Buleleng (Atnews) - Intelektual Bali Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Ekonomi dan Kecenderungan Masa Depan mengatakan "SingaKren Fest 2026" langkah cerdas nan visioner Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra dalam memimpin Den Bukit di Pelabuhan Tua Buleleng.
Festival Kecamatan Buleleng Tahun 2026 resmi digelar di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng, Bali, berlangsung tiga hari dari tanggal 8 hingga 10 Mei 2026. Festival dibuka langsung oleh Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, Jumat (8/5).
Menurutnya, pelabuhan alam Buleleng menyimpan jejak sejarah panjang bagi Buleleng dan juga Bali.
Dimana wisatawan pertama Belanda berlabuh di pelabuhan ini, tahun 1920, dan kemudian berkunjung ke Tejakula dan kemudian Kintamani, Bangli.
Berikutnya, Pengelana Spanyol Michel Covarobias di awal dasa warsa 1930-an mendarat di pelabuhan ini, naik sepeda ke Selatan Badung.
Penulis buku lengkap tentang Budaya Bali "Island of Bali", buku pertama yang menjadi rujukan bagi wisatawan Eropa yang akan mengunjungi Bali.
Sedangkan, pelabuhan itu menjadi "point of export" dari komoditas Bali: kopi dan kemudian sapi dengan pasar Eropa dan Asia.
Ekonomi ekspor itu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Bali beberapa dasa warsa sampai era 1970-an.
Peristiwa heroik bersejarah terjadi tahun 1946, pemuda pejuang Buleleng menurunkan bendera Belanda Merah, Putih, Biru, dirobek Birunya, menjadi Merah Putih. Insiden bendera ini, pemuda pejuang Buleleng gugur di tempat.
Narasi pelabuhan Buleleng di atas, digabungkan dengan narasi di titik Nol kota Singaraja dan tempat wisata lukratif Pantai Lovina, lengkap dengan narasi kehidupan Sang penemu AA Pandji Tisna, Raja Buleleng terakhir, sastrawan angkatan pujangga baru, pengarang novel ternama "Sukreni Gadis Bali", dari perspektif manajemen penasaran pariwisata, jika dikelola dengan baik bisa melahirkan brand baru pariwisata bagi Buleleng.
"Narasi tentang Pelabuhan Buleleng bisa menjadi momen pembuka equity brand Buleleng," bebernya.
Keunikan dari "tourist resort" Titik Nol, Pelabuhan Tua Buleleng, Wisata Lukratif Pantai Lovina, digabungkan dengan garis pantai terpanjang di Bali 160 km, plus keunggulan kompetitif dan komparatif yang dimiliki Buleleng secara budaya dan keindahan alam, bisa melahirkan sinergi luar biasa, sehingga ekonomi Buleleng bisa "terbang" tinggi mendukung peningkatan kesejahteraan warganya.
Berbagai kegiatan digelar selama festival berlangsung, di antaranya lomba fashion show berpasangan PKK desa/kelurahan, lomba karaoke antar desa/kelurahan se-Kecamatan Buleleng, bakti sosial berupa cek kesehatan gratis, pap smear, donor darah, fun run, zumba, hingga pementasan seni budaya khas Buleleng. Selain itu, masyarakat juga dapat menikmati pameran UMKM, kuliner khas Buleleng, dan tenun endek yang ditampilkan pada stand-stand pameran.
Dalam sambutannya, Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, menyampaikan apresiasi kepada Camat Buleleng beserta seluruh jajaran dan panitia yang telah bergotong royong menyukseskan festival tersebut.
Menurutnya, festival kecamatan merupakan implementasi nyata dari visi pembangunan Kabupaten Buleleng, yakni “Terwujudnya Masyarakat Buleleng yang Mandiri, Unggul, Sejahtera, dan Berkepribadian Berlandaskan Tri Hita Karana”.
"Komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan seni dan budaya di tingkat kecamatan merupakan salah satu wujud pembangunan Buleleng yang tidak hanya dilakukan dari tingkat atas, tetapi dimulai dari desa, kelurahan, banjar, hingga masyarakat secara langsung dengan semangat kebersamaan dan keharmonisan," ucap Sutjidra.
Di akhir sambutannya, Bupati Sutjidra berharap Festival Kecamatan Buleleng Tahun 2026 dapat berjalan lancar, tertib, dan sukses, serta mampu melestarikan dan memperkuat identitas budaya lokal Buleleng sebagai bagian dari kekayaan daerah. Tradisi, seni, dan budaya yang sarat nilai filosofi diharapkan dapat menjadi penguat kemajuan daerah sejalan dengan tema “Purwaning Sastrotsawa Pragati”.
Sementara itu, Camat Buleleng, Putu Gopi Suparnaca, dalam laporannya menyampaikan bahwa tema festival memiliki makna pentingnya pemahaman dan penghayatan nilai budaya, tradisi, serta filsafat sebagai landasan dalam membangun kemajuan masyarakat.
Menurutnya, kemajuan tidak hanya diukur dari pencapaian material, tetapi juga dari kesadaran dan penghargaan terhadap warisan budaya dan spiritual.
"Melalui SingaKren Fest 2026, Kecamatan Buleleng ingin mempromosikan potensi seni, budaya, tradisi, dan produk unggulan daerah. Festival ini juga menjadi sarana pelestarian budaya lokal, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah, mempererat sinergi antara pemerintah dan masyarakat, serta mendukung pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif," ungkap Gopi Suparnaca.
Melalui Festival Kecamatan Buleleng ini diharapkan tercipta momentum untuk mempererat persatuan sekaligus mendorong peningkatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM dan pengembangan potensi budaya lokal di Kabupaten Buleleng. (GAB/WAN/002)