Oleh dr. Bagus Ngurah Dharmasena Putera Awatara, S.Ked
Sakit perut kanan bawah sering dianggap sepele. Padahal, pada kondisi tertentu, keluhan ini bisa menjadi tanda apendisitis atau radang usus buntu yang memerlukan penanganan segera.
Sakit perut adalah keluhan yang umum. Namun, nyeri yang menetap dan terasa di perut kanan bawah perlu mendapat perhatian lebih.
Salah satu penyebab penting adalah apendisitis, yaitu peradangan pada apendiks atau usus buntu. World Society of Emergency Surgery (WSES) mencatatnya sebagai salah satu kegawatdaruratan bedah perut yang paling sering terjadi di dunia. Diagnosis yang terlambat dapat berujung komplikasi berupa pecahnya usus buntu (perforasi) dan infeksi rongga perut (peritonitis).
Nyeri Tidak Selalu Mulai di Kanan Bawah
Gejala klasik apendisitis sering kali diawali nyeri tumpul di sekitar pusar. Dalam beberapa jam, nyeri berpindah dan menetap di perut kanan bawah, tepatnya di titik McBurney.
Perpindahan nyeri ini menjadi penanda penting. Keluhan lain yang dapat menyertai adalah mual, muntah, nafsu makan menurun, demam ringan, dan nyeri yang memberat saat berjalan atau batuk.
Namun, tidak semua pasien menunjukkan gejala lengkap. Letak usus buntu yang bervariasi, faktor usia, kehamilan, hingga obesitas dapat membuat gejalanya tidak khas.
Tidak Semua Nyeri Kanan Bawah adalah Usus Buntu
Nyeri di lokasi yang sama juga bisa disebabkan batu saluran kemih, infeksi usus, atau pada perempuan terkait organ reproduksi. Karena itu, dokter tidak hanya mengandalkan lokasi nyeri.
Pemeriksaan meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik untuk mencari nyeri tekan di kanan bawah, serta pemeriksaan darah untuk melihat tanda peradangan seperti leukositosis. Dokter juga dapat menggunakan skor klinis, seperti Alvarado Score, untuk menilai kemungkinan apendisitis.
Kapan Perlu USG atau CT Scan
Pemeriksaan penunjang dipilih sesuai kondisi pasien. USG sering menjadi pilihan awal, terutama pada anak, karena cepat dan tanpa radiasi.
Jika hasil USG belum jelas sementara nyeri menetap, dokter dapat mempertimbangkan CT scan perut. Pada ibu hamil, USG atau MRI lebih diutamakan demi keamanan janin. Pemilihan pemeriksaan juga mempertimbangkan ketersediaan fasilitas.
Jangan Tunda Pemeriksaan
Peradangan yang berlanjut dapat menyebabkan usus buntu mati jaringan dan pecah. Karena itu, segera cari pertolongan medis jika nyeri perut kanan bawah semakin berat, menetap, disertai demam, mual, dan tubuh melemah.
Upaya mendiagnosis sendiri sebagai masuk angin atau maag biasa tidak dianjurkan.
Apendisitis dapat ditangani. Apendektomi atau pengangkatan usus buntu yang meradang, terutama dengan metode laparoskopi, masih menjadi terapi baku. Pada kasus tertentu tanpa komplikasi, terapi antibiotik dapat dipertimbangkan setelah evaluasi ketat oleh dokter.
Mengenali pola nyeri dan waktu yang tepat untuk berobat adalah kunci mencegah komplikasi. Jika ragu, tanyakan bukan hanya "sakit perut karena apa?", melainkan "adakah tanda yang mengharuskan saya segera diperiksa?" (*)