Oleh Jro Gde Sudibya
Belum genap 2 (dua) minggu jalan amblas di dekat Pasar Bajera Tabanan, yang mengakibatkan jalur transportasi Gilimanuk – Denpasar lumpuh total, kemarin menyusul ribuan ikan mati di Danau Batur akibat semburan gas belerang dari dasar danau.
Masalah kemacetan telah menjadi pemandangan rutin setiap hari di Bali Selatan. Sementara tumpukan sampah sejak bertahun-tahun menggunung di kawasan Suwung Denpasar Selatan sampai saat ini belum juga ada solusi. Apa jadinya jika pada 25 Agustus 2025 nanti, TPA Suwung benar-benar ditutup?
Berikut ini, mungkin juga boleh disebut musibah, boleh tidak. Turis ramai datang ke Bali, anehnya hotel-hotel justru sepi. Banyak yang bilang, puluhan ribu turis menginap di villa-villa illegal yang tak bayar pajak.
Diakui atau tidak, kasus-kasus seperti ini pasti membuat kecolongan bagi Kabupaten Badung atau daerah lain di Bali. Harusnya ada aksi nyata dan tegas untuk mengatasi hal ini.
Mirisnya lagi, turis dengan leluasa berbisnis di Bali merampas peluang penduduk lokal. Bisnisnya beragam, mulai dari kontrak-mengontrak rumah/villa, spa, rental kendaraan bermotor, restoran, money changer, laundry, dan seterusnya. Konsumennya umumnya di antara sesama bule, bahkan orang lokal atau wisatawan domestik.
Turis di Bali, tak hanya berbisnis, juga sudah terbiasa bikin ulah dan masalah di jalan raya. Belum lama ini, ada turis merampas kendaraan penduduk lokal. Belum terhitung jumlah turis ugal-ugalan di jalan raya, berkelahi dengan penduduk lokal atau sesama bule. Yang menggelikan, beredar video pasangan turis laki-perempuan main “kuda-kudaan” di pantai di siang hari tertangkap kamera semeton Bali yang sedang memancing ikan. Memang aneh-aneh tingkah laku turis di Bali.
Yang lebih heboh lagi, di Canggu, orang asing membuat pabrik Narkoba. Hebat sekali. Anehnya, kok sampai tak diketahui oleh kelian banjar, desa adat atau pejabat setempat. Untung ada media yang memuat, hingga bikin hebos jagat Bali. Belum jelas, bagaimana “nasib” pabrik Narkoba itu.
Hampir bersamaan dengan Kasus Pabrik narkoba di Canggu, viral di media sosial, dibangun sebuah kampung Rusia di Payangan, Gianyar dan malah sudah mulai dihuni. Kasus ini sempat bikin heboh jagat Bali. Konon, ada khabar kampung Rusia itu sudah ditutup (sementara atau diam-diam beroperasi).
Juga soal kampung bule, ada info beberapa hari lalu, ada kawasan Kampung Bule (mungkin Rusia atau campuran) sedang dibangun di Pantai Nyanyi, Tabanan. Yang ini mungkin belum viral. Jika pemimpin seolah tak tahu-menahu, kok bisa ?
Lain lagi, viral di media sosial, foto kasus turis domestik dan asing naik dan duduk di atas Palinggih/tempat suci umat Hindu, telah berulang kali terjadi. Semeton Bali harus melakukan upacara pembersihan, prayascita durmanggala, palinggih yang dinaiki turis.
Kasus penistaan Hari Raya Nyepi tahun 2023 di Desa Sumberklampok oleh 2 oknum umat Islam sempat meramaikan jagat maya. Hingga berlangsung 2 (dua) tahun, atas tekanan sejumlah elemen Hindu, akhirnya kasus itu berujung di meja hijau dengan putusan penjara selama 4 (empat) bulan terhadap 2 oknum pelaku yang terbukti sah dan meyakinkan membuka portal tepat di Hari Nyepi sehingga menodai kekhusyukan umat Hindu merayakan Nyepi.
Paling anyar, jagat media social viral video Ketua MDA Bali I Dewa Ngurah Swastha (Ida Penglingsir Putra Sukahet alias Ratu Sukahet) marah-marah dengan menggunakan Bahasa Indonesia kepada Prajuru Desa Adat Selat, Kecamatan Susut Bangli yang berbicara sopan dengan bahasa Bali halus, gegara pemilihan Bendesa Adat Selat.
Netizen ramai-ramai membully Ketua MDA Bali dengan kalimat-kalimat yang tak sedap dibaca. Tak hanya menyayangkan nada bicara Ketua MDA yang dinilai netizen kurang sopan menyebut lawan bicaranya sebagai “kalian” dan menyebut diri sebagai “Ratu”, silang pendapat netizen sedang hangat-hangatnya soal keberadaan MDA yang oleh sebagian kalangan telah dinilai mengintervensi desa adat.
Walau telah beredar rilis klarifikasi dari MDA Bali yang ditandatangani oleh Penyarikan Agung, namun diskusi soal posisi Ketua MDA terus berlangsung.
Bali oh Baliku. Dulu, namamu harum dengan julukan Pulau Dewata, Pulau Surga, The Island of Paradise dan seterusnya. Tapi kini, namamu dirusak (cemer) oleh ulah orang-orang yang berperilaku aneh-aneh, hingga melanggar norma dan tata susila.
Walau telah dilakukan berbagai upaya, toch musibah demi musibah belum juga berhenti di Bali. Untuk memohon kepada Tuhan dan penguasa alam semesta, seminggu lalu, sejumlah pegiat spiritual, sosial dan lingkungan, harus menggelar upacara Pattidana dan Pemarisuda Jagat di Pura Pelantikan Siti Inggil, Desa Kubutambahan, Buleleng. Konon, ini adalah upaya terakhir setelah beberapa upaya dilakukan agar Bali kembali damai, tenang, nyaman dan aman bagi setiap orang. Semoga ! (Sri Dharma Kerthi).
Dari perspektif induktif, empiris, itulah realitas sosial yang sedang dihadapi Bali. Puncak-puncak gunung es, yang membuat masa depan Bali semakin suram, akibat dari: keselamatan Bali terancam, dari sisi lingkungan alam, kualitas manusia dan keajegan kultural. Bagaimana ini bisa terjadi?.
Dari perspektif deduktif ada persoalan serius di Hulu, menyebut saja, kawasan hutama Bali, Besakih, Lempuyang, Batur, dengan sistem keyakinan Tuhan (yang melekat) semakin tercermar. Kepemimpinan formal dan non formal, semakin kehilangan "taksu"nya, tidak lagi menjadi suri teladan, "batu penjuru" - tetuek kayun" krama dalam berperilaku.
Sebagian masyarakat mengalami stres dan bahkan jauh lebih parah, akibat "ius gumi" Peteng Pitu.
Nyaris tidak ada lagi yang peduli, karena semua "ngurusi" ahamkara, atau "bertempur" habis-habisan melawan musuh dalam diri, yang kemudian dimenangkan oleh "musuh". Jaga satru diwacanakan, bahkan dalam simboll upakara, tetapi kita gagal mengendalikannya.Spiritualitas diwacanakan sebagai "lips service", tetapi gagal dalam melakukan transformasi diri menuju pencerahan.
Jangan-jangan "psedeau sprituality", sebatas pelarian kehidupan karena gagal dalam perjuangan keras kehidupan?.
Lembaga keumatan gagal menjalankan misinya, bahkan menjadi ajang perselihan baru tanpa henti, dan lupa akan swadharma pelayanan. Memprihatinkan. (*)