Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Pada 1 Juni 2026 kemarin media resmi “United Nation News” memberitakan aspek yang cukup menjanjikan tentang penanganan Ebola, setidaknya dalam lima hal.
Pertama, empat orang perawat di Republik Demokratik Kongo yang tadinya dirawat dengan Ebola yang tipe ini virus Bundibugyo maka berhasil diobati dengan baik dan sudah keluar rumah sakit. Data sampai 31 Mei 2026 menunjukkan bahwa di Kongo ada 210 kasus terkonfirmasi Ebola dengan 17 kematian, dan diberitakan ada 16 petugas kesehatan yang tertular Ebola. Selain itu ada hampir 350 kasus suspek di negara itu.
Ke dua, sudah ada beberapa kemajuan tentang upaya menemukan obat dan vaksin, walaupun penelitian masih terus berjalan. Untuk kasus terkonfirmasi maka ada tiga obat yang diprioritaskan dalam uji klinik, yaitu antibodi monoklonal MBP 134, maftivimab, dan antiviral remdesivir.
Ke tiga, untuk pencegahan maka priritas uji klinik sekarang ini adalah obat antiviral obeldesivir, yang sedang diteliti dampaknya sebagai “post-exposure measure” untuk diberikan pada mereka yang kontak dengan kasus terkonfirmasi.
Ke empat, menurut WHO maka kini evaluasi sedang dilakukan pada dua kandidat vaksin untuk Ebola Bundibugyo ini.
Ke lima, pernyataan Direktur Jenderal WHO jelas menyebutkan bahwa kalau Ebola Bundibugyo ditangani segera maka hasilnya dapat lebih baik, dan tegasnya DirJen WHO menyatakan “It is not without hope”, atau “bukan tanpa harapan”, walaupun memang angka kematiannya tinggi.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes