Denpasar (Atnews) - Dewan Harian Daerah Angkatan 45 dan GNPP Prov Bali menegaskan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 pada 20 Mei 2026 harus menjadi momentum menghidupkan kembali JSN 45: Jiwa, Semangat, dan Nilai-nilai Kejuangan 1945 di tengah derasnya disrupsi digital dan ancaman kedaulatan nir-militer.
Wakil Ketua DHD Angkatan 45 Bali Made Dharma Putra yang juga Ketua GNPP Provinsi Bali menyampaikan, tantangan kebangsaan hari ini berbeda wajah, namun esensinya sama dengan 1908 dan 1945: mempertahankan eksistensi bangsa.
Tiga Ujian Kebangkitan 2026
Pertama, disrupsi informasi. “Algoritma lebih cepat membelah daripada menyatukan. Beda pilihan politik berubah menjadi bahan bakar kebencian antarsesama anak bangsa,” ujarnya di Denpasar, Selasa (19/5/2026).
Kedua, krisis keteladanan sejarah. Generasi muda akrab dengan tren global, tetapi berjarak dengan narasi perjuangan. Padahal Bali memiliki simpul sejarah penting, dari Bangsal 1945 sebagai embrio DPRI Sunda Kecil, hingga *Puputan Margarana sebagai puncak pengorbanan.
Ketiga, invasi senyap. Judi daring, narkotika, pinjaman ilegal, dan infiltrasi ideologi transnasional menyusup melalui gawai. “Tanpa dentuman meriam, kedaulatan bisa runtuh dari dalam kamar tidur,” tegasnya.
JSN 45: Kompas dari 1945 untuk 2026
Bagi DHD Angkatan 45 Bali, dan GNPP Bali jawaban atas tantangan itu telah dititipkan para pendiri bangsa dalam JSN 45.
Jiwa 45 adalah kerelaan berkorban. Jika dulu taruhannya nyawa di medan laga, kini taruhannya adalah ego dan kenyamanan pribadi. Berani menolak hoaks meski viral, berani rugi demi tidak menjual data bangsa.
Semangat 45 adalah pantang menyerah dan percaya pada kekuatan sendiri. Keterbatasan senjata 1945 dijawab dengan bambu runcing. Ketergantungan teknologi 2026 harus dijawab dengan inovasi dan kemandirian produksi.
Nilai 45 meliputi persatuan, gotong royong, rela berkorban, pantang menyerah, dan percaya diri. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi Panca Dharma Satya dan seluruh ikrar bela negara. Ungkap Made Dharma Putra yang juga Ketua Dewan Pakar Korps Menwa Indonesia Prov Bali.
Pesan Tokoh 1908: Pendidikan dan Persatuan untuk Bangkit
DHD 45 Bali mengingatkan pesan pendiri Boedi Oetomo, dr. Wahidin Soedirohoesodo: “Ilmu pengetahuan itulah yang menjadi dasar bagi kemajuan dan kebangkitan bangsa.”
Pesan itu dikuatkan oleh dr. Soetomo:
“Kewajiban kita yang terutama ialah memajukan pengajaran dan pendidikan bagi bangsa kita, karena dengan jalan itulah kita dapat mengejar ketinggalan dan mencapai kemuliaan.”
“Biarpun kita berbeda-beda, tetapi kita satu: satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Hendaknya kita bersatu padu, tolong-menolong, dan jangan mau dipecah-belah.”
Harkitnas 2026: Dari Boedi Oetomo ke Literasi Digital
“Kebangkitan 1908 lahir dari kesadaran pendidikan. Kebangkitan 1945 lahir dari kesadaran kemerdekaan. Kebangkitan 2026 harus lahir dari kesadaran digital dan kesadaran konstitusi,” kata Wakil Ketua DHD 45 Bali.
Karena itu, DHD 45 Bali menyerukan tiga langkah reaktualisasi JSN 45:
1. Jaga Ruang Digital sebagai Medan Juang Baru. Melawan hoaks dan propaganda pemecah belah adalah bentuk bela negara abad 21. Inilah wujud memajukan pengajaran seperti amanat dr. Soetomo.
2. Rawat Simpul Sejarah sebagai Sekolah Kebangsaan. Monumen Bangsal, Margarana, dan seluruh situs perjuangan di Bali harus menjadi laboratorium Pancasila bagi generasi muda.
3. Amalkan Pancasila dalam Kebijakan dan Tindakan. Persatuan diwujudkan dengan merangkul perbedaan, seperti semangat Boedi Oetomo yang melintasi kedaerahan. Bersatu padu, tolong-menolong, jangan mau dipecah-belah.
Penutup: Bangkit Itu Tindakan
Pesan Bung Karno dalam Jas Merah tetap relevan: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Harkitnas 2026 adalah alarm. Tanpa kebangkitan kesadaran kolektif hari ini, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi dokumen di atas kertas.
Seperti kata dr. Soetomo, jalan menuju kemuliaan adalah pendidikan dan persatuan. Tugas kita: memastikan jalan itu tidak terputus oleh hoaks, polarisasi, dan lupa sejarah.
Beda pilihan boleh, beda bendera jangan. Merah Putih cuma satu.
Beda generasi boleh, lupa JSN 45 jangan. Pancasila cuma satu.
Merdeka! (KRS/002)