Banner Bawah

Mangku Pastika Dorong Bali Kolaborasi Perikanan Budidaya dan Pariwisata 

Atmadja - atnews

2021-02-27
Bagikan :
Dokumentasi dari - Mangku Pastika Dorong Bali Kolaborasi Perikanan Budidaya dan Pariwisata 
Slider 1

Denpasar (Atnews) -  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rebound untuk mewujudkan lembaga berkinerja lebih baik dengan mengedepankan keberlanjutan (sustainable) tahun 2021-2024.
Perubahan paradigma pembangunan perikanan budidaya dari peningkatan produksi menjadi berorientasi pada “Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Budidaya Berkelanjutan” dengan mempertimbangkan potensi daya dukung lingkungan, ekonomi dan sosial di Wilayah Pengelolaan Perikanan Budidaya.
Oleh karena PDB perikanan budidaya nasional tahun 2015-2019 menunjukkan pertumbuhan 8,12% per tahun, dari Rp. 102,4 T menjadi Rp. 139,5 T.
Share PDB perikanan budidaya terhadap total PDB Perikanan Nasional tahun 2015-2019 meningkat dari 50,2% menjadi 55,3%.
Hal itu Dir. Produksi dan Usaha Direktorat Jenderal Balai Pembibitan KKP Ir. Andy Arik Wibowo, MSi ketika reses Anggota DPD Bali Made Mangku Pastika ketika reses melalui vidcon di Denpasar, Jumat (26/2).
Reses yang dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja dengan tema “Membangun Usaha Perikanan Budidaya sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat Bali dalam Era Pandemi”
Pada kesempatan itu, hadir Kepala Balai Pembenihan Budi Daya Air Tawar Mandiangin (BPBATM) KKP Andy Artha Donny Oktopura, ST, MT., M.Eng, Pendamping Teknologi Bioflok KKP Wilayah Bali Khairul Anwar, SPI, MSi.
Dikatakan, Pada tahun 2018, Indonesia adalah negara produsen perikanan budidaya terbesar kedua di dunia, dengan volume 15,7 juta ton (rumput laut 10,1 juta ton dan ikan 5,6 juta ton). Produsen terbesar pertama adalah China (66 juta ton), sementara urutan ketiga dan keempat adalah India (7 juta ton) dan Vietnam (4,1 juta ton).
Bahkan FAO memproyeksi bahwa 4 produsen terbesar dunia untuk ikan hasil budidaya tahun 2030 adalah China (60,4 juta ton), India (10 juta ton), Indonesia (7,7 juta ton), dan Vietnam (6 juta ton).
Peningkatan produksi ikan China dari tahun 2018 ke 2030 diprediksi hanya 27%, sedangkan negara Asia lain diproyeksikan naik 42-45%, dan peningkatan rata-rata dunia 32%.
Proyeksi kenaikan produksi dari 2018 ke 2030 yakni China 27%, India 42%, Indonesia 42%, Vietnam 45%, rata-rata Dunia 32%.
Apabila ditinjau dari volume produksi perikanan budidaya didominasi oleh rumput laut 64%, diikuti oleh ikan air tawar 22%, ikan air payau 13% dan ikan laut 1%.
Dilihat dari nilai produksi, kan air tawar dan ikan air payau memiliki share tertinggi, masing-masing 45%, sedangkan rumput laut hanya berkontribusi 8% dan ikan laut 2%.
Dilihat dari volume produksi, Nila adalah komoditas dengan kontribusi tertinggi sebesar 22% dari total volume ikan, diikuti oleh Lele (18%), Udang (17%), Bandeng (13%), Mas (9%), dan Ikan Laut (2%).
Sedangkan dilihat dari nilai produksi, Udang berkontribusi 32% dari total nilai produksi ikan, diikuti oleh Nila (17%), Lele (12%), Bandeng (12%), Mas (9%), dan Ikan Laut (2%).
Pada periode 2015-2019, peningkatan jumlah pembudidaya ikan linear dengan peningkatan pendapatan pembudidaya, 4,5% per tahun.
Hal ini mengindikasikan perbaikan kesejahteraan sektor ini dapat menarik minat pelaku usaha baru untuk berbudidaya ikan.  
Untuk itu, pembangunan ekonomi perikanan budidaya di suatu kawasan yang berbasis komoditas unggulan yang dilaksanakan dengan mensinergikan berbagai potensi untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha perikanan budidaya yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Serta digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah, sehingga mampu menjamin produksi yang kontinyu dan terjadwal.
Kawasan-kawasan potensial yang menjadi sentra produksi komoditas unggulan perikanan budidaya dengan tingkat produksi, produktivitas, dan kualitas tinggi sesuai permintaan pasar melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.
Dengan demikian, pihaknya mengembangkan teknologi kolam bundar dengan pemanfaatan teknologi berbasis industri 4.0  (automatic feeder, water quality monitoring,  nanobubble) yang dilengkapi aplikasi budidaya berbasis data (smart farming).
Di masing-masing lokasi pengembangan,   20 orang Millenia akan di training selama 3 siklus untuk disebar menjadi entaerpreneur di berbagai daerah, diameter kolam 20 m ketinggian 1,5 m dengan kepadatan tebar 200 ekor/meter persegi.
Inovasi teknologi perikanan budidaya untuk meningkatkan nilai tambah. Kegiatan perikanan budidaya harus ramah lingkungan dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan
