Pesan Edukatif Di Balik Corona 
Banner Bawah

Pesan Edukatif Di Balik Corona 

Artaya - atnews

2020-04-21
Bagikan :
Dokumentasi dari - Pesan Edukatif Di Balik Corona 
Slider 1
Oleh Romi Sudhita 

Orang Bali bilang “berseliweran” di timur, barat, utara, dan di selatan. Apanya, dan tentang apa ? Apalagi kalau bukan informasi Virus Corona yang simpang siur itu. 
Tapi syukur ada penjelasan resmi dari pemerintah yang patut dijadikan sandaran dan layak dipercaya. Info dari pemerintah berkait antisipasi atau cara pencegahan mengenai virus tersebut ada empat  hal. 
Pertama, jaga jarak, menyusul hindari tempat-tempat ramai, di rumah saja kecuali ada keperluan yang sangat urgen, dan rajin-rajin cuci tangan menggunakan sabun. Itu yang bisa penulis tangkap. Sederhana bukan ? Namun demikian proses ikutan atau dampak pengiringnya yang rada kompleks. 
Tidak jarang pula ada yang bersikap remeh, dengan berujar “di mana pun kita berada dan apapun yang kita lakukan, kalau yang di atas (Tuhan) menghendaki, kita tak bisa mngelak.” Tentu saja ujaran yang terakhir ini tak perlu direkomendasi mengingat pesan yang terkandung didalamnya mengarah pada pengecilan arti serta makna yang disampaikan pemerintah. 
Persoalan imbauan untuk mengambil jarak (minimal satu meter) dengan orang-orang disekitarnya tampaknya tak begitu sulit untuk dilakukan. 
Paling-paling terasa agak kurang biasa bagi yang sering berdekatan atau bersalaman langsung. Fakta menyebutkan,  masih banyak kita temui orang-orang yang mengambil jarak kurang dari satu meter. Contoh, ketika orang itu berbelanja di toko atau kakak beradik yang lagi boncengan, dan masih ada contoh yang lain. Bagi yang doyan “meceki” (sejenis judi menggunakan kartu ceki) jelas akan berpikir sepuluh kali jika hal itu tetap dilakukannya. 
Bagaimanapun, mereka yang berjudi ceki itu berada dalam keadaan sangat berdekatan/merapat di antara lima orang sebagai pemainnya. 

Buah Simalakama
Dianjurkan agar jangan berada di tempat ramai, sebagai anjuran yang kedua, inipun rawan terjadi pelanggaran. Semisal orang yang lagi bertransaksi di pasar. Yang ini memang sulit dikontrol. Antara orang yang satu dengan yang lain pasti berdekatan atau berdesakan dengan keperluannya masing-masing. 
Malah, penulis mendengar ada imbauan dari gubernur agar judi sabungan ayam ditutup. Larangan atau imbauan agar tidak berada di tempat ramai akan bisa terlaksana efektif apabila pihak pemerintah bersikap tegas misalnya dengan menutup aktivitas yang membuat suasana itu ramai. Atau, memberikan sanksi yang tegas terhadap adanya kerumunan yang rentan terjadi penularan virus corona tersebut. 
Memang kondisi seperti itu ibarat buah simalakama, kalau pasar ditutup jelas roda perekonomian akan berhenti, sebaliknya jika dibiarkan tentu akan dihadapkan dengan bahaya sangat mengerikan mengingat penularan virus tersebut berlangsung sangat cepat. 
Kegiatan ilmiah seminar, lokakarya, FGD, dan lain-lain bisa dibatalkan atau ditangguhkan pelaksanaannya. 
Begitu pula kegiatan-kegiatan lain yang jauh sebelumnya sudah direncanakan lalu dibatalkan atau ditangguhkan akan membuat kerugian yang jumlahnya tidak sedikit. Katakanlah seperti agenda peringatan HUT Kota Singaraja yang ke-416 yang puncaknya 30 Maret. 
Dalam perencanaan yang tersosialisasi di berbagai media, banyak kegiatan yang hendak dilaksanakan sebagaimana peringatan-peringatan pada tahun-tahun sebelumnya. Dan, kegiatan tersebut hampir semuanya melibatkan orang banyak. 
Kalau dihitung total kerugian pasti sangat besar. Tapi apa hendak dikata, keadaan yang memaksanya. Dibandingkan dengan Virus Corona – Covid 19 mengamuk dan menelan korban jiwa yang tidak sedikit, rasanya lebih baik membatalkan semua yang sudah terencana tersebut, meski banyak orang yang merasa kecewa.

