Paradoks Dihadapi Bali, Pertumbuhan Ekonomi Bertumpu pada Keunggulan Budaya, Praktik Berikan Tekanan  Keberlanjutan Budaya
Banner Bawah

Paradoks Dihadapi Bali, Pertumbuhan Ekonomi Bertumpu pada Keunggulan Budaya, Praktik Berikan Tekanan  Keberlanjutan Budaya

Admin 2 - atnews

2026-07-01
Bagikan :
Dokumentasi dari - Paradoks Dihadapi Bali, Pertumbuhan Ekonomi Bertumpu pada Keunggulan Budaya, Praktik Berikan Tekanan  Keberlanjutan Budaya
Pemikiran Antropolog Clifford Geertz (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Tokoh Masyarakat Prof.Dr. Drs. A.A. Kt. Sudiana, SH, A.MA, MH yang juga Akademisi mengatakan, pemikiran Antropolog Clifford Geertz bahwa suatu budaya berubah karena adanya mix culture, ceoss culture.

Dikhawatirkan lagi, adanya imprealism Clculture, hal itu yang telah terjadi pada budaya Bali yang mempengaruhi berbagai bidang kehidupan manusia Bali.

"Apakah ini kita nyatakan sebagai postulat peradaban kuno dan modernisasi yang sedang kita hadapi dalam melindungi dan melestarikan budaya Bali," ungkap Prof. Sudiana yang juga Dosen Fakultas Hukum Universitas Mahasaraswati di Denpasar, Rabu (1/6) bertepatan Hari Bayangkara ke-80.

Hal itu menjadi renungkan bersama untuk peduli  terhadap budaya Bali yang mengalami disruption untuk kekinian dan kedepan.

Menurutnya, perspektif eksistensi sosial budaya (eksosbud), dinamika yang terjadi di Bali saat ini tidak lagi sekadar menunjukkan perubahan budaya, tetapi mencerminkan pergeseran paradigma peradaban (civilizational shift).

Bali dalam transisi, sedang menghadapi perjumpaan antara sistem nilai lokal yang berlandaskan Tri Hita Karana, Sad Kerthi, dan kelembagaan desa adat dengan arus globalisasi yang didorong oleh kapitalisme, digitalisasi, industri pariwisata, serta budaya konsumsi. 

Persoalannya bukan pada terbukanya Bali terhadap perubahan, melainkan pada ketimpangan relasi tersebut, di mana budaya global memiliki kekuatan ekonomi, teknologi, dan media yang jauh lebih dominan sehingga secara perlahan membentuk orientasi hidup, pola pikir, dan perilaku masyarakat. 

Kondisi itu mengindikasikan gejala cultural imperialism, yakni dominasi nilai-nilai global yang menggeser makna dan fungsi budaya lokal tanpa disadari.

Fenomena tersebut tampak nyata dalam berbagai perubahan di Bali, seperti alih fungsi lahan, meningkatnya investasi dan migrasi, komersialisasi budaya, serta menguatnya pengaruh media digital terhadap generasi muda. 

Budaya Bali tetap hadir dalam berbagai simbol dan ritual, namun mulai menghadapi tantangan berupa melemahnya internalisasi nilai-nilai komunal seperti menyama braya, ngayah, dan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. 

Akibatnya, budaya berpotensi bergeser dari pedoman hidup menjadi sekadar komoditas ekonomi dan atraksi pariwisata.

Paradoks yang dihadapi Bali adalah bahwa pertumbuhan ekonomi justru bertumpu pada keunggulan budaya, tetapi dalam praktiknya sering kali memberi tekanan terhadap keberlanjutan budaya itu sendiri. 

Jika kondisi itu terus berlangsung, Bali berisiko mengalami erosi modal budaya (cultural capital) dan modal sosial (social capital) yang selama ini menjadi sumber daya saing dan identitasnya. 

Oleh karena itu, modernisasi tidak boleh diposisikan sebagai pengganti budaya lokal, melainkan harus diarahkan menjadi instrumen untuk memperkuat ketahanan budaya (cultural resilience).

Atas dasar itu, pelindungan, pelestarian, dan pemajuan kebudayaan Bali harus bergeser dari pendekatan konservatif menuju strategi pembangunan peradaban yang berkelanjutan (sustainable civilization).

Budaya tidak cukup dipandang sebagai warisan yang dilestarikan, tetapi sebagai modal utama pembangunan yang menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, pendidikan, tata ruang, pengelolaan pariwisata, dan transformasi digital. 

Dengan demikian, pembangunan Bali tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan identitas, kohesi sosial, kelestarian lingkungan, dan peradaban Bali bagi generasi mendatang.

“Keberlanjutan Bali pada masa depan tidak lagi ditentukan oleh seberapa cepat pertumbuhan ekonominya, tetapi oleh sejauh mana pembangunan mampu mempertahankan budaya sebagai fondasi peradaban.

Ketika budaya kehilangan fungsi sebagai sistem nilai, maka Bali bukan hanya kehilangan identitasnya, tetapi juga kehilangan sumber utama daya saing dan keberlanjutan pembangunannya," pungkasnya. (Z/ART/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ngusaba Pitara, Wagub Cok Ace Himbau Masyarakat Ajegkan Empat Pergub

Terpopuler

Sekda Bali Tutup Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026, Luncurkan Tema 2027 “Kirtya Wana Kerthi” 

Sekda Bali Tutup Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026, Luncurkan Tema 2027 “Kirtya Wana Kerthi” 

Putusan MK Tegaskan Kuota 30% Perempuan, Diah Puspayanthi: Wanita Punya Kedudukan Setara

Putusan MK Tegaskan Kuota 30% Perempuan, Diah Puspayanthi: Wanita Punya Kedudukan Setara

Tutik Kusuma Wardhani Ucapkan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Tutik Kusuma Wardhani Ucapkan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Mengenal Sosok Diah Puspayanthi, Srikandi Muda DPRD Jembrana Mengabdi Lewat Pemberdayaan Ekonomi

Mengenal Sosok Diah Puspayanthi, Srikandi Muda DPRD Jembrana Mengabdi Lewat Pemberdayaan Ekonomi

Bali Jadi Percontohan Program Digitalisasi Bansos, Gubernur Koster Siap Tancap Gas Sukseskan

Bali Jadi Percontohan Program Digitalisasi Bansos, Gubernur Koster Siap Tancap Gas Sukseskan

Gelar Matatah Massal Gratis, UHN Sugriwa Sentuh Langsung Masyarakat

Gelar Matatah Massal Gratis, UHN Sugriwa Sentuh Langsung Masyarakat