri.
*) Krisna Andika, Wakil Sekretaris GNPP Provinsi Bali