Caow Eng Bio: Menjaga Akar, Merawat Harmoni
Banner Bawah

Caow Eng Bio: Menjaga Akar, Merawat Harmoni

Admin 2 - atnews

2026-05-23
Bagikan :
Dokumentasi dari - Caow Eng Bio: Menjaga Akar, Merawat Harmoni
(DianDReich/Atnews)
Oleh Dian D Reich

Di depan Klenteng Caow Eng Bio, Tanjung Benoa, berdiri sebuah perahu dengan naga emas tersembunyi di dalamnya. Simbol itu langsung menarik perhatian. Bukan sekadar elemen artistik, tetapi sebuah lambang perjalanan, perlindungan, dan harapan.

Perahu memiliki makna yang dalam bagi kehidupan manusia. Laut yang luas dapat menghadirkan badai dan ketidakpastian, tetapi laut yang sama juga merupakan sumber kehidupan.

Banyak teori bahkan menyebutkan bahwa kehidupan bermula dari lautan. Mungkin karena itulah manusia selalu hidup melalui simbol, mencari penanda untuk menuntun perjalanan mereka, baik menuju pelabuhan yang aman maupun menghadapi gelombang kehidupan.

Ratusan tahun lalu, para pelaut Tionghoa datang ke kepulauan Nusantara menyeberangi lautan yang luas dan tak menentu. Dengan kapal kayu sederhana, mereka menghadapi badai dan ketidakpastian. Di pesisir inilah mereka menemukan tempat berlindung. Dari sejarah perjalanan itu, Caow Eng Bio lahir dan terus hidup hingga hari ini.

Saya berkesempatan mengunjungi Caow Eng Bio pada perayaan hari suci ulang tahun Tian Shang Sheng Mu (Dewi Mazu Po) , sosok Dewi Laut yang sangat dihormati dalam tradisi Tao. Di sana saya berbincang dengan para pengurus dan penjaga klenteng yang hingga kini meneruskan tanggung jawab menjaga tradisi, sejarah, dan nilai yang diwariskan turun temurun.

Menurut para pengurus, Caow Eng Bio dipercaya sebagai salah satu klenteng Tionghoa tertua di Bali. Awalnya tempat ibadah ini berdiri secara sederhana
bagi para pelaut Hainan yang datang dan singgah di wilayah ini. Lokasinya disebut pernah berpindah ke tempat yang lebih terlindung dari badai dan kondisi laut.

Hubungan klenteng ini dengan laut sangat kuat. Banyak yang mengenal atau Tian Shang Sheng Mu (Dewi Mazu Po) sebagai Dewi Samudera dan Pelindung Pelaut. Namun menurut penuturan para pengurus, dewa utama atau "tuan rumah" spiritual Caow Eng Bio adalah Dewi Shui Wei Shen Niang yang berasal dari tradisi Hainan. Seiring perjalanan waktu, altar Dewi Mazu juga menjadi bagian penting dari sejarah klenteng ini. Namun yang menarik dari Caow Eng Bio bukan hanya sejarah pelayaran atau deitas lautnya.

Yang terasa kuat adalah semangat menjaga tradisi sambil terus hidup berdampingan dengan lingkungan sekitar. Ketua Pembina Nyoman Suasana Hardika berbagi kisah tentang keterlibatannya yang merupakan kelanjutan dari pengabdian keluarganya selama beberapa generasi.

"Yang penting adalah menghormati warisan leluhur," tuturnya. "Tradisi dan tugas ini perlu diteruskan."
Menurutnya, menjaga tempat ibadah bukan hanya menjaga bangunan atau upacara ritual, tetapi juga menjaga akar budaya agar tetap hidup.Hal itu terasa
penting terutama di masa sekarang ketika banyak generasi muda mulai memiliki jarak dengan tradisi leluhurnya.

Caow Eng Bio juga mempertahankan statusnya sebagai Kongco, bukan berubah menjadi vihara. Pilihan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga identitas dan tradisi yang diwariskan para pendahulu. Namun menjaga identitas tidak berarti menutup diri.

Ketua Pengurus Djuanda Aditya menjelaskan bahwa kehidupan di Tanjung Benoa justru menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di wilayah ini, rumah ibadah berbagai agama berdiri berdekatan. Masyarakat Hindu, Muslim, Tionghoa, dan komunitas lainnya hidup berdampingan dalam ruang sosial yang sama.

"Harmoni bukan hanya teori," ujarnya. "Di sini harmoni dipraktikkan." Saat klenteng mengadakan perayaan, undangan tidak hanya ditujukan kepada komunitas Tionghoa. Tokoh dan masyarakat dari berbagai agama juga turut diundang dan dilibatkan. Ada kesadaran bahwa menjaga hubungan baik dan rasa saling menghormati adalah tanggung jawab bersama.

Di tengah dunia yang semakin sering berbicara tentang pluralisme dan keberagaman global, Indonesia sesungguhnya telah lama mempraktikkan hal tersebut. Akulturasi, sinkretisme, dan hidup berdampingan bukanlah konsep baru di Nusantara.

Sejak berabad-abad lalu, budaya Indonesia tumbuh melalui pertemuan berbagai kepercayaan, etnis, tradisi, dan perjalanan manusia. Tanjung Benoa menjadi salah satu contoh kecil bagaimana proses itu terus hidup.

Mungkin inilah yang membuat tempat seperti Caow Eng Bio terasa bukan sekadar bangunan atau tempat ibadah. Tetapi ruang untuk mengingat asal-usul,
menjaga warisan, dan menemukan kembali arah di tengah perjalanan zaman.

Seperti perahu yang berdiri di depannya. Kata Biokong Nyoman Sanjaya perahu ini adalah simbol kedatangannya dan penghormatan Leluhur kita. Ia terus mengingatkan bahwa perjalanan selalu berlanjut, namun akar tetap perlu dijaga. (*) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Manfaatkan Tol Laut, Pastikan Stabilitas Harga Bahan Pokok

Terpopuler

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Karhutla, BNPB Minta Masyarakat Tetap Siaga

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026