Media massa memberitakan tentang kematian satu orang warga kita di Ketapang, Kalimantan Barat akibat Hantavirus. Tentu kita berduka cita, dan setidaknya ada tiga hal yang dapat kita analisa untuk selanjutnya.
Pertama, akan baik kalau dijelaskan bagaimana perjalanan penyakit pada kasus yang meninggal di Ketapang ini, apakah memang ada ada gejala demam berdarah dan gangguan ginjal yang kita kenal sebagai “Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)”, atau ada situasi medik yang lain, sehingga pemahaman kita dapat jadi lebih utuh.
Kita ketahui bahwa laporan WHO juga selalu menjelaskan secara cukup rinci bagaimana perkembangan klinik pasien Hantavirus yang ada di kapal pesiar MV Hondius yang jadi pemberitaan dunia hingga kini.
Ke dua, akan baik kalau disampaikan juga tentang strain atau jenis Hantavirus apa yang menyerang warga kita di Pontianak itu. Sejauh ini sudah ada tiga strain yang pernah ditemukan di negara kita. Ke satu, Laman Kementerian Kesehatan 11 Mei 2026 menuliskan bahwa kasus yang terkonfirmasi di Indonesia berhubungan dengan strain “Seoul Virus”.
Ke dua, juga ada jenis/strain Hantavirus yang lain yaitu “Serang Virus”, sebagaimana tulisan ilmiah berjudul “A Review of Hantavirus Research in Indonesia: Prevalence in Humans and Rodents, and the Discovery of Serang Virus” di Jurnal Ilmiah Internasional Viruses tahun 2019.
Ke tiga, di Semarang juga sudah pernah ditemukan antibodi IgM terharap jenis/strain lain lagi, Puumala Hantavirus. Tegasnya, tentu akan baik kalau ada penjelasan hasil analisa genomik tentang kasus di Pontianak ini, apakah memang “Seoul Virus” atau barangkali jenis yang lain lagi.
Ke tiga, media massa menulis bahwa Kepala Dinas Kesehatan Ketapang menyatakan hasil pemeriksaan terhadap warga di sekitar lokasi tidak ditemukan adanya kasus positif lainnya. Nah, karena Hantavirus menular dari tikus maka sebaiknya analisa tidak hanya dilakukan pada warga disekitar pasien tetapi juga pada tikus dan lingkungan sekitarnya.
Penelitian yang lalu antara lain dilakukan di Jawa Tengah yang memeriksa 234 ekor tikus, terdiri dari 4 genus dan 10 spesies. Jumlah tikus positif serologi terhadap Hantavirus sejumlah 32 ekor dari 234 ekor yang diperiksa (13,68%). Juga di NTT pernah ditemukan serologi hantavirus pada tikus R. Tanezumi.
Pemeriksaan dan penangann pada manusia dan juga hewan dan lingkungan adalah konsep dasar Satu Kesehatan (“One Health”) yaitu kerja bersama kesehatan manusia, kesehatan hewan dan kesehatan lingkungan, suatu program yang harus di implementasikan di negara kita.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025