Denpasar (Atnews) - Anggota DPD RI Made Mangku Pastika mengunjungi LPD Kesiman yang sudah berumur 31 tahun, kini telah bertransformasi melalui program LPD Digital sehingga mampu memberikan pelayanan setara bank.
Hal tersebut untuk menjawab tuntutan zaman dengan perkembangan teknologi tidak perlu ragu mengakses transaksi atau kebutuhan dana mereka lewat LPD.
Khusus di LPD Kesiman, banyak inovasi digital yang sudah dilakukan antara lain aplikasi core banking, SMS banking, Mesin ATM, hingga aplikasi QRIS, nasabah sudah sangat dimudahkan, cukup akses lewat smartphone sudah bisa lakukan berbagai transaksi termasuk transfer antar bank.
Melalui program QRIS yang bekerja sama dengan Bank BPD Bali proses transaksi non-tunai bisa dilakukan di setiap mercent yang ada di seluruh wilayah Desa Adat Kesiman.
Begitu juga, LPD Kesiman juga melayani Samsat untuk PKB, bahkan jumlah transaksi tertinggi di Bali.
Desa Adat Kesumat terdiri dari 32 banjar, sebanyak 5.000 kepala keluarga dengan total 20.000 jiwa, sekitar 14.000 orang lebih, sebagai nasabah penabung. 2.800 orang lebih diantaranya sebagai nasabah kredit dan sekitar 3.000 lebih sebagai deposan.
Diantara seluruh nasabah tersebut jumlah kaum milenial mencapai ribuan nasabah sehingga pangsa pasar LPD kedepan dinilai sangat besar lewat digitalisasi yang sudah dilakukan.
"Untuk itu, kehadiran LPD amat penting dalam menjaga adat Bali. LPD milik Desa Adat menjaga roh pembangunan sekala dan niskala," kata Mangku Pastika ketika Reses DPD yang mengangkat topik "Peran LPD dalam Membangun Perekonomian Krama Desa Adat" di Denpasar, Kamis (13/10).
Ia juga akan mengunjungi semua LPD di Bali baik yang sudah maju maupun mati suri. Belakangan ini ada sejumlah LPD masih menghadapi proses hukum.
Mengingat persaingan yang makin ketat, tantangan yang dihadapi LPD juga besar di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat.
“Jadi perjuangan menjaga LPD ini sangat berat. Oleh karena itu harus dipelihara dengan roh-nya sekala-niskala. Jangan keluar dari roh ini, sebab begitu kita keluar, resikonya akan besar,” ungkap Mangku Pastika.
LPD di Bali sudah memiliki aset mencapai Rp23 Triliun lebih. Besarnya aset itu dinilai membantu pemerintah dalam menggerakkan perekonomian masyarakat.
Maka dari itu, diharapkan LPD di Bali bersatu menjaga warisan yang adi luhung dari Gubernur Bali yang dirintis oleh Prof. IB Mantra.
Namun, LPD bisa menjadi solusi untuk menyelamatkan aset para pengusaha Bali yang terancam hilang akibat dampak pandemi seiring berakhirnya masa relaksasi restrukturisasi kredit perbankan pada Maret 2023.
Anggota Komite 4 DPD ini tidak ingin aset pengusaha Bali habis dibeli orang luar, apalagi dengan harga murah karena dilelang. Nilai total aset dari pengusaha Bali yang kreditnya macet di perbankan hingga saat ini mencapai Rp27 triliun.
Disamping, pihaknya mengusulkan pemerintah segera membentuk semacam Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Solusi seperti waktu krisis moneter tahun 1998 dibentuk BPPN. Khusus BPPN ala Bali, tidak persis sama dengan yang dulu.
Sementara itu, Kepala LPD Desa Adat Kesiman I Wayan Artana mengeharapkan, pembinaan LPD dari LP LPD agar ditingkatkan.
Upaya itu agar LPD di Bali selamat dan makin berkembang. Meskipun sempat terkendala karena adanya pandemi.
"Memang pembinaan yang diterima masih perlu ditingkatkan, khususnya dari LP LPD. pendampingan itu sangat penting agar LPD tetap sesuai aturan," ujarnya.
Artana pun mengungkapkan dampak dan keunggulan apabila adanya perubahan terhadap nama LPD, disamping diperlukannya lembaga sebagai penjamin simpanan agar para nasabah merasa aman.
Begitu juga, LPD agar tetap menjadi lembaga yang tidak kena pajak, karena sebagai ciri khas daerah dalam membantu melestarikan adat dan budaya Bali.
"Semoga masukan itu ada tindak lanjutnya, Untuk menjawab kekhawatiran LPD se- Bali bisa tetap eksis sepanjng ada desa adat," imbuhnya.
LPD Kesiman target memiliki laba Rp 7,6 Miliar tahun2022, baru tercapai Rp5,9 Miliar hingaa september. Sebelumnya, tahun 2021 memperoleh laba Rp6,3 Miliar. Sedangkan tahun 2023, pihaknya targetkan laba mencapai Rp8 Miliar lebih. (GAB/ART/001)