Oleh Krisna Andika
Angin malam berembus pelan di pelataran Monumen Perjuangan Bangsal, Taman Shiva Loka, Mengwi, Badung, Senin (21/9/2026) malam. Di bawah cahaya lampu yang temaram, sekitar 350 jamaah duduk melingkar. Lantunan Istighotsah Kubro mengalun khidmat.
Delapan puluh satu tahun lalu, di tempat yang sama, para pejuang bawah tanah Bali menggelar pertemuan rahasia. Mereka menyusun strategi untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Sejarah itu kini dijaga dalam wujud sebuah monumen kayu dua lantai yang dikenal sebagai Loteng Monumen Perjuangan Bangsal.
Malam itu, monumen tersebut kembali menjadi ruang temu antara dua kekuatan yang membentuk Indonesia: spiritualitas dan nasionalisme.
Pertemuan bertajuk "Temu Kangen dan Istighotsah Kubro" itu dimulai pukul 19.00 WITA. Acara ini digagas oleh lima komunitas yang mengusung semangat "5 Komunitas Dalam 1 Cinta, Mewujudkan Persatuan dan Kebersamaan".
Kelima komunitas itu adalah Majelis Dzikir Sabilun Najaah Tabanan, IKAWANGI Agung Wilis Mengwi, Majelis Taklim Mamba'ul Khair, Padepokan Metafisika Qulhu Geni, dan Majelis Nurussyafaah Dewata Bali binaan Hj. Halimatussa'diah.
Istighotsah dipimpin Mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, K.H. Masykur Al-Faruq, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ikhlas.
Amanah dalam Wujud Keris
Momen paling hening terjadi di puncak acara.
K.H. Masykur Al-Faruq berdiri, menggenggam sebuah keris pusaka berwarangka kayu tua. Dengan kedua tangan, ia menganugerahkan keris itu kepada Ketua Umum Monumen Perjuangan Bangsal, Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A(K). Sebuah isyarat bahwa amanah perjuangan harus dijaga dengan hati yang lurus.
Sebagai balasan, Dr. Bagus menyematkan Pin 8 Dasawarsa Monumen Perjuangan Bangsal dan menyerahkan plakat resmi monumen serta Majalah Gelora MPB Edisi Perdana kepada K.H. Masykur Al-Faruq.
Tidak ada pidato panjang. Pertukaran itu disaksikan 350 jamaah dalam diam. Hanya doa yang mengalun lebih khusyuk.
Rumah Besar Toleransi
Ada yang membuat Monumen Perjuangan Bangsal berbeda dari monumen perjuangan pada umumnya. Jiwanya inklusif.
Di kawasan ini, di atas lahan yang sama, di jaba tengah Pura Puncak berdiri simbol lima rumah ibadah yang diresmikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. , masjid, gereja Protestan, vihara, Gereja Katolik dan klenteng, berdiri berdampingan. Sebuah penanda bahwa kemerdekaan diperjuangkan oleh semua umat, dan ingatan tentangnya dirawat oleh semua umat pula.
"Ini tempat sakral. Di sinilah pusat gerakan bawah tanah untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Semangat persatuan inilah yang terus kami gelorakan, selaras dengan simbol-simbol persatuan yang diresmikan Ketua MPR di kawasan ini," ujar Dr. Bagus.
Bagi jamaah yang hadir malam itu, istighotsah bukan sekadar ritual keagamaan. Ia adalah napak tilas. Mereka berdoa di tanah yang sama tempat para pendahulu mereka bersiasat, di kawasan yang kini tumbuh menjadi ikon toleransi nasional.
Dari sebuah markas rahasia di masa revolusi, Monumen Perjuangan Bangsal telah menjelma menjadi rumah besar bagi persatuan Indonesia.
*) Krisna Andika, Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Udayana