Tinggi Bangunan 15 Meter, 'Soring Kepuh Tunggul', Indikator Kekuatan Peradaban Bali Harus Dipertahankan
Banner Bawah

Tinggi Bangunan 15 Meter, 'Soring Kepuh Tunggul', Indikator Kekuatan Peradaban Bali Harus Dipertahankan

Admin 2 - atnews

2026-05-22
Bagikan :
Dokumentasi dari - Tinggi Bangunan 15 Meter, 'Soring Kepuh Tunggul', Indikator Kekuatan Peradaban Bali Harus Dipertahankan
Jro Gde Sudibya (ist/atnews)
Oleh Jro Gde Sudibya

Sejarah membuktikan, masyarakat, negara bangsa yang sangat permisif terhadap perubahan dan mengorbankan nilai-nilai utama kehidupan, mudah goyang dalam merespons perubahan dan kemudian "kalah". 

Negara bangsa yang sangat kuat memegang tradisi berbasis teologi agamanya. Bangsa Yahudi yang sebagian menjadi warga negara Israel dikenal ampuh dan kuat menghadapi perubahan dan mampu memenangkannya. 

Orang-orang Yahudi dikenal teguh menjaga tradisi tidak saja tentang iman, termasuk pula dalam tradisi kuliner yang ketat. 

Sejarahwan Yahudi ternama Yuval Noah Harari mengatakan tidak ada istilah kegagalan bagi bangsa Israel karena alasan kebudayaan. Teguh memegang tradisi, lentur mengelola perubahan, tradisi inti tidak tergoyahkan.

Jika merujuk buku Best salers dunia SAPIENS oleh sejarahwan ternama Yuval Noah Harari tentang perjalanan sejarah perjalanan manusia sejak 7 juta tahun lalu dari Afrika Timur, dari hasil riset sejarah yang serius, ditemukan kota nelayan tertua di dunia lengkap dengan teknologinya, ditemukan di sebuah gugusan pulau di sebelah Utara Australia yang kemudian bernama Indonesia. 

Jadi komunitas nelayan dengan organisasi dan teknologinya tertua di dunia ada di Indonesia. Tetapi sekarang, masyarakat nelayan dan masyarakat di wilayah pesisir  mayoritas adalah penduduk miskin, dengan daya tawar ekonomi politik yang rendah. 

Pesan moral dari catatan sejarah ini, kekuatan tradisi yang tidak diperbaharui dan bahkan dilupakan, mengantarkan masyarakat ke lembah kekalahan. 

Dalam konteks tinggi bangunan 15 meter, dengan teo-filosofi pendukungnya, mesti dilestarikan, karena sudah memuat pemikiran jangka panjang tentang Bali, hubungan: Manusia - Alam - Tuhan, daya dukung alam penyangga peradaban dan kebudayaan dalam kurun waktunya yang panjang. 

Jangan dikalahkan pragmatisme jangka pendek untuk keuntungan yang merupakan ciri dari kapitalisme pariwisata serakah yang sekuler.

Maka Anggota DPRD semestinya memahami, tradisi perekonomian Bali yang telah mentradisi adalah sosialistik religius.

Berbasis keyakinan niskala, perekonomian dijalankan bersama untuk kesejahteraan bersama, melekat keadilan dalam proses ekonomi. 

Ekonomi pengendalian diri, dalam istilah Mahatma Gsndhi (self controlled economy) bukan ekonomi keserakahan (greedy economy). Tindakan semena-mena merubah aturan tinggi  bangunan yang dasar sastranya jelas merupakan tindakan gegabah, menggampangkan persoalan dengan kepentingan sempit jangka pendek.

*) Jro Gde Sudibya, intelektual, pengamat: lingkungan, kebudayaan dan kecenderungan masa depan.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bali Kembangkan Singkong 5000 Ha di Lahan Kering

Terpopuler

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Atlet Woodball Buleleng Raih Emas di Jatim Open 2026, Danang Dibidik Perkuat Indonesia

Atlet Woodball Buleleng Raih Emas di Jatim Open 2026, Danang Dibidik Perkuat Indonesia

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

BTID Terima Kunker Komisi VII DPR RI, Tak Hadiri RDP Pansus TRAP DPRD Bali Bahas Tukar Guling Tanah Mangrove

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali

SingaKren Fest 2026 Langkah Cerdas Nan Visioner Bupati Memimpin Den Bukit, Ingatkan Wisatawan Pertama Belanda ke Bali