Keterlibatan stakeholder perikanan budidaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi pelaku usaha
Pengembangan komoditas unggulan perikanan budidaya yang berorientasi pada permintaan pasar.
Kolaborasi perikanan budidaya dan pariwisata
(alternatif peluang usaha). Upaya itu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, ketahanan pangan.
Aktivitas akuakuktur  dengan wisata yakni Wisata kuliner serba ikan, Wisata mancing ikan, Wisata edukasi belajar budidaya ikan, Wisata edukasi “konservasi” dengan ikan, Wisata berenang di “KJA”, Wisata akuakultur lainnya dan Agro Wisata Minapadi.
Sementara itu, budidaya ikan melalui sistem bioflok yang dikembangkan saat ini dinilai berhasil dalam meningkatkan produksi. Namun pemasaran masih menjadi kendala.
“Mereka gak bisa jual hasil akibat covid. Solusinya harus ada pengolahan agar nilai tambah,” ujar Kepala BPBATM KKP  Andy Artha Donny Oktopura.
Ia menambahkan ke depan penting adanya pengembangan teknologi dalam budidaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. “Jadi satu kawasan budidaya ikan bisa dikombinasi dengan sayuran bahkan padi,” tambahnya.
Terkait masalah benih, dikatakan pihaknya telah mencoba mengembangkan melalui sistem logistik benih dan induk dengan membina unit pembenihan rakyat serta memanfaatkan pembenihan yang belum optimal.
Seperti halnya UPT Pembenihan Balai Benih Ikan Sentral ( BBIS) Sangeh yang kini kondisinya memprihatinkan. “Tergantung pemerintah daerah. Kalau berkenan untuk dimanfaatkan kami siap. Seperti halnya di Tabanan sehingga bisa dikembangkan untuk pembenihan,” ujar Andy. Sedangkan Danau Batur karena terbentur kebijakan (pusat) kawasan itu harus bebas budidaya, sehingga belum bisa dikembangkan.
Di sisi lain, Andy mengaku salut dengan langkah-langkah yang dilakukan Mangku Pastika dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan potensi unggulan yang ada seperti perikanan. 
Apalagi potensi Bali sangat besar. “Ke depan dalam pengembangannya agar mengarah ke pengolahan, bukan hanya berorientasi pada produksi,” harapnya.
Sedangkan, Anggota DPD Bali Mangku Pastika mengharapkan budidaya ikan dapat menjadi destinasi wisata baru.
Namun pariwisata tetap dijadikan bonus, bukan menjadi pondasi pembangunan agar tidak terulang kembali kerapuhan ekonomi Bali seperti saat ini di tengah pandemi tumbuh negatif hingga 12 persen lebih.
Hal itu dapat menjadi implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2019. Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan yang kini tergabung dalam UU Cipta Kerja.
Ia juga mengapresiasi berbagai kreativitas warga mengingat adanya keterbatasan sumber daya. 
“Kalau tak kreatif kita akan kekurangan seperti bidang pangan. Tugas saya di DPD berhubungan dengan pertanian, lingkungan, dll. Misalnya ada Yayasan Tukad Bindu kelola Sungai Tukad Bindu yang mengembangkan ekonomi kreatif, pangan, perikanan dan menjaga lingkungan hidup sangat berguna bagi kemajuan,” ujar Mangku Pastika.
Bahkan menceritakan di awal bertugas di DPD langsung mendatangi BBIS yang kini dikelola provinsi. Tapi urusan bibit ditangani kabupaten. Sementara kabupaten belum siap. Akhirnya petani sulit mendapatkan bibit.
“Saya prihatin melihat kondisi yang ada, terkesan terbengkalai. Padahal BBI ini luas dan lengkap fasilitasnya. Sementara banyak benih didatangkan dari luar dengan harga yang cukup mahal,” jelasnya. Mangku Pastika berharap kondisi ini segera diatasi sehingga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat di tengah kondisi pandemi ini.
Bali sendiri, pada keadaan normal kebutuhan ikan lele mencapai 12 ton lele per hari, tetapi Bali baru mampu menghasilkan 5 ton per hari.
Sisanya didatangkan dari luar daerah, bisnis ikan lele dengan berbagai olahannya memiliki pangsa pasar yang besar di Bali.
Sementara itu  Pendamping Teknologi Bioflok KKP Wilayah Bali Khairul Anwar mengatakan bantuan budidaya lele dengan sistem bioflok untuk Bali sudah tersebar di 25 lokasi. Di Soongan Kintamani yang dibantu dengan bioflok hasil lebih bagus dibandingkan dengan  Keramba Jaring Apung (KJA).
Ia juga mengaku salut dengan kreativitas masyarakat Bali dalam budidaya ikan, meski diakui pasar lagi lesu. Untuk itu, warga diharapkan bisa melakukan pengolahan hasil. “Di Jembrana, lele diolah sehingga harganya bagus dan pasarnya makin luas,” jelas Khairul. (ART)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Koster: Laporkan Jika Ada Oknum Minta Uang Mengatasnamakan Pimpinan

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng