Oleh Jro Gde Sudibya
Betul rakyat di Desa tidak pakai dolar, tetapi sebagian pangan kita sebut saja: gandum, kedelai, Slsapi potong dan banyak lagi komoditas pangan lainnya diimpor dengan dolar AS.
Penurunan nilai Rupiah akan menaikkan harga pangan dalam negeri. Dari analisis statistik, kenaikan inflasi produk pangan mendorong pertambahan jumlah orang miskin.
Produk manufaktur kita, komponen impornya tinggi, berupa bahan baku, bahan penolong, teknologi sehingga penurunan nilai rupiah menaikkan inflasi produk manufaktur.
Mengganggu ekonomi ekspor, sebagian komoditas ekspor berbahan baku produk impor.
Industri pharmasi kita, bahan baku, peralatan dan teknologinya sekitar 75 persen dari China dan India.
Konsekuensinya akan menaikkan harga obat dalam negeri.
Penurunan nilai rupiah akan mendorong inflasi dengan dua kategori. biaya menaikkan harga (cost push inflation), psikologi inflasi, inflasi akibat tekanan psikologi publik, misalnya terjadi "panic buying".
Dalam sejarah kontemporer negeri ini, turun tajamnya nilai Rupiah tahun 1966, inflasi mencapai 650 persen, membawa akibat Presiden Soekarno dicabut manfaatnya oleh MPRS Januari 1967.
Turun tajamnya nilai Rupiah bulan Juni 1998 Rp.16,650, sebelumnya diikuti oleh pernyataan berhenti Presiden Soekarno 21 Mei 1998.
*) Jro Gde Sudibya, ekonom, pengamat ekonomi.