Jakarta (Atnews) - Memilih jurusan kuliah dan merencanakan karir bukan hal yang mudah bagi siswa SMA. Di tengah banyaknya pilihan pendidikan dan pekerjaan, guru Bimbingan dan Konseling (BK) punya peran penting dalam membantu siswa mengenali minat, bakat, dan potensi mereka, sekaligus mempertimbangkan pilihan yang sesuai dengan cita-cita mereka.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, European Higher Education Fair (EHEF) Indonesia 2026 bekerja sama dengan Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menggelar lokakarya bagi guru BK di Institut Français d’Indonésie (IFI), Jakarta.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi para guru untuk berbagi perspektif dan memperkuat pendekatan dalam mendampingi siswa merencanakan pendidikan serta karir setelah lulus SMA.
Lokakarya bertema “Pengembangan Karier Masa Depan Murid SMA dan Tantangan Guru BK Indonesia” ini diikuti oleh perwakilan dari 37 sekolah, termasuk 10 sekolah rintisan pengembangan karier murid SMA dan 27 sekolah unggulan, (2/11/26).
Sesi ini dihadiri kepala sekolah dan guru atau konselor yang mewakili Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Jakarta.
Melalui sesi mengenai tren karir masa depan dan peran guru BK dalam perencanaan studi serta karir, peserta diajak melihat bagaimana pendampingan di sekolah dapat membantu siswa mengambil keputusan yang lebih terarah.
Sepuluh sekolah rintisan juga akan mengikuti sesi khusus untuk menyusun rencana aksi pengembangan karier murid yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Dalam sambutannya, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Ditjen GTK dan Pendidikan Guru, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Dr. Arif Jamali Muis, menekankan bahwa tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan mendampingi siswa, termasuk dalam perencanaan karir dan keberlanjutan studi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Pendampingan siswa bukan hanya tanggung jawab guru BK atau wali kelas, tetapi seluruh guru di sekolah. Karena itu, kompetensi BK perlu dimiliki semua guru agar mampu mendampingi perkembangan siswa.
Sesungguhnya, guru mata pelajaran adalah yang paling tahu perkembangan anak karena mereka setiap hari bertemu murid,” ujarnya.
Kerjasama untuk Membuka Akses Pendidikan ke Luar Negeri
Dr. Arif juga mengapresiasi kerja sama dengan Kedutaan Besar Prancis dan European Higher Education Fair (EHEF) untuk membuka peluang pendidikan di luar negeri.
“Semoga kerja sama ini terus berlanjut untuk peningkatan mutu pendidikan yang ada di Indonesia,” harapnya.
Mengenalkan beragam pilihan pendidikan tinggi juga menjadi bagian dari upaya membantu siswa merencanakan masa depan.
Melalui EHEF, guru dan siswa dapat memahami lebih jauh peluang studi di Eropa, mulai dari pilihan program studi hingga informasi mengenai persyaratan masuk dan beasiswa.
Dengan akses informasi yang lebih luas, guru dapat membantu siswa mempertimbangkan jalur pendidikan yang sesuai dengan minat, bakat, dan rencana mereka.
“Setiap tahunnya, sekitar 700 mahasiswa Indonesia memilih Prancis sebagai tujuan studi, dengan komunitas alumni yang kini mencapai lebih dari 8.000 orang.
Melalui lima kantor Campus France di Indonesia, kami mendampingi mahasiswa memilih program studi yang sesuai dengan rencana mereka.
Kami juga bekerja sama dengan LPDP melalui program pendanaan bersama, termasuk sekitar 250 program magister yang sepenuhnya diajarkan dalam bahasa Inggris,” ujar Vincent Degoul, Wakil Konselor Bidang Kerja Sama dan kebudayaan, Kedutaan Prancis di Indonesia.
Untuk memberikan gambaran lebih lanjut mengenai tujuan penyelenggaraan EHEF 2026 dan manfaatnya bagi calon mahasiswa Indonesia, Ketua Tim European Union Indonesia Cooperation Facility (EUICF) Heinrich Terhorst, menjelaskan, “Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia akan kembali menggelar European Higher Education Fair (EHEF).
Memasuki penyelenggaraannya yang ke-18, EHEF akan menghadirkan 90 institusi pendidikan tinggi Eropa untuk mendekatkan calon mahasiswa Indonesia dengan berbagai pilihan studi di Eropa.
Acara ini dirancang untuk membantu calon mahasiswa memahami program pendidikan dan proses pendaftaran, sekaligus memberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan perwakilan universitas di lokasi pameran.”
Lokakarya ini menjadi bagian dari rangkaian EHEF Indonesia 2026, yang akan hadir di Yogyakarta pada 4 November di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Universitas Gadjah Mada, serta di Jakarta pada 7–8 November di Catur Dharma Hall Menara Astra.
Pameran ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Informasi dan pendaftaran tersedia di virtual.ehef.id. (Z/002)