Kerja Serabutan
Lebih bagus di rumah saja mengisolasi diri secara mandiri, merupakan imbauan pemerintah yang ketiga. Tampaknya imbauan ini gampang-gampang susah diikuti, tanpa berpretensi mengecilkan arti imbauan pemerintah tersebut. Dikatakan gampang, ya pasti itu karena tinggal di rumah dengan santai masih jauh lebih baik ketimbang disuruh kerja mati-matian. 
Bangun pagi, sarapan, makan siang, dengerin siaran televisi tentang penjelasan pemerintah menyangkut virus corona, mandi, lalu tidur, dan seterusnya. Tapi bagi mereka yang memiliki kebiasaan kerja di luar rumah, suka jalan-jalan, dan sebagainya akan terasa agak “menyiksa” juga. Yang cukup membuat kita prihatin manakala ada saudara kita yang hidupnya kembang-kempis dan mengandalkan hasil kerja serabutan agar bisa menyambung hidup lalu disuruh duduk manis di rumah secara terus-menerus. 
Pertanyaan akan muncul, dari mana ia akan mendapatkan uang, apakah bisa hidup dan menghidupi keluarganya ? Barangkali inilah pertanyaan yang sangat mendasar untuk kita pikirkan, terutama dipikirkan oleh pemerintah. 
Pesan pemerintah yang terakhir dan tak kalah penting yaitu mencuci tangan sesering mungkin dengan benar menggunakan sabun. 
Tentang anjuran yang terakhir bagi sebagian orang jelas tidak masalah karena sudah dilakoni setiap harinya. Namun bagi mereka yang kurang terbiasa, menjadi PR (pekerjaan rumah) tersendiri. 
Terkadang belum mencuci tangan sudah mengambil kue atau buah sebagaimana kebiasaan yang ia lakukan saban hari sebelum ada imbauan dari pemerintah. Tapi yang namanya imbauan untuk kepentingan bersama tak ada salahnya dan harus dilakukan. Penulis berkeyakinan, sebagian terbesar penduduk Indonesia sudah melakukan ini. 

Pesan Edukatif
Kembali ke imbauan “tinggal di rumah saja” yang terkait dengan aktivitas adik-adik pelajar, mahasiswa, guru dan dosen (bidang Kependidikan) mengacu pada judul tulisan ini. Ada beberapa catatan yang perlu digarisbawahi di sini. 
Pertama, mengenai perilaku judi ceki. Sekiranya pada diri mereka (penjudi) sudah tertanam konsep pemikiran bahwa berada pada jarak dekat tidak baik demi menghambat penularan virus corona, kemungkinan hal itu akan terjadi secara berkelanjutan. 
Artinya, mereka merasa tidak baik jika berjudi ceki. Nah, di situlah letak unsur pedagosisnya atau edukatifnya, dalam arti berkat virus corona mereka jadi “ogah” main ceki lagi. Kedua, aktivitas berbelanja ke pasar tradisional bisa jadi akan tergantikan dengan pola hidup menggunakan jasa ojek online (Ojol), di mana orang bersangkutan bisa memesan makanan atau minuman dengan jarak yang jauh tinggal menunggu pesanan dari rumah. U
ntuk bisa seperti itu, masyarakat mau tidak mau harus belajar mengoperasikan aplikasi ponsel pintar (smartphone). Di sinilah letak unsur edukatifnya karena yang bersangkutan belajar atas kemauannya sendiri tanpa ada yang menyuruh. 
Begitu pula kegiatan rapat-rapat, seminar, FGD, lokakarya, dan lain-lain yang sekarang ini banyak dilakukan oleh para pejabat dan pemimpin di negeri ini merupakan nilai tambah tersendiri di mana sebelumnya jarang dilakukan. Jika ini sudah menjadi kebiasaan, di sinilah letak unsur edukatifnya yaitu dengan secara terus-menerus meningkatkan pengetahuan mereka dalam IT (Teknologi Informasi). 
Lalu, siswa dan mahasiswa juga demikian. Atas edaran dari pihak atasan, mereka (siswa & mahasiswa) “dirumahkan” atau tinggal di rumah selama virus corona mewabah. Hal itu dimaksudkan belajar secara online yang dipandu oleh guru atau dosennya masing-masing. Siswa mahasiswa yang tadinya gaptek (gagap teknologi) terpaksa dan harus belajar secara online. 
Menerima penjelasan dari guru/dosen dan mengerjakan tugas-tugas pun secara online yang sejatinya merupakan pesan-pesan edukatif. Pada saat itulah sudah bersemi dan terjadi peningkatan kemampuan, paling tidak penguatan kemampuan yang sudah mereka miliki. 
Apa yang mereka lakukan itu tidak melempas dari perilaku membelajarkan diri yang masih berada pada ranah edukasi atau pendidikan formal. Kendati demikian, penulis berharap keadaan dan kondisi “darurat” corona tak akan  berlangsung lama. 

Penulis, pemerhati pendidikan dan Jurnalis “Atnews”

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bulan Bahasa Bali Diawali Festival Nyurat Lontar dengan Seribu Peserta

Terpopuler

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Dhyan Foundation Gelar Yoga Kebangsaan di Monumen Perjuangan Bangsal

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

Basket di akhir Pekan, Muda dan Lansia

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali: Visionary Oasis Tri Hita Karana dalam Politik Ruang Pariwisata

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Presiden Prabowo Umumkan Serangkaian Kebijakan Perlindungan Pekerja pada May Day 2026

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas

Langkah Strategis 2026: Kementerian Pariwisata Siapkan 38 Provinsi, Keselamatan Wisata Jadi Prioritas