Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama
Hari ini dengan sedih kembali kita melihat kejadian keracunan makanan yang memang masih terus berulang. Kanal Berita PemKab Kabupaten Batang, Jawa Tengah pada 24 September 2026 hari ini menuliskan Bupati Batang memastikan seluruh korban dugaan keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang mendapatkan penanganan medis secara optimal.
Kanal berita ini juga mengutip pernyataan “Jumlah korban hingga saat ini telah mencapai kisaran 300 orang. Sebelumnya, data hingga dini hari tercatat sebanyak 276 orang dan masih terus mengalami pembaruan.
Korban yang mendapatkan penanganan memiliki rentang usia yang cukup beragam, mulai dari bayi berusia 10 bulan hingga orang dewasa dan lanjut usia. Mayoritas korban mengalami sejumlah keluhan seperti mual, muntah, diare, dan lemas,”.
Selain di Kabupaten Batang maka keracunan juga terjadi di Kabupaten Cilacap. Laman Sekertariat Daerah Kabupaten Cilacap di tanggal yang sama di hari ini 24 September 2026 menurunkan berita berjudul Pemkab Cilacap Bergerak Cepat Tangani Dugaan Keracunan MBG di SMAN 1 Sampang.
Dituliskan bahwa Berdasarkan update penanganan hingga Rabu (23/9/2026) malam, jumlah siswa SMA Negeri 1 Sampang sebanyak 361 orang, dan siswa yang mengalami keluhan, penanganan dilakukan sesuai kondisi masing-masing.
Sebanyak 70 siswa mendapatkan pengobatan di sekolah oleh petugas Puskesmas Sampang, 15 siswa menjalani rawat jalan di Puskesmas Sampang, 6 siswa masih menjalani rawat inap di Puskesmas Sampang, sedangkan 19 siswa telah dirujuk ke RSUD Cilacap untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dalam upaya mencegah dan menanggulangi keracunan makanan yang dikaitkan dengan MBG ini maka baik kalau kita pelajari hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi Keamanan Pangan Global Tahunan ke-21 yang diselenggarakan beberapa hari yang lalu, 16 – 17 September 2026.
Dalam Konperensi Internasional ini dibahas setidaknya enam topik-topik penting yang patut jadi referensi kita juga, dan mungkin dapat diimplementasikan di negara kita.
Pertama adalah AI, otomatisasi, dan risiko digital dalam sistem keamanan pangan, ke dua tentang visibilitas dan risiko rantai pasokan dalam jaringan global bertingkat serta ke tiga tentang kepemimpinan keamanan pangan di era meningkatnya risiko.
Artinya, yang pertama tentang pemanfaatan teknologi digitalisasi, ke dua tentang rantai keamanan pangan yang sudah beberapa kali saya bahaas dalam konsep “from farm to plate”, dan ke tiga tentang kepemimpinan (“leadership”).
Bahasan ke empat di komperensi internasional ini adalah tentang risiko bahan kimia dan kontaminan yang muncul, ke lima tentang perubahan regulasi dalam membentuk kembali industri pangan dan ke enam mengkaji tentang tantangan operasional keamanan pangan yang masih memicu penarikan produk.
Artinya, bahasan ke empat adalah tentang berbagai kemungkinan penyebab keracunan makanan, termasuk bahan kimia dan pencemar lainnya, ke lima tentang perlunya aturan dan regulasi yang “comprehensive” -bukan hanya satu dua fase- serta ke enam tentang masalah operasional di lapangan.
Tentu ada baiknya ke enam bahasan Konperensi Intertnasional ini dijadikan salah satu bahan kajian untuk proyek MBG kita, tentu disesuaikan dengan kondisi Indonesia dengan berbagai tantantgannya.
*) Prof Tjandra Yoga Aditama Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University