Oleh Prof. Dr. IB Raka Suardana, SE.,MM
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak memakai dolar secara langsung memang dapat dipahami dalam konteks transaksi sehari-hari. Masyarakat desa berbelanja menggunakan rupiah, menerima pendapatan dalam rupiah, dan beraktivitas ekonomi dengan mata uang nasional.
Namun dalam perspektif ekonomi makro, penguatan dolar Amerika Serikat dan melemahnya rupiah tetap memberikan dampak besar terhadap kehidupan masyarakat desa, meskipun pengaruhnya bersifat tidak langsung.
Ekonomi desa saat ini sudah terhubung dengan sistem perdagangan nasional dan global. Banyak barang kebutuhan masyarakat desa bergantung pada bahan baku impor atau dipengaruhi harga internasional yang menggunakan dolar Amerika Serikat sebagai acuan transaksi. Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya impor meningkat sehingga harga barang di pasar domestik ikut naik.
Dampaknya kemudian terasa hingga ke warung kecil dan pasar tradisional di desa. Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah pernah bergerak melewati Rp17.500 per dolar AS. Kondisi tersebut memberi tekanan terhadap inflasi, khususnya pada sektor pangan, energi, dan distribusi barang.
Bank Indonesia dan pelaku pasar berkali-kali mengingatkan bahwa pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor dan biaya produksi nasional. Masyarakat desa menjadi kelompok yang cukup rentan karena pendapatan mereka cenderung tetap, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan.
Contoh produk yang beredar di desa dan terdampak penguatan dolar sangat banyak.
Harga pupuk non-subsidi meningkat karena bahan baku industri pupuk sebagian masih bergantung pada impor. Pakan ternak dan pakan ikan mengalami kenaikan akibat tingginya harga soybean meal dan bahan campuran impor lainnya. Harga pestisida, obat-obatan, serta alat pertanian seperti mesin pompa air dan traktor juga ikut terdampak karena banyak menggunakan komponen impor.
Selain itu, masyarakat desa juga merasakan kenaikan harga barang konsumsi harian. Mi instan, roti, dan produk makanan berbahan gandum terdampak karena Indonesia masih mengimpor gandum dalam jumlah besar. Telepon genggam, suku cadang sepeda motor, LPG, hingga peralatan elektronik rumah tangga ikut mengalami kenaikan harga akibat pelemahan rupiah terhadap dolar.
Dampak negatif lainnya adalah naiknya biaya distribusi dan transportasi. Ketika harga energi dan logistik meningkat, pedagang di desa menaikkan harga jual barang untuk menjaga keuntungan usaha. Petani dan nelayan menghadapi situasi yang lebih berat karena biaya operasional meningkat, sementara harga hasil produksi mereka sering tidak naik secara proporsional. Kondisi tersebut menyebabkan daya beli masyarakat desa menurun dan konsumsi rumah tangga melemah.
Secara ekonomi, masyarakat desa memang tidak menyimpan dolar atau bertransaksi menggunakan mata uang asing. Namun mereka tetap terdampak oleh kekuatan dolar melalui mekanisme harga barang, biaya produksi, dan distribusi ekonomi nasional. Oleh sebab itu, penguatan dolar bukan hanya persoalan pasar keuangan atau kota besar, melainkan juga persoalan kesejahteraan masyarakat desa di Indonesia.
*) Prof. Dr. IB Raka Suardana, SE.,MM Guru Besar FEB Undiknas Denpasar