Ketua GNPP Provinsi Bali bersama Mantan Ketua GNPP Provinsi Bali (ist/atnews)
Oleh Krisna Andika
Ketua Gerakan Nasional Pembudayaan Pancasila (GNPP) Provinsi Bali Made Dharma Putra: “Dulu lawan bedil, sekarang lawan plastik”
Mengawali lembaran Juni 2026, ada dua ruang waktu yang patut direnungkan Bali.
Ruang pertama: 16 Agustus 1945, Rumah Bangsal, Gaji. Malam gelap, lampu minyak redup. Para pejuang bawah tanah Bali rapat rahasia. Mereka merapatkan barisan dalam sunyi, merancang strategi merebut kemerdekaan dari penjajah. Senjata terbatas, tapi tekad bulat: Indonesia harus merdeka.
Ruang kedua: 20 November 1946, Marga, Tabanan. I Gusti Ngurah Rai dan Laskar Ciung Wanara memilih puputan. Lebih baik gugur di tanah sendiri daripada tanah air kembali dijajah. “Merdeka atau Mati” bukan slogan. Itu sumpah yang ditebus dengan darah.
Kini, 81 tahun setelah Bangsal dan 80 tahun setelah Margarana, Bali kembali diuji. Musuh tak lagi datang dengan bedil dan NICA. Musuh datang dalam bentuk 4.281 ton sampah per hari yang mengepung Pulau Dewata.
TPA Suwung kritis dan terbakar berulang. Pantai-pantai elok jadi langganan video viral “lautan plastik” tiap musim hujan. Ini bukan sekadar krisis lingkungan. Ini soal kedaulatan.
Ekosida: Ketika Kita Menjajah Tanah Sendiri
Ketua GNPP Provinsi Bali, Made Dharma Putra, yang juga Ketua Dewan Pakar Korps Menwa Indonesia Bali, menyebut kondisi ini sebagai “penjajahan gaya baru”.
“Kalau di Bangsal 1945 kita rapat untuk usir penjajah asing, hari ini kita harus rapat untuk usir penjajah bernama ekosida. Dulu VOC ambil rempah.
Sekarang kita jajah tanah sendiri dengan sampah dan kerakusan,” tegas di Made Dharma Putra, di Karang Kubu Mandhana Denpasar, Rabu (2/6).
Ia mengutip pesan Bung Karno: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
“Semangat Puputan Margarana itu jelas: lebih baik alam Bali mati bersama kita daripada hidup tapi dijajah. Hari ini, kalau tanah, air, udara kita sakit karena ulah sendiri, apa bedanya dengan dijajah? Merdeka yang sejati adalah ketika tanah, air, udara kita sehat dan berdaulat,” ujarnya.
Bela Negara 2026: Dari Senjata ke Trash Bag, dari Puputan ke Gotong Royong
Made Dharma Putra menegaskan, ruh Bangsal dan Margarana harus hidup dengan konteks baru. “Dulu bela negara angkat senjata. Sekarang bela negara angkat trash bag.
Musuhnya berganti: dari peluru menjadi plastik yang 400 tahun tak terurai. Medan perang bergeser: dari Bangsal ke TPA Suwung, dari Margarana ke muara-muara sungai.”
Ia menyebut, memungut sampah sendirian memang seperti bertempur sendirian. Tapi memungut bersama-sama adalah gotong royong. “Itu Puputan zaman sekarang. Puputan melawan ego. Itu Pancasila Sila ke-3 paling nyata. Sungai bersih = Persatuan Indonesia.”
Hidupkan Segara Kerthi, Jangan Khianati Leluhur
Sekretaris Gugus Kebangsaan Provinsi Bali Gde Putra Wijaya, yang juga Wakil DHD Angkatan 45 Provinsi Bali, menambahkan, Bali sejatinya sudah punya “doktrin pertahanan” lingkungan.
“Leluhur kita sudah eco-friendly sejak dulu. Tumpek Wariga itu perintah untuk hormat pada tumbuhan. Segara Kerthi itu doktrin menjaga laut. Tri Hita Karana itu strategi harmoni manusia, alam, dan Tuhan,” jelas Gde Putra Wijaya.
Menurutnya, para pejuang Bangsal 1945 dan Margarana 1946 gugur agar anak cucu bisa menghirup udara Bali yang merdeka. “Maka ketika hari ini pantai kita kotor oleh plastik, kita bukan hanya mengotori lingkungan. Kita mengkhianati darah para pejuang. Kita mengingkari Segara Kerthi yang kita upacarakan tiap tahun.”
Seruan dari Bangsal: Gerilya Hijau untuk Bali Berdaulat
Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni dan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, GNPP Bali menyerukan semangat itu kembali.
“15 Agustus 2013, kami deklarasi GNPP juga di Bangsal. Tempat yang sama para pejuang dulu rapat rahasia. Hadir pula Jenderal TNI (Purn) mantan Kepala Staf Angkatan Darat pada deklarasi tersebut, memberikan bobot tersendiri bagi pengukuhan komitmen kebangsaan lintas generasi.
Pada kesempatan itu dilakukan penandatanganan prasasti oleh para deklarator, di antaranya Ida Bagus Kompyang selaku Ketua DPD LVRI Bali, Ir. Anak Agung Nanik Suryani sebagai Ketua PD PPM Bali, Prof. Dr. Wayan Windia yang menjabat Ketua Umum DHD BPK Angkatan 45 Provinsi Bali, Gusti Ngurah Rai Susandi selaku Sekretaris DHD BPK Angkatan 45 Provinsi Bali, Drs. I Made Gede Putra Wijaya, S.H.,M.Si.
Sebagai Ketua GNPP Bali, Dr. Drs. Wayan Winaja,M.Si. selaku Sekretaris GNPP, serta dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A (K). yang mengemban amanah sebagai Ketua Umum Manajemen Monumen Perjuangan Bangsal. Pesannya satu: dari Bangsal untuk Indonesia,” kata Made Dharma Putra.
“Kalau dulu gerilya untuk usir penjajah, sekarang Gerilya Hijau untuk usir sampah. Mulai dari memilah di rumah, hidupkan bank sampah di desa adat, sampai aksi bersih serentak. Ini operasi senyap untuk rebut kembali kedaulatan ekologis,” tutup Gde Putra Wijaya.
Sebab para pejuang Bangsal dan Margarana tidak rela Bali merdeka tapi tanahnya sakit, airnya tercemar, dan rakyatnya terjajah plastik.
Dalam catatan At News kunjungan ke MPB yang kedua kalinya Niken Widiastuti Mantan Dirut LPP RRI, mengajak 22 Mantan Kepala stasiun LPPRRI Perempuan se Indonesia dan telah memberikan apresiasi kebaradaan situs MPB untuk generasi baru Indonesia.
Niken Widiastuti berharap MPB agar tetap dijdikan ajang kreatifitas bagi generasi baru Indonesia.
Pada kesempatan kunjungan ke dua Para Jawara secara simbolis menanam pohon pinang peremajaan di kawasan tersebut untuk menjaga lingkungan.
Merdeka yang sejati adalah ketika Ibu Pertiwi bisa bernapas lega.
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Yayasan Jati Nusa Lestari (Jati Nusantara) akan berkolaborasi dalam kegiatan Jumpa Orang Muda Katolik Keuskupan Denpasar di Palasari, Jembrana, pada 18–21 Juni 2026. Kegiatan kolaborasi tersebut berupa penanaman pohon jati merah di lahan seluas 2 hektare.
*) Krisna Andika, Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Udayana