Simak Kepemimpinan PM Narendra Modi VS Bali di Era Konflik Peradaban
Simak Kepemimpinan PM Narendra Modi VS Bali di Era Konflik Peradaban
Admin -
atnews
2026-05-15
Bagikan :
Jro Gde Sudibya (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Intelektual Hindu Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Kecenderungan Masa Depan mengatakan, Prof. Samuel Huntington dari Universitas Harvard dalam bukunya yang melegenda "Conflicts Civilisation and Remaking Word Order" menyampaikan thesis peradaban manusia di era global ditandai oleh konflik peradaban berbasis SARA.
Huntington membaginya dalam 9 peradaban, menyebut beberapa: Barat (representasi dari umat beragama Katolik dan Kristen), Islam, Hindu, Sinic Culture, masyarakat dengan "sentuhan" budaya China, Huntington memasukkan China, Taiwan, Korea Selatan, Jepang.
Dan peradaban lain yang berhubungan dengan masyarakat Afrika dan Amerika Latin.
Jika menyimak manifestasi politik Bharatiya Janata Party (BJP), partai dengan Ketua Umum Nasional (Presiden) BJP Nitin Nabin yang didukung penuh Perdana Menteri India Narendra Modi, tampak nyata pilihan politik yang membela umat Hindu.
Berbeda dengan partai Kongres yang memilih jalan yang lebih moderate. India dengan jumlah penduduk 1,46 Miliar lebih, terbesar di dunia, mayoritas Hindu, sudah tentu selalu menjadi perhatian di dunia global dari perspektif konflik peradaban Huntington.
Di samping kinerja ekonomi, industri, teknologi yang tergolong moncer di dunia.
"Produksi pangan India mengagumkan, India pemegang pasokan pangan dunia terbesar, bisa menjadi alat politik jika terjadi krisis pangan global," kata Jro Gde Sudibya yang juga Alumni FE UI di Denpasar, Jumat (15/5).
Pengamat Barat menyebut PM Modi sebagai fundamentalime Hindu, dengan campuran rasa curiga dan juga khawatir.
Menurut pengamat Barat, jika fundamentalisme India Hindu dengan garis politik keras China, gabungan penduduk dua negara berjumlah 2,7 Miliar, bisa mengguncang dunia dari perspektif konflik peradaban.
Diperkirakan akan merubah secara drastis postur kekuatan politik dunia.
Dengan adanya Perang Amerika Serikat (AS)/Israel versus Iran dalam perspektif Huntington adalah perang peradaban Barat - Islam.
Bagaimana pemimpin Hindu Indonesia, khususnya Bali merespons fenomena konflik peradaban ala Prof.Huntington?
Tidak jelas dan bahkan "gabeng", umat Hindu di Bali bukannya dilindungi, bahkan dipecah untuk politisasi kekuasaan.
Politik elektoral, tidak memperkuat umat Hindu, tetapi kesannya dalam ungkapan sesonggan Bali "nyunjung satru ngutang roang". Kalah jauh dari strategi politik dan gaya kepemimpinan Narendra Modi.
Pemimpin Hindu di Bali dengan alasan kekuasaan tidak perlu menghalangi Sanatana Dharma secara membabi buta, bisa merujuk kekaguman dari sastrawan ternama R Tagore ketika mengunjungi Bali tahun 1927. Tagore berucap : “Saya menemukan India di mana-mana tetapi saya tidak lagi mengenalnya". Pengakuan dan kekaguman Tagore terhadap inovasi kebudayaan masyarakat Bali dalam menafsirkan dan melakoni Agama Hindu. Secara terpisah, Ketua Umum (Ketum) Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Gede Pasek Suardika mengutip Julius Caesar, politisi dan pemimpin militer, “Jika kau ingin menguasai rakyat, buat emreka sibuk saling membenci”.
Jika ada yang memproduksi potensi konflik sosial dengan isu-isu sensitif agar rakyatnya terpecah belah, percayalah itu memang sengaja diproduksi kekuasaan.
Biasanya penguasa yang gagal tuntaskan kewajiban untuk melayani rakyat, menuntaskan fasilitas pelayanan publik, munculnya permasalahan tanpa tertuntaskan, kebijakan koruptif nya tidak terpantau maka rakyatnya sengaja dibuat sibuk urusan lain untuk saling membenci. Dan kaum yang kritis pasti dicap sebagai bagian dari agen, pro, atau istilah lain di satu pihak yang sengaja dimarginalkan.
Itu memang ada ilmu politiknya. Kalau dalam dunia ilmu kebatinan di Bali disebut ilmu Pengiwa.
"Bagaimana penguasa di daerahmu? Adakah memproduksi isu untuk membelah masyarakatnya agar dibuat berkonflik? Maka itu bisa dibaca juga dengan jernih jika penguasa tersebut gagal memimpin tetapi ingin tidak ketahuan gagal memimpin, sehingga masyarakatnya dibelah, organisasi tertentu dibelah, dibuat masyarakat riuh sendiri dalam konflik antar mereka," tanyanya.
Itu artinya Penguasa didaerahmu memiliki Ilmu Pengiwa politik..!. (GAB/001)